Langsung ke konten
Senin, 7 September 2026
Headline Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026 
Nasional

Bupati Subandi Resmikan Wisata Petik Melon Hidroponik, Dorong BUMDes Kembangkan Potensi Desa

JATIMSATUNEWS.COM, SIDOARJO – Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Gapura Desa Candi Negoro, Kecamatan Wonoayu, menghadirkan inovasi wisata edukasi berbasis pertanian modern. Wisata petik melon hidroponik tersebut resmi dibuka oleh Bupati Sidoarjo H. Subandi, Sabtu (5/9/2026).

Wisata tersebut menawarkan pengalaman memetik melon hidroponik langsung dari tanaman di dalam greenhouse. Inovasi yang dikembangkan warga Desa Candi Negoro ini memanfaatkan lahan seluas 400 meter persegi.

Sebanyak 1.030 bibit melon varietas unggulan, yakni Intanon dan Sakata, dibudidayakan secara intensif dengan melibatkan para pemuda desa.Bupati Sidoarjo H. Subandi mengapresiasi inovasi yang dilakukan BUMDes Gapura.

Menurutnya, pengembangan wisata petik melon tidak hanya menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan di tingkat desa, tetapi juga dapat menjadi motor penggerak perekonomian masyarakat.

“Pemerintah Kabupaten Sidoarjo berkomitmen melakukan pengawalan dan siap mengucurkan bantuan bagi perkembangan BUMDes. Sebab, setiap desa di Sidoarjo memiliki keunikan dan potensi ekonomi yang berbeda-beda,” tegas Subandi usai melakukan pemetikan melon perdana.

Subandi mengatakan, pemanfaatan potensi lokal di masing-masing desa harus terus didorong. Tidak hanya sektor pertanian seperti cabai dan sayuran, tetapi juga perikanan hingga kuliner.Menurutnya, apabila setiap desa mampu mengelola potensi yang dimiliki secara mandiri melalui BUMDes, maka akan semakin memperkuat ketahanan ekonomi daerah.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Subandi bersama jajaran pejabat daerah berkeliling melihat langsung area greenhouse. Ia kemudian memetik dan mencicipi melon varietas Intanon yang baru dipanen. “Rasanya manis banget, beda dan lebih lezat dari melon pada umumnya,” puji Subandi.

Subandi juga menilai penerapan pertanian modern melalui greenhouse bukan sekadar menghadirkan tempat rekreasi dan edukasi, tetapi juga menjadi salah satu solusi menghadapi ancaman cuaca ekstrem yang kerap menjadi kendala petani konvensional.

Iklan

Di dalam greenhouse, suhu dan kelembapan dapat dikontrol sehingga tanaman lebih terlindungi dari serangan hama maupun curah hujan berlebih.“Kalau di sawah pas hujan sering gagal. Di sini lebih aman. Sekali tanam butuh waktu 70 hari untuk panen. Pendapatannya juga bagus, sekali panen bisa sampai Rp35 juta lebih.

Desa-desa lain yang punya lahan kosong harus meniru langkah inovatif BUMDes ini,” tegasnya. Sementara itu, Ketua BUMDes Gapura Candi Negoro, Ahmad Wildani Arifana, menjelaskan bahwa melon dipilih karena merupakan salah satu buah yang banyak digemari masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang tua.

Dalam pengelolaannya, BUMDes menerapkan konsep smart farming dengan mengintegrasikan teknologi dalam sistem pertanian hidroponik. Teknologi tersebut membantu pengelola memantau pertumbuhan tanaman secara menyeluruh, mulai dari sistem perakaran, batang, hingga perkembangan buah.

“Melalui sistem ini, pengelola tidak perlu lagi mengecek kondisi fisik tanaman secara manual setiap pagi dan sore. Pemantauan parameter krusial seperti suhu, pH air, dan kecukupan nutrisi dapat terpantau efisien melalui layar monitor,” jelas Wildani.

Menurutnya, melon yang dihasilkan melalui metode hidroponik tersebut memiliki kualitas premium. Daging buah lebih renyah, tingkat kemanisan tinggi, serta memiliki warna dan bentuk yang lebih seragam dibandingkan hasil budidaya konvensional di lahan terbuka.

Hasil panen selanjutnya dipasarkan dengan konsep wisata edukasi petik melon secara langsung. Pengunjung dapat memetik sendiri melon yang diinginkan dengan harga Rp30.000 per kilogram.Dalam sekali masa panen, produksi diperkirakan mencapai 1,5 ton dengan bobot setiap buah berkisar antara 1,2 hingga 2,6 kilogram.

Kehadiran wisata petik melon BUMDes Gapura Candi Negoro diharapkan tidak hanya menjadi destinasi wisata edukasi baru di Kabupaten Sidoarjo, tetapi juga mampu membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat desa melalui pengembangan potensi pertanian berbasis teknologi.

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.