Langsung ke konten
Senin, 31 Agustus 2026
Headline Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026 
Kolom

Muktamar NU dan Bias Keributan: Ketika Lautan Ilmu Kalah oleh Satu Potongan Video

Saiful Anam mengulas tentang Muktamar ke-35 NU yang berlangsung lima hari di Tambakberas, Jombang. Mengajak kita melihat sisi lain.

Saiful Anam (baju putih) mengulas tentang Muktamar NU dan bias keributan, ketika lautan ilmu kalah oleh potongan video./dok.istimewa

Saiful Anam (baju putih) mengulas tentang Muktamar NU dan bias keributan, ketika lautan ilmu kalah oleh potongan video./dok.istimewa

OPINI | JATIMSATUNEWS.COM: Muktamar NU dan Bias Keributan: Ketika Lautan Ilmu Kalah oleh Satu Potongan Video oleh Saiful Anam

Ada ironi dalam cara kita mengonsumsi berita hari ini: yang paling gaduh sering kali dianggap paling penting.

Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Tambakberas, Jombang, barangkali sedang mengalami ironi itu.

Di tengah pesantren yang dikenal sebagai Bahrul Ulum—lautan ilmu, berbagai forum keilmuan berlangsung.

Para ulama berdiskusi, akademisi bertukar gagasan, dokter membicarakan problematika medis, perguruan tinggi menjajaki kerja sama riset, sanad keilmuan disambungkan, dan kitab-kitab karya ulama Nusantara dipamerkan.

Tetapi semua itu seolah tenggelam oleh satu jenis berita: kericuhan.

Baca juga: Kita Ber-NU atau Menjadi NU? Mencari Alasan Baru Ke-NU-an di Abad Kedua

Melihat Wajah Muktamar ke-35 NU di Luar Jangkauan Kamera

Saya sengaja berjalan kaki mengelilingi kawasan Pondok Pesantren Tambakberas.

Bukan sekadar berjalan, tetapi mencoba melihat Muktamar dari dekat, dari ruang-ruang yang mungkin tidak masuk dalam kamera utama media.

Saya menemukan wajah Muktamar yang berbeda.

Ada Bahtsul Masail, tradisi intelektual yang menjadi salah satu kekuatan khas NU.

Forum ini tidak sekadar menjadi tempat bertukar pendapat, tetapi ruang untuk merumuskan jawaban keagamaan terhadap persoalan kehidupan.

Di dalamnya terdapat tiga majelis: Komisi Waqi’iyah, yang membahas problem fikih aktual; Komisi Maudhuiyyah, yang membahas persoalan fikih konseptual; dan Komisi Qonuniyah, yang membahas fikih dalam perspektif perundang-undangan.

Pesertanya pun tidak datang sembarangan. Ada mekanisme pendaftaran dan identitas peserta yang harus dipenuhi.

Namun, forum seperti ini tentu tidak semudah kericuhan untuk menjadi viral.

Orang berdebat mengenai fikih selama berjam-jam tidak menghasilkan gambar dramatis.

Sementara seseorang yang berteriak, sekelompok massa yang berunjuk rasa, atau suasana yang memanas dapat menjadi bahan berita dalam hitungan menit.

Di sinilah problemnya.

Realitas yang tidak sama dengan berita.

Berita bukanlah seluruh realitas. Ia adalah hasil dari proses memilih peristiwa mana yang dianggap layak diberitakan.

Masalah muncul ketika masyarakat kemudian mengira bahwa apa yang paling banyak diberitakan adalah apa yang paling banyak terjadi. Padahal belum tentu.

Satu demonstrasi dapat menjadi berita besar. Tetapi ribuan orang yang mengikuti kajian dengan tenang mungkin tidak dianggap menarik.

Satu konflik dapat memperoleh jutaan penonton. Sementara kerja sama riset antara kampus NU dan Universitas Indonesia mungkin hanya dibaca oleh kalangan tertentu.

Padahal dampak jangka panjangnya bisa jadi justru lebih besar. Inilah paradoks zaman algoritma.

Hal yang paling penting belum tentu paling viral. Dan yang paling viral belum tentu paling penting.

Muktamar NU kemudian menjadi contoh menarik bagaimana sebuah organisasi besar dibaca melalui potongan-potongan peristiwa.

Kritik Tetap Penting

Saya tidak bermaksud menutup mata terhadap persoalan yang muncul.

Jika ada pihak yang memprotes aturan pemilihan, protes itu bagian dari dinamika organisasi.

Jika terdapat keputusan yang dianggap tidak adil, ia layak dipertanyakan. Jika ada proses yang perlu diperbaiki, kritik harus disampaikan.

NU bukan organisasi yang berada di luar kritik. Justru organisasi sebesar NU harus terbuka terhadap kritik.

Namun kritik terhadap sebuah persoalan tidak semestinya berubah menjadi vonis terhadap keseluruhan organisasi. Inilah batas yang sering hilang.

Ketika seseorang mengkritik proses pemilihan, kritik itu seharusnya diarahkan kepada prosesnya.

Ketika seseorang mempersoalkan perilaku oknum, yang dipersoalkan adalah perilakunya. Bukan kemudian seluruh Muktamar diberi label sebagai arena kericuhan.

Oknum bukan organisasi. Peristiwa bukan keseluruhan realitas. Dan potongan video bukan gambaran utuh sebuah Muktamar.

Mata yang Terlalu Cinta dan Mata yang Terlalu Benci

Ada sebuah syair Arab yang sejak dahulu mengingatkan manusia tentang bahaya subjektivitas:

وعين الرضا عن كل عيب كليلة

كما أن عين السخط تبدي المساويا

Pandangan cinta dapat membuat seseorang tidak melihat cela. Sebaliknya, pandangan benci membuat segala sesuatu tampak buruk.

Syair tersebut terasa sangat relevan dengan cara kita membaca NU hari ini.

Orang yang terlalu fanatik kepada NU bisa saja menolak semua kritik.

Sebaliknya, orang yang sejak awal tidak menyukai NU akan lebih mudah menerima setiap berita negatif tentang NU sebagai kebenaran keseluruhan.

Keduanya sama-sama bermasalah. Sebab kewarasan bernalar membutuhkan kemampuan untuk mengatakan: Yang salah, kita katakan salah. Yang baik, kita akui baik.

Tidak perlu menjadi penggemar NU untuk mengakui bahwa ada tradisi intelektual yang hidup di dalamnya.

Dan tidak perlu menjadi pembenci NU untuk mengkritik persoalan yang memang harus dikritik.

Jangan Jadikan Muhammadiyah sebagai Alat untuk Merendahkan NU

Perbandingan dengan Muhammadiyah juga muncul. Muktamar Muhammadiyah disebut lebih tertib, sementara Muktamar NU dipotret lebih gaduh.

Saya kira perbandingan semacam itu perlu ditempatkan secara proporsional.

Muhammadiyah memiliki tradisi organisasi yang patut diapresiasi. NU juga memiliki tradisi dan karakter organisasinya sendiri.

Keduanya merupakan bagian penting dari sejarah masyarakat Islam Indonesia.

Tidak perlu membangun kebanggaan terhadap satu organisasi dengan cara merendahkan organisasi lainnya.

Lebih baik kita belajar dari kelebihan masing-masing.

Kalau Muhammadiyah memiliki pengalaman dalam tata kelola organisasi yang dapat dipelajari, silakan dipelajari.

Kalau NU mempunyai tradisi pesantren, Bahtsul Masail, sanad keilmuan, dan jaringan ulama yang kuat, itu juga patut diapresiasi.

Keduanya tidak harus dipertentangkan untuk membuktikan siapa yang lebih baik.

NU Memang Selalu Menarik untuk Diributkan

Ada satu hal yang tidak bisa dipungkiri: NU memang menarik untuk diributkan.

Mengapa? Karena NU besar. Karena NU memiliki jaringan sosial yang luas.

Karena NU memiliki sejarah panjang. Karena NU bersentuhan dengan banyak persoalan bangsa.

Dan karena di dalam tubuh NU terdapat manusia dengan karakter, kepentingan, pemikiran, dan latar belakang yang beragam.

Organisasi sebesar itu tentu tidak mungkin selalu steril dari konflik. Justru menjadi aneh apabila ada organisasi besar yang mengklaim tidak pernah memiliki persoalan internal.

Yang lebih penting adalah bagaimana konflik itu dikelola. Bagaimana perbedaan diselesaikan. Bagaimana kritik diterima.

Dan bagaimana organisasi belajar dari kesalahannya. Itulah ukuran kedewasaan organisasi.

Muktamar Bukan Sekadar Perebutan Jabatan

Ada kecenderungan lain dalam membaca Muktamar: seluruh perhatian diarahkan kepada perebutan posisi.

Siapa calon ketua. Siapa pendukungnya.

Siapa menang. Siapa kalah. Siapa tersingkir.

Padahal Muktamar jauh lebih besar daripada kontestasi jabatan.

Di balik panggung politik organisasi, terdapat agenda yang menyangkut masa depan keagamaan dan sosial NU.

Bagaimana fikih menjawab persoalan teknologi. Bagaimana NU menghadapi perubahan sosial.

Bagaimana pendidikan dikembangkan. Bagaimana riset diperkuat. Bagaimana kaderisasi dilakukan.

Bagaimana kesehatan masyarakat diperhatikan. Bagaimana tradisi keilmuan pesantren tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu mungkin tidak terlalu menarik bagi algoritma. Tetapi justru itulah pertanyaan yang menentukan masa depan.

Melihat dengan Mata yang Jernih

Muktamar NU tidak perlu dibela secara membabi buta. Tetapi Muktamar NU juga tidak layak dihakimi hanya karena potongan kericuhan.

Kita membutuhkan cara pandang yang lebih dewasa. Jika ada kericuhan, beritakan. Jika ada pelanggaran, bongkar.

Jika ada ketidakadilan, kritik. Tetapi ketika ada kajian ilmu, beritakan pula.

Ketika ada kerja sama akademik, beri ruang. Ketika ada ulama menyambungkan sanad keilmuan, dokumentasikan.

Ketika ada Bahtsul Masail membahas problem umat, jangan biarkan ia kalah oleh suara gaduh.

Sebab media memiliki tanggung jawab bukan hanya untuk memberitakan apa yang menarik perhatian, tetapi juga membantu masyarakat memahami apa yang penting.

Masyarakat pun memiliki tanggung jawab untuk tidak menjadi konsumen berita yang malas berpikir.

Jangan menilai sebuah Muktamar hanya dari satu video. Jangan menilai sebuah organisasi hanya dari satu oknum.

Jangan menilai sebuah kelompok hanya dari berita yang sesuai dengan prasangka kita.

Sebab jika kita hanya mencari berita yang menguatkan kebencian, maka apa pun yang kita lihat akan selalu menjadi alasan untuk membenci.

Sebaliknya, jika kita hanya mencari pembenaran, maka kesalahan pun akan kita anggap sebagai kebenaran. Keduanya sama-sama menjauhkan kita dari objektivitas.

Kembali kepada Bahrul Ulum

Saya kembali kepada kesan awal ketika berjalan kaki di Tambakberas.

Di tempat itu, saya melihat sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar kericuhan.

Saya melihat pesantren yang hidup. Saya melihat orang-orang datang membawa buku dan kitab.

Saya melihat forum-forum diskusi. Saya melihat ulama, santri, akademisi dan masyarakat bertemu.

Saya melihat ilmu yang bergerak dari satu generasi ke generasi berikutnya. Mungkin inilah wajah Muktamar yang tidak terlalu banyak terlihat di layar.

Wajah yang sunyi. Wajah yang tidak selalu viral.

Tetapi justru wajah yang menjadi alasan mengapa pesantren seperti Tambakberas mampu bertahan selama puluhan bahkan ratusan tahun sebagai pusat keilmuan.

Muktamar NU tentu tidak sempurna.

Tetapi jangan pula membuat ketidaksempurnaannya menjadi satu-satunya cerita.

Sebab di Bahrul Ulum, lautan ilmu itu terlalu luas untuk ditenggelamkan oleh satu gelombang keributan. Dan barangkali tugas kita bukan memilih antara memuji atau mencaci.

Tugas kita adalah melihat dengan mata yang jernih, menilai dengan akal sehat, dan berkata adil meskipun kepada kelompok yang kita cintai maupun yang tidak kita sukai.

Karena pada akhirnya, kebenaran tidak membutuhkan fanatisme. Ia membutuhkan keberanian untuk melihat realitas sebagaimana adanya.(ROF)

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.