Langsung ke konten
Minggu, 23 Agustus 2026
Headline Relik Dmitry Donskoy Ditemukan Utuh di Kremlin, Putin Tinjau Makam
Kolom

Kita Ber-NU atau Menjadi NU? – Mencari Alasan Baru Ke-NU-an di Abad Kedua

Saiful Anam, Ketua PC Pagar Nusa Kabupaten Malang mengulas tentang seseorang dan pemimpin yang harus berprinsip kuat, termasuk ketika menjadi warga NU.

Saiful Anam, Ketua PC Pagar Nusa Kabupaten Malang mengulas tentang seseorang dan pemimpin ketika menjadi NU./dok.istimewa

Saiful Anam, Ketua PC Pagar Nusa Kabupaten Malang mengulas tentang seseorang dan pemimpin ketika menjadi NU./dok.istimewa

OPINI | JATIMSATUNEWS.COM: Kita Ber-NU atau Menjadi NU?Mencari Alasan Baru Ke-NU-an di Abad Kedua oleh Saiful Anam, Ketua PC Pagar Nusa Kab.Malang

Ada pertanyaan sederhana yang sesungguhnya menyimpan kegelisahan besar tentang masa depan Nahdlatul Ulama: kita itu ber-NU karena apa? Atau, lebih tepatnya, mengapa kita memilih menjadi NU?

Pertanyaan ini penting diajukan ketika NU memasuki abad kedua dan menghadapi perubahan masyarakat yang tidak lagi sama dengan satu abad sebelumnya.

Pada masa lalu, seseorang menjadi NU hampir tanpa perlu mencari alasan. Ke-NU-an tumbuh secara alamiah melalui tiga pintu utama: keluarga, pendidikan, dan lingkungan.

Kita lahir dari orang tua NU. Sejak kecil mengikuti tradisi keagamaan keluarga.

Kemudian memperoleh pendidikan di lingkungan NU, misalnya madrasah atau sekolah yang berada dalam ekosistem LP Ma’arif.

Setelah itu, kita tumbuh di kampung yang secara kultural hampir seluruh masyarakatnya NU.

Dengan demikian, menjadi NU adalah sesuatu yang diwariskan sekaligus dialami.

Tetapi dunia berubah. Generasi hari ini—terutama generasi Z dan generasi setelahnya—hidup dalam lingkungan sosial yang jauh lebih terbuka. Mereka memperoleh informasi bukan hanya dari keluarga, kiai, sekolah, atau kampung, tetapi dari internet, media sosial, kampus, komunitas, dan berbagai sumber pengetahuan global.

Karena itu, tiga faktor yang dahulu cukup dominan—nasab, pendidikan, dan lingkungan—tidak lagi otomatis menjadi alasan yang cukup.

Generasi baru akan bertanya: Mengapa saya harus NU?

Pertanyaan tersebut justru harus diterima sebagai peluang.

Sebab NU abad kedua tidak cukup hanya mewariskan identitas. NU harus mampu melahirkan kesadaran.

Baca juga: Framing Distorsi terhadap Pondok Pesantren: Mengapa Kesalahan Oknum Tidak Boleh Menjadi Vonis bagi Sebuah Peradaban

Dari NU yang Diwariskan Menuju NU yang Dipilih

Ada perbedaan penting antara lahir sebagai NU dan menjadi NU.

Lahir sebagai NU adalah fakta sosial. Menjadi NU adalah pilihan kesadaran.

Seseorang dapat lahir dari keluarga NU, tetapi ketika dewasa ia akan berhadapan dengan banyak pilihan pemikiran, organisasi, komunitas, dan orientasi kehidupan. Pada titik itulah identitas yang diwariskan diuji.

Di sinilah NU harus hadir bukan sekadar dengan mengatakan, “Kamu NU karena orang tuamu NU.”

Lebih jauh, NU harus mampu menjawab: Apa alasan intelektual, spiritual, sosial, dan kebangsaan sehingga seseorang tetap memilih NU?

Jawabannya tidak cukup dengan jargon.

Ia harus ditemukan dalam pengalaman nyata: bagaimana NU menjawab persoalan pendidikan, ekonomi, kebudayaan, teknologi, kehidupan perkotaan, anak muda, perempuan, kelas menengah, hingga masa depan kebangsaan.

Dengan demikian, ke-NU-an tidak berhenti sebagai identitas administratif, tetapi menjadi way of life—cara memahami agama, masyarakat, bangsa, dan kehidupan.

Baca juga: Negeriku Tergulung

NU dan Perubahan Wajah Warganya

Abad kedua juga menuntut NU membaca perubahan sosial warganya sendiri.

Ada sedikitnya lima fenomena yang harus menjadi perhatian.

Pertama, urbanisasi.

Warga NU semakin banyak tinggal di kota. Mereka tidak lagi hanya berada dalam struktur sosial pedesaan, tetapi hidup di tengah masyarakat urban yang individual, kompetitif, profesional, dan sangat dinamis.

Kedua, anak muda.

Generasi muda bukan sekadar penerus NU. Mereka adalah aktor utama masa depan NU.

Anak muda memiliki bahasa sendiri, cara berkomunikasi sendiri, dan cara memaknai agama yang berbeda. NU tidak cukup hanya mengajak mereka hadir dalam kegiatan organisasi. NU harus mampu masuk ke ruang berpikir mereka.

Ketiga, pertumbuhan kelas menengah NU.

Telah terjadi mobilitas sosial dan ekonomi warga NU. Perubahan tersebut dapat dilihat dalam berbagai gejala kehidupan sehari-hari.

Dalam kegiatan-kegiatan NU, misalnya, semakin banyak warga datang dengan kendaraan pribadi, memiliki pekerjaan profesional, pendidikan lebih baik, serta daya ekonomi yang meningkat.

Ini bukan sekadar perubahan gaya hidup. Ini adalah transformasi kelas sosial warga NU.

Keempat, pendidikan.

Warga NU semakin terdidik. Banyak yang memasuki perguruan tinggi, menjadi akademisi, profesional, birokrat, pengusaha, teknokrat, dan pekerja di berbagai sektor.

Kelompok ini membutuhkan ruang intelektual yang memadai.

NU harus hadir bukan hanya di masjid dan pesantren, tetapi juga di kampus, pusat riset, dunia profesi, ruang digital, dan pusat-pusat pengambilan keputusan.

Kelima, perempuan.

Perempuan NU merupakan kekuatan sosial yang tidak boleh diposisikan sekadar sebagai pelengkap.

Perempuan hadir sebagai pendidik keluarga, pekerja profesional, pengusaha, akademisi, aktivis, dan penggerak masyarakat.

Jika NU ingin membaca masa depan, maka perempuan harus berada di dalam percakapan strategis tentang masa depan tersebut.

Baca juga: Menjaga Adab, Merawat Amanah Kepemimpinan

Indonesia Bergerak, NU Tidak Boleh Berdiam

Persoalan besar NU abad kedua adalah adanya kemungkinan ketidaksinkronan antara perubahan Indonesia dan cara NU mengelola dirinya.

Indonesia bergerak cepat. Kota tumbuh. Anak muda bertambah dominan. Kelas menengah berkembang.

Pendidikan meningkat. Teknologi mengubah perilaku. Perempuan semakin kuat di ruang publik.

Sementara itu, sebagian pola organisasi masih menggunakan pendekatan yang dibentuk oleh kebutuhan masyarakat masa lalu. Di sinilah tantangan NU.

NU tidak boleh kehilangan tradisi, tetapi juga tidak boleh kehilangan masa depan.

Tradisi harus dijaga bukan sebagai benda mati, melainkan sebagai sumber nilai untuk menghadapi perubahan.

Kaidah al-muhafazhah ‘ala al-qadim al-shalih, wal-akhdzu bil-jadid al-ashlah bukanlah alasan untuk berhenti bergerak. Justru di dalamnya terdapat semangat untuk menjaga yang baik dari masa lalu sekaligus mengambil yang lebih baik dari masa depan.

Dengan kata lain: akar tetap dijaga, tetapi cabang harus terus tumbuh.

Membaca NU Bukan Sekadar dari Jumlah

NU sering dibicarakan sebagai organisasi dengan jumlah warga yang sangat besar.

Dalam data yang menjadi rujukan pembahasan ini, sekitar 57,2 persen penduduk atau sekitar 140 juta lebih disebut memiliki kedekatan dengan NU.

Angka sebesar itu tentu menunjukkan kekuatan sosial yang luar biasa. Tetapi jumlah harus dibaca lebih dalam.

Sebab tidak semua warga NU memiliki bentuk keterhubungan yang sama dengan jam’iyah.

Dalam pemetaan yang digunakan, warga NU dapat dilihat melalui tiga lapisan.

Pertama, NU kultural, sekitar 39 persen. Mereka memiliki tradisi dan kultur NU dalam kehidupan sehari-hari, tetapi tidak selalu aktif dalam organisasi. Mereka adalah warga yang mungkin tidak pernah mengikuti rapat struktural NU, tetapi masih menjalankan amaliah dan tradisi NU.

Kedua, NU partisipatif, sekitar 20 persen. Mereka bukan hanya memiliki identitas kultural, tetapi juga berpartisipasi dalam kegiatan NU. Mereka datang ke pengajian, kegiatan organisasi, forum-forum NU, bahkan hadir dalam momentum besar seperti muktamar.

Ketiga, NU inti, sekitar 9 persen. Kelompok ini memiliki keterhubungan lebih kuat dengan fikrah, amaliah, dan harakah NU. Mereka menjadi bagian aktif dari kehidupan jam’iyah sekaligus menjadi penggerak organisasi.

Pemetaan ini tentu perlu terus diuji melalui penelitian dan metodologi yang lebih ketat.

Namun sebagai kerangka membaca organisasi, ia memberikan satu pelajaran penting: NU tidak dapat mendekati semua warganya dengan cara yang sama.

Warga NU kultural membutuhkan pendekatan yang berbeda dari warga NU partisipatif.

Warga NU partisipatif membutuhkan ruang aktualisasi yang berbeda dari NU inti.

Karena itu, strategi organisasi harus berbasis pada karakter masing-masing kelompok.

Problem NU Bukan Kekurangan Warga, Melainkan Keterhubungan

Jika tiga lapisan tersebut kita ibaratkan sebagai lingkaran, maka persoalan strategis NU bukan semata-mata memperbesar masing-masing lingkaran.

Hal yang jauh lebih penting adalah menghubungkan ketiganya.

NU kultural harus memiliki jalan menuju partisipasi. NU partisipatif harus memiliki jalan menuju kaderisasi.

NU inti harus mampu kembali menghidupi dan melayani basis kultural. Di situlah jam’iyah menjadi solid.

Sebab organisasi yang besar tetapi tidak memiliki keterhubungan antarlapisan akan mudah mengalami fragmentasi.

Sebaliknya, organisasi yang mampu membangun korelasi antara kultur, partisipasi, dan inti organisasi akan memiliki daya tahan yang jauh lebih kuat.

Maka pekerjaan rumah NU abad kedua bukan hanya menghitung berapa jumlah warga NU, tetapi juga mengukur beberapa hal.

Seperti, seberapa kuat hubungan warga dengan nilai NU, seberapa kuat partisipasi mereka, dan seberapa besar kontribusi mereka terhadap kehidupan jam’iyah.

Baca juga: Ketika Orang Pintar Kalah oleh Orang Beruntung, dan Orang Edan Mengubah Sejarah

Pemimpin NU Abad Kedua Harus Membaca Zaman

Karena itu, Muktamar pertama di abad kedua NU membutuhkan cara pandang kepemimpinan yang berbeda.

Pemimpin NU ke depan tidak cukup hanya pandai mengelola struktur.

Ia harus memahami perubahan Indonesia. Ia harus mengerti bahwa kota tumbuh.

Bahwa anak muda tumbuh. Bahwa kelas menengah tumbuh. Bahwa pendidikan warga meningkat. Bahwa perempuan semakin memainkan peran penting.

Dan bahwa, teknologi telah mengubah cara manusia memperoleh pengetahuan, berkomunikasi, bahkan memahami agama.

Pertama, pemimpin harus memiliki kesadaran zaman.

Ia harus memahami bahwa NU abad kedua tidak sama dengan NU abad pertama.

Kedua, pemimpin harus memiliki visi, ide, dan gagasan.

NU tidak boleh hanya menjadi organisasi yang responsif terhadap masalah. NU harus mampu menjadi organisasi yang menawarkan arah bagi masa depan masyarakat.

Ketiga, pemimpin harus mampu mengorkestrasi seluruh sumber daya NU.

NU memiliki sumber daya manusia yang luar biasa besar: ulama, pesantren, akademisi, profesional, pengusaha, perempuan, anak muda, pekerja, intelektual, dan berbagai komunitas.

Tantangannya adalah bagaimana semua potensi tersebut dipertemukan.

Pemimpin bukan sekadar orang yang berada paling depan.

Pemimpin adalah orang yang mampu membuat seluruh kekuatan bergerak menuju tujuan yang sama.

Menjaga Tradisi, Menjawab Masa Depan

NU abad kedua menghadapi paradoks. Di satu sisi, NU harus menjaga tradisi. Di sisi lain, NU harus menjawab perubahan.

Namun sesungguhnya keduanya tidak bertentangan. Tradisi memberikan NU akar. Perubahan memberikan NU arah.

Tanpa tradisi, NU kehilangan identitas. Tanpa kemampuan membaca perubahan, NU kehilangan relevansi.

Maka tugas generasi abad kedua adalah mempertemukan keduanya. Menjaga akar tanpa menghambat pertumbuhan. Membuka diri terhadap perubahan tanpa kehilangan jati diri.

Menghormati masa lalu tanpa menjadi tawanan masa lalu. Inilah mungkin makna terdalam dari memasuki abad kedua.

NU tidak sedang memulai dari nol. NU sedang melanjutkan perjalanan panjang dengan bekal sejarah yang sangat kaya.

Tetapi sejarah bukan alasan untuk berhenti. Sejarah adalah amanah untuk melanjutkan perjalanan.

Dari ‘Saya NU’ Menjadi ‘Saya Mengapa NU’

Pada akhirnya, pertanyaan paling penting bukan: “Berapa jumlah warga NU?”

Tetapi: “Mengapa mereka tetap menjadi NU?”

Karena orang tua? Karena sekolah? Karena lingkungan? Itu adalah pintu masuk.

Tetapi untuk bertahan dalam perubahan zaman, dibutuhkan alasan yang lebih dalam.

Generasi baru harus mampu mengatakan: Saya NU karena saya menemukan Islam yang berakar pada tradisi tetapi terbuka terhadap perubahan.

Saya NU karena saya menemukan keseimbangan antara agama dan kehidupan kebangsaan.

Saya NU karena saya menemukan penghormatan terhadap ulama sekaligus penghargaan terhadap ilmu pengetahuan.

Saya NU karena saya menemukan nilai tasamuh, tawassuth, tawazun, dan i’tidal sebagai jalan hidup.

Dan yang paling penting: Saya NU bukan hanya karena saya dilahirkan dalam keluarga NU, tetapi karena saya sadar memilih nilai-nilai NU untuk saya perjuangkan. Di titik itulah ber-NU berubah menjadi menjadi NU.

Ber-NU bisa saja merupakan identitas. Tetapi menjadi NU adalah kesadaran.

Dan barangkali, inilah tantangan terbesar NU di abad keduanya: mengubah warisan menjadi kesadaran, kesadaran menjadi pengabdian, pengabdian menjadi gerakan, dan gerakan menjadi peradaban.

Sebab NU tidak cukup hanya menjadi organisasi yang besar karena jumlah.

NU harus menjadi besar karena kedalaman nilai, keluasan gagasan, kekuatan tradisi, kualitas manusia, dan besarnya kemaslahatan yang diberikan kepada bangsa.

Abad pertama telah mewariskan NU kepada kita. Abad kedua menunggu apa yang akan kita wariskan kepada generasi sesudah kita.(ROF)

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.