SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM: Kabar duka menyelimuti keluarga besar anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama. Sang kakak tercinta, Hj. Fentin Istifa’iyah, S.Ag., M.Si., Kepala UPT Asrama Haji Embarkasi Surabaya (Sukolilo), berpulang ke Rahmatullah.
Kepergian Fentin meninggalkan duka mendalam, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi mereka yang mengenal kiprah dan dedikasinya dalam pelayanan jamaah haji.
Ning Lia menyampaikan tulisan artikel sosok Fentin sangat membekas, memberi kenangan indah.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, saya bersaksi Hj. Fentin Istifaiyah
Kakak Kandung saya orang yang sangat baik, Semoga Allah SWT melapangkan kuburnya, menerima segala amal ibadah Diterima, dan menempatkan beliau di surga-Nya.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin,” ucap Ning Lia dari rumah duka. Jl. Wonocolo GG Modin No. 15, Jemursari, Surabaya.
Sosok Fentin pernah diulas secara khusus oleh Media AULA NISA melalui tulisan berjudul “Perempuan Pertama yang Menata Rumah Singgah Tamu Allah”. Tulisan tersebut merekam perjalanan Fentin ketika dipercaya menjadi Kepala Asrama Haji Kelas I Surabaya pada Januari 2026.
Bagi banyak orang, jabatan tersebut merupakan sebuah posisi strategis. Namun bagi Fentin, amanah itu adalah tanggung jawab besar untuk memastikan para tamu Allah mendapatkan pelayanan terbaik sebelum melanjutkan perjalanan menuju Tanah Suci.
Fentin dilantik sebagai Kepala Asrama Haji Kelas I Surabaya pada Rabu, 28 Januari 2026, setelah mendapat kabar secara mendadak untuk berangkat ke Jakarta guna mengikuti wawancara sekaligus proses pelantikan.
“Buat saya ini amanah yang juga luar biasa. Datangnya begitu cepat, mendadak, dan tanpa ruang untuk menunda,” demikian ungkapan Fentin yang dikutip dari profil Media AULA NISA.
Puluhan Ribu Jamaah Menjadi Amanah
Fentin bukan sosok baru di lingkungan Asrama Haji Surabaya. Sejak menunaikan ibadah haji pada 2001, ia telah mengenal lingkungan tersebut. Bahkan sejak menjadi pegawai Kementerian Agama pada 2005, ia kerap terlibat dalam berbagai kegiatan, mulai pelatihan hingga penyelenggaraan haji dan umrah.
Ketika dipercaya menjadi kepala asrama, tanggung jawabnya tentu semakin besar. Embarkasi Surabaya melayani jamaah dalam jumlah besar, tidak hanya dari Jawa Timur, tetapi juga Bali dan Nusa Tenggara Timur.
Fentin memilih membangun kerja secara kolektif. Ia menyadari bahwa pelayanan tidak mungkin bertumpu pada seorang pimpinan.
“Keberhasilan ini kan enggak mungkin hanya dari pimpinan tok, tapi harus semuanya gerak semua juga.”
Sebelum menjabat sebagai kepala asrama, Fentin merupakan Ketua Tim Akomodasi, Transportasi dan Perlengkapan Haji di Kanwil Kemenag Jawa Timur. Ia juga pernah mengemban amanah sebagai Sekretaris Sektor 10 Makkah pada 2024.
“Akan Saya Buktikan dengan Karya”
Salah satu bagian yang paling kuat dari profil Fentin adalah sikapnya menghadapi keraguan dan cibiran.
Sebagai perempuan pertama yang memimpin asrama haji, ia menyadari bahwa posisinya akan menjadi sorotan. Bahkan, terdapat suara-suara yang mempertanyakan kapasitasnya.
Fentin memilih tidak membalas keraguan itu dengan perdebatan.
“Saya cuek saja, enggak ngurus!! Akan saya buktikan dengan karya.”
Kalimat tersebut seolah menjadi prinsip Fentin dalam menjalankan amanah.
Ia memilih bekerja, menata fasilitas, membangun komunikasi internal dan menyusun berbagai rencana pengembangan Asrama Haji Surabaya.
Dari ratusan kamar yang tersedia, ia memetakan kondisi fasilitas yang membutuhkan perbaikan. Sebagian bangunan bahkan telah berusia puluhan tahun.
Baginya, jamaah yang hendak menunaikan ibadah haji harus memperoleh tempat tinggal yang layak dan nyaman.
“Jangan sampai jamaah tidak kebagian akomodasi atau dapat tapi tidak layak,” tegasnya.
Bukan Sekadar Tempat Singgah
Fentin memiliki visi lebih jauh. Asrama Haji Surabaya tidak ingin dipandang sekadar sebagai tempat transit jamaah sebelum menuju Tanah Suci.
Ia membayangkan asrama sebagai ruang yang bersih, indah, nyaman, sekaligus memiliki nuansa spiritual.
Penataan kawasan manasik, perluasan area thawaf, pembenahan tampilan bangunan hingga peningkatan fasilitas menjadi bagian dari gagasan yang mulai ia rancang.
“Perlu keindahan, kenyamanan, kebersihannya juga harus dijaga.”
Ia bahkan memiliki mimpi agar Asrama Haji dapat tetap hidup di luar musim haji. Tempat tersebut diharapkan bisa menjadi ruang pembelajaran, ruang nostalgia, hingga memiliki nilai ekonomi melalui pengembangan konsep wisata religi.
Di sisi lain, Fentin juga berupaya menghidupkan kegiatan keagamaan di lingkungan asrama. Masjid yang sebelumnya kurang aktif mulai diisi dengan pengajian, bimbingan dan berbagai kegiatan keagamaan.
Baginya, pelayanan jamaah haji bukan sekadar pekerjaan administratif.
“Bagi saya, asrama haji bukan hanya tempat administratif. Asrama adalah ruang ibadah.”
Jejak Pengabdian dan Organisasi
Fentin dikenal sebagai sosok yang lama berkecimpung dalam berbagai aktivitas organisasi di lingkungan Nahdlatul Ulama. Ia pernah aktif di PMII, Fatayat NU dan Muslimat NU.
Jejak pengabdiannya juga menjadi bagian dari perjalanan hidupnya sebagai perempuan yang dipercaya menduduki posisi strategis dalam pelayanan penyelenggaraan ibadah haji.
Dalam profil Media AULA NISA, Fentin digambarkan sebagai sosok yang memilih menjawab berbagai keraguan dengan kerja nyata.
“Saya tidak melihat diri saya sebagai perempuan yang harus membuktikan sesuatu kepada dunia. Saya hanya menjalankan apa yang menurut saya benar. Yakni bekerja dengan sungguh-sungguh, melayani dengan sepenuh hati.”
Kini, perempuan yang pernah mengemban amanah sebagai Kepala UPT Asrama Haji Embarkasi Surabaya itu telah berpulang.
Bagi Lia Istifhama, kepergian sang kakak tentu bukan sekadar kehilangan seorang saudara. Fentin adalah sosok kakak, teladan sekaligus perempuan yang meninggalkan jejak pengabdian melalui pelayanan kepada para tamu Allah.
Kenangan tentang kiprah dan pemikirannya pun kini menjadi bagian dari warisan yang ditinggalkan untuk keluarga, kolega, serta masyarakat.
Baca juga: 21 WNI yang Dievakuasi dari Sudan Tiba di Asrama Haji Sukolilo Surabaya
Baca juga: Kloter 26 Masuk Asrama Haji dengan Lancar
Redaksi JatimSatuNews Selamat jalan, Hj. Fentin Istifa’iyah.
Semoga Allah SWT mengampuni seluruh dosa dan khilaf, menerima seluruh amal ibadah dan pengabdiannya, melapangkan serta menerangi kuburnya, menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya, dan memberikan ketabahan serta keikhlasan kepada keluarga yang ditinggalkan.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin. ans


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.