Langsung ke konten
Rabu, 16 September 2026
Headline Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026 
Kolom

Fenomena Zombie Scrolling: Ketika Jempol Menggulir Tanpa Henti, Waktu Pun Terbuang

Zombie scrolling, fenomena masa kini yang menghabiskan waktu produktif, dibahas oleh Dosen Fakultas Syariah UIN Malang, Miftahul Huda.

Dosen Fakultas Syariah UIN Malang, Miftahul Huda membahas fenomena zombie scrolling yang menghabiskan banyak waktu./dok.istimewa

Dosen Fakultas Syariah UIN Malang, Miftahul Huda membahas fenomena zombie scrolling yang menghabiskan banyak waktu./dok.istimewa

OPINI | JATIMSATUNEWS.COM: Fenomena Zombie Scrolling: Ketika Jempol Menggulir Tanpa Henti, Waktu Pun Terbuang oleh Dr.H.Miftahul Huda, SHI.,M.H (Dosen Fakultas Syariah UIN Malang)

Coba perhatikan orang-orang di sekitar kita.

Di ruang tunggu, di kendaraan umum, di kedai kopi, bahkan ketika sedang berkumpul bersama teman atau keluarga, tak sedikit yang sibuk dengan ponsel masing-masing.

Begitu ada waktu luang, tangan seolah otomatis meraih ponsel. Layar dibuka, jempol mulai menggulir, satu video berganti video lainnya, satu unggahan disusul unggahan berikutnya.

Awalnya hanya ingin melihat sebentar, tetapi tanpa terasa waktu berlalu begitu saja.

Kita terus scrolling, bahkan ketika sudah tidak benar-benar tahu apa yang sedang kita cari.

Baca juga: Ketika Pikiran Tak Lagi Punya Ruang untuk Beristirahat

Zombie Scrolling

Fenomena ini dikenal dengan istilah zombie scrolling, yakni kebiasaan menggulir layar secara otomatis dan tanpa tujuan yang jelas, seolah-olah seseorang bergerak seperti “zombie” tanpa benar-benar menyadari apa yang sedang dilihat.

Pernahkah kita membuka ponsel hanya untuk memeriksa jam, membalas satu pesan, atau sekadar mengusir rasa bosan, tetapi tiba-tiba tersadar bahwa hampir satu jam telah berlalu?

Lebih ironis lagi, kita bahkan tidak lagi mengingat konten apa saja yang baru saja dilihat.

Di tengah derasnya arus informasi digital, jempol kita seolah bergerak lebih cepat daripada kesadaran.

Membuka TikTok, Instagram, X, atau platform media sosial lainnya dengan niat “sebentar saja” bisa berubah menjadi aktivitas menggulir layar selama puluhan menit, bahkan berjam-jam.

Sekilas, kebiasaan ini tampak sepele. Namun, ketika dilakukan terus-menerus, scrolling tanpa kendali dapat membuat waktu terbuang, perhatian terpecah, produktivitas menurun, bahkan mengganggu waktu istirahat dan interaksi dengan orang-orang di sekitar kita.

Salah satu alasan scrolling sulit dihentikan adalah cara platform digital menyajikan konten secara terus-menerus.

Setiap kali kita menggeser layar, selalu ada kemungkinan menemukan sesuatu yang menarik: video lucu, berita terbaru, gosip, komentar, atau konten yang sesuai dengan minat kita.

Pengalaman menemukan sesuatu yang menyenangkan berkaitan dengan sistem penghargaan di otak, termasuk neurotransmiter dopamin yang berperan dalam motivasi dan pembelajaran.

Persoalan muncul ketika kita semakin terbiasa memperoleh rangsangan baru dalam hitungan detik.

Aktivitas yang membutuhkan waktu dan kesabaran seperti membaca buku, belajar, menyelesaikan pekerjaan, atau mendengarkan orang lain berbicara dapat terasa kurang menarik dibandingkan aliran konten yang terus berganti.

Bukan berarti otak kita “rusak” hanya karena menggunakan media sosial.

Namun, pola penggunaan yang berlebihan dapat membuat kita terbiasa mencari stimulasi cepat dan berulang, yang kemudian menjadi cikal bakal munculnya sindrom zombie scrolling.

Konten video pendek dan aliran informasi yang terus berganti juga membuat perhatian berpindah dengan cepat.

Hari ini kita menonton resep masakan. Beberapa detik kemudian muncul berita, lalu video komedi, komentar kontroversial, iklan belanja, dan berbagai konten lainnya.

Semua datang silih berganti.

Istilah “brain rot” atau “pembusukan otak” memang populer di internet untuk menggambarkan perasaan bahwa kemampuan berpikir dan berkonsentrasi menurun akibat konsumsi konten digital yang berlebihan.

Iklan

Namun, istilah tersebut merupakan istilah populer, bukan diagnosis medis. Sedangkan sindrom zombie scrolling bahkan telah menjadi ulasan ilmiah di perguruan tinggi internasional.

Kontrol Diri

Hal yang lebih penting adalah menyadari pola kebiasaan kita sendiri.

Apakah media sosial benar-benar sedang kita gunakan secara sadar, atau kita hanya terus menggulir karena tidak tahu kapan harus berhenti?

Coba bayangkan apa yang terjadi ketika kita scrolling selama 30 menit. Dalam waktu singkat, otak menerima begitu banyak potongan informasi: wajah, suara, teks, musik, berita, iklan, komentar, gambar, hingga berbagai emosi.

Menit ini kita melihat berita duka. Beberapa detik kemudian muncul video orang menari. Setelah itu iklan produk. Lalu komentar kontroversial. Kemudian video hewan lucu.

Semua datang tanpa jeda.

Situasi semacam ini dapat membuat kita merasa lelah secara mental. Istilah cognitive overload atau kelebihan beban kognitif menggambarkan kondisi ketika tuntutan informasi yang harus diproses terlalu banyak sehingga seseorang kesulitan mengolahnya secara efektif.

Karakteristik lain yang membuat kebiasaan ini sulit dihentikan adalah infinite scroll atau guliran tanpa batas.

Buku memiliki halaman terakhir. Acara televisi memiliki waktu selesai.

Namun, media sosial dapat terus menyajikan konten baru selama kita terus menggulir.

Satu video selesai, video berikutnya langsung muncul. Tidak ada tanda alami yang mengatakan bahwa kita sudah cukup. Keputusan untuk berhenti akhirnya sepenuhnya berada di tangan pengguna.

Kebiasaan scrolling biasanya dimulai dari hal sederhana: bosan, lelah, sedang menunggu seseorang, ingin beristirahat sejenak, atau sekadar ingin mengalihkan pikiran.

Masalahnya, lima menit yang direncanakan dapat berubah menjadi setengah jam.

Setengah jam berubah menjadi satu jam. Dan sering kali kita baru menyadarinya setelah waktu tersebut berlalu.

Di sinilah fenomena zombie scrolling tidak hanya dapat dilihat dari sisi teknologi dan psikologi, tetapi zombie scrolling juga dapat dilihat dari perspektif agama.

Berharganya Waktu

Al-Qur’an memberikan perhatian yang sangat besar terhadap waktu. Bahkan, Allah bersumpah dengan waktu dalam Surah Al-‘Asr ayat 1–3:

Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.”

Pesan Surah Al-‘Asr begitu kuat: waktu yang berlalu tidak akan kembali, dan manusia berada dalam kerugian apabila waktunya tidak diisi dengan sesuatu yang bernilai.

Dalam konteks zombie scrolling, persoalannya bukan semata-mata berapa lama seseorang memegang ponsel, melainkan untuk apa waktu tersebut digunakan.

Menggunakan media sosial untuk mencari ilmu, mendapatkan informasi, berkomunikasi, bekerja, atau sekadar melepas penat tentu tidak selalu menjadi persoalan.

Namun, ketika jempol terus menggulir layar tanpa tujuan yang jelas, sementara menit demi menit berlalu tanpa manfaat yang berarti, kita perlu berhenti sejenak dan melakukan introspeksi.

Berapa banyak waktu yang kita habiskan hanya untuk melihat konten yang beberapa menit kemudian bahkan tidak kita ingat?

Satu video selesai, kita menggulir lagi. Satu unggahan lewat, kita mencari unggahan berikutnya.

Tanpa terasa, waktu yang awalnya hanya ingin digunakan lima menit berubah menjadi setengah jam, satu jam, bahkan lebih.

Iklan

Al-Qur’an juga menggambarkan salah satu karakter orang-orang beriman dalam Surah Al-Mu’minun ayat 3, yaitu mereka yang berpaling dari perbuatan dan perkataan yang tidak berguna.

Ayat ini menjadi pengingat untuk mengevaluasi aktivitas sehari-hari. Tidak semua hiburan adalah sesuatu yang buruk.

Namun, jika seseorang menghabiskan banyak waktu untuk konten yang tidak memberikan manfaat dan pada saat yang sama mengabaikan kewajiban, pekerjaan, belajar, ibadah, atau keluarga, kebiasaan tersebut layak untuk dipertanyakan.

Kabar baiknya, kita tidak harus langsung membuang ponsel atau meninggalkan media sosial.

Teknologi tetap memiliki banyak manfaat apabila digunakan secara sadar dan proporsional.

Langkah untuk mencegah diri terhindar dari sindrom zombie scrolling dapat dimulai dari hal-hal sederhana.

Mulai dari membatasi waktu penggunaan aplikasi, mematikan notifikasi yang tidak penting, menciptakan ruang bebas gawai, serta meletakkan ponsel jauh dari tempat tidur.

Kita juga dapat melatih kembali kemampuan untuk fokus dengan membaca buku, menulis jurnal, berjalan kaki, beribadah, atau melakukan satu aktivitas tanpa gangguan selama beberapa menit.

Sebelum membuka media sosial, kita bahkan bisa membiasakan diri bertanya: “Apa tujuan saya membuka aplikasi ini?”

Jika jawabannya tidak jelas, mungkin kita sebenarnya tidak sedang membutuhkan media sosial. Kita hanya sedang mencari sesuatu untuk mengisi kekosongan.

Baca juga: Urip Mung Sawang-sinawang: Menemukan Kedamaian dalam Rasa Syukur

Teknologi Bukan Persoalannya

Ponsel pintar diciptakan untuk membantu kehidupan manusia. Media sosial juga memiliki banyak manfaat.

Persoalannya bukan semata-mata pada teknologi, tetapi pada bagaimana kita menggunakannya.

Jangan sampai kita begitu sibuk menggulir layar hingga lupa bahwa kehidupan nyata sedang berjalan.

Setiap detik yang berlalu adalah bagian dari umur yang tak mungkin kembali.

Al-Qur’an mengingatkan kita tentang kerugian manusia yang menyia-nyiakan waktu.

Karena itu, mari gunakan waktu yang masih Allah titipkan bukan sekadar untuk melihat dunia di layar, tetapi untuk berbuat baik, menambah ilmu, memperkuat ibadah, membangun hubungan dengan sesama, dan hadir sepenuhnya dalam kehidupan.

Sebab, layar boleh terus bergulir, tetapi hidup tidak memiliki tombol scroll back.

Waktu yang telah pergi tidak dapat diputar kembali. Maka, sebelum jempol kembali menggulir tanpa tujuan, mari berhenti sejenak, letakkan ponsel, lihat orang-orang di sekitar kita, dan tanyakan kepada diri sendiri: apakah waktu yang sedang kita habiskan benar-benar membawa kita menuju kehidupan yang lebih baik?

Jangan sampai kita sibuk mengikuti apa yang terjadi di layar, tetapi lupa menjalani apa yang sedang terjadi dalam hidup.

Karena itu yang paling berharga bukanlah berapa banyak konten yang berhasil kita lihat, melainkan berapa banyak kebaikan yang sempat kita lakukan selama waktu masih Allah titipkan.(Editor: YAN)

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.