Langsung ke konten
Selasa, 1 September 2026
Headline Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026 
Kolom

Sambas, Serambi Makkah Yang Menunggu Dijemput.

Dari Jawa-Sentris Menuju NU yang Benar-Benar Nusantara Ada sebuah ironi yang patut kita renungkan dalam perjalanan panjang

Poster infografis yang memvisualisasikan gagasan perluasan akar pendidikan Nahdlatul Ulama dari pusatnya di Pulau Jawa menuju Sambas, Kalimantan Barat.

Poster infografis yang memvisualisasikan gagasan perluasan akar pendidikan Nahdlatul Ulama dari pusatnya di Pulau Jawa menuju Sambas, Kalimantan Barat.

KOLOM | JATIMSATUNEWS.COM: Dari Jawa-Sentris Menuju NU yang Benar-Benar Nusantara

Ada sebuah ironi yang patut kita renungkan dalam perjalanan panjang Nahdlatul Ulama. NU adalah organisasi yang namanya menggunakan kata Nahdlatul Ulama, Kebangkitan Para Ulama, tetapi pusat pertumbuhan pesantren, kaderisasi, pendidikan, dan reproduksi ulama masih sangat terkonsentrasi di Pulau Jawa. Jawa tentu tidak salah. Justru dari rahim pesantren-pesantren Jawa, NU melahirkan ulama, intelektual, guru, dai, politisi, birokrat, pengusaha dan pemimpin bangsa. Kita patut berterima kasih. Tetapi pertanyaannya kemudian menjadi penting: apakah kebesaran NU akan terus berputar di Jawa, atau mulai benar-benar menanam akar di seluruh Nusantara?

Sebab Indonesia bukan hanya Jawa.

Baca juga: Wartawan Jatimsatunews Dinyatakan Kompeten di UKW Jenjang Muda 2026

Baca juga: JatimSatuNews Bersiap Mengikuti Verifikasi Dewan Pers, Langkah Menuju Media Profesional dan Terpercaya

Dan kalau NU ingin disebut organisasi Islam yang benar-benar Nusantara, maka kebesarannya harus terasa sampai ke daerah yang mungkin jauh dari pusat kekuasaan, tetapi justru sangat dekat dengan batas negara.

Salah satunya adalah Sambas, Kalimantan Barat.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak.
Bukan untuk menyalahkan siapa-siapa.
Bukan untuk mengatakan Jawa terlalu maju.
Bukan pula untuk mengatakan Kalimantan Barat terlalu tertinggal.
Tetapi untuk mengajukan satu pertanyaan yang sederhana sekaligus agak mengganggu: Mengapa daerah yang pernah dikenal sebagai “Serambi Mekkah”, yang berbatasan langsung dengan Malaysia, dan yang mempunyai sejarah panjang keislaman, belum menjadi salah satu proyek serius kaderisasi dan pengembangan pesantren NU?
Kalau pertanyaan ini terasa mengganggu, mungkin justru karena memang perlu ditanyakan.

SAMBAS BUKAN UJUNG INDONESIA

Ada kebiasaan kita melihat peta dengan kacamata Jakarta.
Jakarta di tengah.
Jawa di tengah.
Kalimantan terlihat jauh.
Sambas lebih jauh lagi.

Lalu kita menyebutnya daerah perbatasan.
Padahal kalau kita membalik peta, perspektifnya berubah.
Sambas bukan ujung Indonesia. Sambas adalah pintu depan Indonesia.
Di sana Indonesia berhadapan langsung dengan Malaysia.
Di sana anak-anak Indonesia tumbuh hanya beberapa kilometer dari negara tetangga.
Di sana interaksi ekonomi, budaya, bahasa, agama dan informasi berlangsung setiap hari.
Karena itu, membangun manusia Sambas sesungguhnya bukan hanya urusan pembangunan daerah.
Ia adalah bagian dari menjaga wajah Indonesia di perbatasan.
Patok batas menjaga wilayah.
Aparat menjaga keamanan.
Jalan menjaga konektivitas.
Tetapi pendidikan menjaga masa depan.
Dan pendidikan agama yang kuat menjaga identitas sekaligus membangun ketahanan sosial.
Di sinilah NU seharusnya hadir dengan kekuatan yang jauh lebih besar.

SERAMBI MEKKAH JANGAN HANYA MENJADI NAMA

Sambas pernah dikenal sebagai Serambi Mekkah.
Sebuah sebutan yang mengandung kebanggaan sekaligus beban sejarah.
Tetapi sejarah tidak boleh hanya menjadi cerita yang kita ulang setiap kali berbicara tentang kejayaan masa lalu.
Sebab ada ironi yang sangat pahit: kita bangga menyebut Sambas Serambi Mekkah, tetapi belum cukup serius membangun institusi yang akan memastikan ruh keislaman itu diwariskan kepada generasi berikutnya.
Serambi Mekkah tidak boleh hanya hidup dalam buku.
Ia harus hidup dalam pesantren.
Ia harus hidup dalam madrasah.
Ia harus hidup dalam guru-guru agama.

Ia harus hidup dalam kitab yang dibaca anak-anak muda.
Ia harus hidup dalam masjid yang menjadi pusat ilmu.
Ia harus hidup dalam kader yang mampu menjawab persoalan zaman.
Kalau tidak, kita hanya akan mempunyai gelar sejarah tanpa pewaris sejarah.
Dan peradaban yang kehilangan pewaris pada akhirnya hanya akan menjadi kenangan.

NU DI SAMBAS: ADA STRUKTUR, TETAPI HARUS ADA AKAR

Kita perlu membedakan antara kehadiran organisasi dan kedalaman akar organisasi.
NU dapat memiliki struktur kepengurusan.
Ada pengurus.
Ada rapat.
Ada konferensi.
Ada kegiatan.
Ada spanduk.
Ada seragam.
Tetapi organisasi tidak akan benar-benar mengakar hanya karena papan namanya terpasang.

Akar NU adalah pesantren, madrasah, sekolah, masjid, guru, kiai, santri dan kader.
Dan kalau kita melihat ekosistem pesantren yang secara kelembagaan benar-benar berada di bawah pengelolaan NU di Sambas masih sangat terbatas, maka ini bukan sesuatu yang harus ditutup-tutupi.
Justru sebaliknya.
Inilah ruang pengabdian yang harus segera diisi.
Karena kalau NU tidak mengisi ruang pendidikan dengan kader dan pesantren yang kuat, ruang itu pasti akan diisi oleh kekuatan lain.
Bukan berarti kekuatan lain itu harus dianggap musuh.
Tidak.
Tetapi dalam kehidupan sosial, ruang kosong tidak pernah benar-benar kosong.
Ruang kosong selalu menunggu siapa yang datang lebih dahulu.

JANGAN-JANGAN KITA TERLALU JAWA-SENTRIS?

Sekali lagi, ini bukan kritik kepada Jawa.
Jawa telah memberikan terlalu banyak kepada NU untuk kita lupakan.
Tetapi ada satu gejala yang perlu kita renungkan bersama: jangan sampai NU terlalu sibuk memperbesar cabang-cabang pohon di Jawa, sementara tanah-tanah subur di luar Jawa belum ditanami.
Di Jawa, satu pesantren besar dapat mempunyai ribuan santri.
Di Jawa, anak-anak muda relatif mudah menemukan kiai.
Di Jawa, pesantren saling berdekatan.
Di Jawa, jaringan alumni tumbuh seperti hutan.
Sementara di daerah seperti Sambas, kita masih membutuhkan lebih banyak pusat kaderisasi.
Maka sesungguhnya persoalannya bukan:”Mengapa Sambas tidak memiliki pesantren NU sebesar Jawa?”

Pertanyaan yang lebih tepat: “Mengapa pesantren-pesantren besar NU di Jawa belum menjadikan Sambas sebagai salah satu ladang kaderisasinya?”
Ini bukan soal memindahkan Jawa ke Kalimantan.
Ini soal membagi cahaya.

WAHAI PESANTREN-PESANTREN BESAR NU DI JAWA

Di sinilah saya ingin berbicara langsung kepada pesantren-pesantren besar NU di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan daerah lainnya.
Kiai-kiai yang pesantrennya telah puluhan bahkan ratusan tahun menjadi pusat ilmu.
Pesantren yang alumninya sudah tersebar ke seluruh Indonesia.
Pesantren yang setiap tahun menerima ribuan santri.
Pesantren yang memiliki guru, kitab, tradisi, jaringan dan sumber daya.
Sambas membutuhkan Anda.
Tetapi bukan untuk datang sebentar.
Bukan untuk membuat seminar.
Bukan hanya untuk mengirim ustaz mengisi pengajian sehari.
Sambas membutuhkan pesantren-pesantren besar untuk menanam akar.
Bukalah cabang.
Bangun pesantren satelit.
Buat kampus kader.
Buka program beasiswa khusus anak Sambas.
Rekrut pemuda Sambas sebagai santri kader.
Didik mereka bertahun-tahun.
Beri mereka sanad keilmuan.
Kemudian pulangkan mereka sebagai pewaris.
Inilah cara paling elegan untuk menjaga Serambi Mekkah.

“JANGAN HANYA MENGIRIM KADER, CETAKLAH PEWARIS”

Kita membutuhkan paradigma baru.
Bukan sekadar: mengirim anak Sambas ke Jawa.

Tetapi: mengirim anak Sambas ke Jawa untuk ditempa menjadi pewaris yang kelak kembali membangun Sambas.
Bayangkan jika pesantren-pesantren besar NU di Jawa Timur masing-masing mengambil 10 pemuda terbaik Sambas setiap tahun.
Sepuluh dari satu pesantren.
Sepuluh dari pesantren berikutnya.
Sepuluh lagi dari pesantren lainnya.
Tidak perlu ribuan pada tahap awal.
Seratus anak yang benar-benar dididik dengan serius jauh lebih berarti daripada seribu anak yang hanya diberi sertifikat.

Dalam sepuluh tahun, kita sudah mempunyai ratusan kader.
Dalam dua puluh tahun, kita mempunyai generasi.
Dan dalam satu generasi, mungkin kita akan melihat sesuatu yang sekarang terasa seperti mimpi: lahirnya ulama-ulama Sambas yang ditempa oleh tradisi pesantren Jawa tetapi berakar kuat di tanah Kalimantan.

PROGRAM “PUTRA SAMBAS PEWARIS SERAMBI MEKKAH”

Saya membayangkan sebuah program yang secara khusus ditawarkan kepada pesantren besar NU:

PROGRAM PUTRA SAMBAS PEWARIS SERAMBI MEKKAH

Setiap pesantren mitra memilih putra-putra terbaik Sambas melalui seleksi:

* kemampuan akademik;
* kemampuan dasar agama;
* akhlak;
* komitmen;
* kepemimpinan;
* kemampuan membaca Al-Qur’an;
* minat terhadap pesantren;
* dan terutama kesediaan kembali mengabdi di Kalimantan Barat.

Mereka kemudian mendapatkan: Beasiswa penuh atau sebagian.
Pendidikan pesantren.
Pendidikan formal.
Kaderisasi Aswaja An-Nahdliyah.
Bahasa Arab.
Bahasa Inggris.
Kajian kitab kuning.
Teknologi digital.
Kepemimpinan.
Kewirausahaan.
Sejarah Islam Nusantara.
Dan setelah selesai:pulang.
Bukan pulang sebagai penonton.
Tetapi pulang sebagai guru, dai, pengasuh pesantren, akademisi, peneliti, penggerak ekonomi umat dan kader NU.

CABANG PESANTREN: DARI JAWA KE SAMBAS

Bagi pesantren yang mempunyai kapasitas lebih besar, bahkan dapat dikembangkan pola:

“Satu Pesantren Jawa – Satu Pesantren Cabang Sambas.”

Pesantren induk berada di Jawa.
Pesantren cabang berada di Sambas.
Kurikulum inti dapat diselaraskan.
Guru dapat bertukar.
Santri dapat bertukar.
Kiai dapat datang secara berkala.
Alumni menjadi jaringan.
Buku dan kitab dikembangkan bersama.
Teknologi digunakan bersama.
Bahkan sebagian santri Sambas dapat belajar di pesantren induk selama beberapa tahun, lalu kembali mengembangkan pesantren cabang.

Dengan pola seperti ini, kita tidak sedang membuat pesantren baru dari nol.
Kita sedang memperpanjang umur sebuah tradisi keilmuan dari Jawa ke Kalimantan.
KALAU NU DIGDAYA 2050 SERIUS, SAMBAS HARUS ADA DI DALAM PETA

Muktamar ke-35 NU telah membawa NU memasuki agenda besar melalui Peta Jalan NU Digdaya 2050.

Maka pertanyaannya bukan lagi apakah NU ingin besar.

NU sudah besar.
Pertanyaannya:
Di mana NU akan menanam kebesarannya?

Apakah kebesaran itu hanya akan menjadi statistik warga di Pulau Jawa?

Ataukah ia akan berubah menjadi jaringan ilmu yang menjangkau perbatasan Indonesia?

Kalau kita berbicara NU Digdaya 2050, maka kita harus berani membayangkan:

2050, di Sambas berdiri pesantren NU unggulan.
2050, anak-anak Sambas tidak perlu selalu pergi jauh untuk mendapatkan pendidikan Islam berkualitas.
2050, ulama-ulama muda Sambas lahir dari rahim pesantren sendiri.
2050, ada jaringan pesantren Kalbar–Jawa Timur.
2050, ada pusat studi Islam Melayu Sambas.
2050, ada ribuan alumni pesantren yang tersebar di Kalimantan Barat.
2050, Serambi Mekkah bukan lagi hanya sejarah. Ia kembali menjadi pusat ilmu.
Itulah NU Digdaya yang terasa sampai perbatasan.

JANGAN TAKUT KEHILANGAN KADER

Ada kemungkinan sebagian pesantren besar berpikir:
“Kalau kami mendidik anak Sambas, nanti setelah pintar mereka pulang.”
Justru itulah yang kita harapkan.
Karena kader yang pulang bukan berarti kader yang hilang.
Kader yang pulang adalah cabang ilmu yang tumbuh.
Satu santri yang pulang bisa menjadi satu guru.

Satu guru bisa mengajar seratus anak.
Seratus anak dapat menjadi seribu.
Seribu menjadi sepuluh ribu.
Dan dari satu orang yang ditempa dengan sungguh-sungguh, mungkin lahir satu generasi.
Begitulah ilmu berkembang.
Bukan dengan ditahan.
Tetapi dengan diwariskan.

SAMBAS MEMBUTUHKAN “KIAI PERBATASAN”

Saya bahkan membayangkan suatu hari akan lahir sebuah istilah:

KIAI PERBATASAN.

Bukan kiai yang tinggal di perbatasan karena kebetulan.
Tetapi kiai yang sengaja memilih perbatasan sebagai ladang pengabdian.
Kiai yang memahami Islam.
Memahami masyarakat Melayu.
Memahami sejarah Sambas.
Memahami persoalan anak muda.
Memahami geopolitik perbatasan.
Menguasai teknologi.
Mengerti ekonomi umat.
Dan yang paling penting: mampu menjadi jembatan antara Islam, kebudayaan, kebangsaan dan kehidupan masyarakat.
Kita membutuhkan orang seperti itu.

Banyak sekali.

KADERISASI BUKAN SEKADAR MENCARI PENGURUS

Sudah waktunya paradigma kaderisasi NU diperluas.
Jangan hanya mencari siapa yang bisa menjadi pengurus.

Cari siapa yang bisa menjadi pewaris.
Pengurus berganti lima tahun.
Pewaris menjaga tradisi puluhan tahun.
Pengurus mengelola organisasi.
Pewaris menghidupkan peradaban.
Pengurus bisa membuat program.
Pewaris memastikan program tidak mati setelah pengurus berganti.

Karena itu, Sambas harus dipandang sebagai ladang kaderisasi jangka panjang.

PERBATASAN ADALAH TEMPAT TERBAIK UNTUK MEMBUKTIKAN CINTA KEPADA INDONESIA

Ada sesuatu yang sangat indah jika NU tumbuh kuat di Sambas.
Islam tumbuh.
Pesantren tumbuh.
Anak muda tumbuh.
Ekonomi umat tumbuh.
Budaya Melayu tumbuh.
Dan pada saat yang sama rasa kebangsaan tumbuh.

Sebab Islam dan Indonesia tidak perlu dipertentangkan.
Justru di daerah perbatasan, keduanya harus saling menguatkan.
Islam yang berakar pada ilmu melahirkan masyarakat yang matang.
Masyarakat yang matang memperkuat kebangsaan.

Kebangsaan yang kuat menjaga perbatasan.

Maka membangun pesantren di Sambas bukan hanya investasi agama.
Ia juga investasi kebangsaan.

KEPADA PBNU: JANGAN HANYA LIHAT SAMBAS SEBAGAI DAERAH YANG JAUH

Mungkin dari Jakarta Sambas terlihat jauh.
Dari Surabaya terasa lebih jauh.
Dari Jombang mungkin terasa seperti perjalanan panjang.
Tetapi bagi Indonesia, Sambas sangat dekat.
Karena di situlah wajah Indonesia berhadapan langsung dengan tetangga.
Kalau NU ingin benar-benar menjadi organisasi yang membawa Islam rahmatan lil ’alamin, maka perbatasan adalah tempat yang sangat tepat untuk membuktikannya.
Bukan dengan pidato.
Dengan pesantren.
Bukan dengan slogan.
Dengan kader.
Bukan dengan spanduk.
Dengan guru.
Bukan dengan rapat.
Dengan anak-anak muda yang belajar.
Dan bukan dengan mengatakan:

“NU harus besar.”

Tetapi dengan bertanya:
“Apa yang sudah kita tanam agar NU tetap hidup seratus tahun lagi?”

KEPADA PESANTREN-PESANTREN BESAR: SAMBAS ADALAH LADANG PEWARIS

Wahai pesantren-pesantren besar NU.
Anda telah memiliki ribuan santri.
Telah memiliki jaringan alumni.
Telah memiliki kiai.
Telah memiliki kitab.
Telah memiliki sejarah.
Sekarang, berbagilah dengan perbatasan.
Ambillah sepuluh anak Sambas.
Atau lima.
Atau bahkan satu.
Didik dia seperti mendidik anak sendiri.
Jangan hanya ajarkan kepadanya bagaimana membaca kitab.
Ajarkan bagaimana menjadi manusia.
Ajarkan bagaimana menjadi ulama.
Ajarkan bagaimana menjadi pemimpin.
Ajarkan bagaimana menghormati perbedaan.
Ajarkan bagaimana mencintai Indonesia.
Dan setelah bertahun-tahun, ketika dia pulang ke Sambas, katakan kepadanya:
“Jangan lupakan pesantrenmu. Sekarang giliranmu menjaga kampungmu.”
Mungkin anak itu kelak mendirikan pesantren.
Mungkin menjadi kiai.
Mungkin menjadi guru.
Mungkin menjadi dosen.
Mungkin menjadi penggerak masyarakat.
Mungkin menjadi pemimpin daerah.
Kita tidak pernah tahu.
Tetapi kita tahu satu hal:
sejarah selalu dimulai dari seseorang yang bersedia ditempa.

SERAMBI MEKKAH HARUS MEMPUNYAI PEWARIS

Pada akhirnya, persoalan ini bukan tentang Jawa dan Kalimantan.
Bukan tentang NU pusat dan NU daerah.
Bukan tentang siapa lebih besar.
Ini tentang pewarisan ilmu.
Jawa sudah mempunyai pohon besar.
Sambas membutuhkan benih.
Maka jangan hanya bertanya:
“Mengapa Sambas belum punya pohon sebesar Jawa?”
Tanyakan:
“Mengapa kita belum menanam benihnya?”
Satu benih hari ini.
Satu santri hari ini.
Satu beasiswa hari ini.
Satu pesantren hari ini.
Satu kader hari ini.
Kelak mungkin menjadi hutan ilmu.
Dan hutan itu akan menjadi tempat anak-anak Kalimantan berteduh.

PENUTUP: JANGAN BIARKAN SERAMBI MEKKAH MENUNGGU TERLALU LAMA

Sejarah telah memberi Sambas sebuah nama:
Serambi Mekkah.
Geografi memberikan Sambas posisi: perbatasan Indonesia–Malaysia.

Sejarah memberikan warisan.

Geografi memberikan tantangan.

Dan zaman memberikan pertanyaan: siapa yang akan menjadi pewarisnya?
Maka sudah waktunya PBNU menatap Sambas bukan sebagai daerah yang jauh, tetapi sebagai salah satu halaman penting masa depan NU.

Sudah waktunya pesantren-pesantren besar NU di Jawa tidak hanya menjadi pusat ilmu yang megah di tanah Jawa, tetapi mulai menanam cabang-cabang ilmu di tanah Kalimantan.

Sudah waktunya anak-anak muda Sambas tidak hanya menjadi penonton sejarah leluhurnya, tetapi dipersiapkan menjadi pewaris Serambi Mekkah.

Dan sudah waktunya NU membuktikan bahwa istilah Islam Nusantara bukan sekadar gagasan yang indah di atas kertas.

Karena kalau NU hanya kuat di pusat-pusat tradisionalnya, ia memang besar.

Tetapi kalau NU mampu mengakar di perbatasan, ia akan menjadi Nusantara.

Maka saya ingin mengusulkan sebuah gerakan sederhana tetapi besar maknanya:

SATU PESANTREN BESAR NU, SATU CABANG DI SAMBAS.

SATU PESANTREN, SEPULUH PUTRA SAMBAS.

SATU KADER, SATU KOMITMEN UNTUK PULANG.

SATU GENERASI, MENJADI PEWARIS SERAMBI MEKKAH.

Sebab pesantren tidak pernah sekadar membangun gedung.

Pesantren membangun manusia.

Dan manusia yang ditempa dengan ilmu akan membangun peradaban.

Maka jangan biarkan Sambas hanya menjadi Serambi Mekkah dalam ingatan.

Jadikan ia kembali menjadi serambi ilmu.
Jadikan ia tempat lahirnya ulama.
Jadikan ia pusat kaderisasi.
Jadikan ia benteng kebangsaan.
Jadikan ia rumah bagi generasi muda Islam yang berilmu, berakhlak dan mencintai Indonesia.
Dari Jombang ke Sambas.
Dari Tambakberas ke Serambi Mekkah.
Dari pesantren Jawa menuju pesantren perbatasan.
Dari santri menjadi kader.
Dari kader menjadi pewaris.
Dan akhirnya:

DARI SERAMBI MEKKAH, KITA MENJAGA INDONESIA.

NU MENGAKAR DI SAMBAS.

NU DIGDAYA 2050, JANGAN BIARKAN PERBATASAN MENUNGGU.

OLEH : SAFARI HAMZAH

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.