OPINI | JATIMSATUNEWS.COM: Dongker merupakan Kelompok musik asal Bandung ini justru tumbuh dari ruang alternatif dan skena musik independen yang lebih dekat dengan kegelisahan anak muda daripada kemewahan industri. Dongker dikenal melalui musik yang memadukan energi punk dengan lirik yang reflektif, getir, dan sering kali berhadapan langsung dengan persoalan kehidupan sehari-hari.
Musik mereka tidak banyak menawarkan romantisme. Ia lebih sering mengajak pendengar melihat kenyataan dari jarak yang sangat dekat: keluarga, pekerjaan, masa depan, kelas sosial, cinta, kemarahan, dan kegelisahan menjadi bagian dari dunia yang mereka bicarakan. Posisi Dongker dalam skena musik independen menjadi menarik karena musik mereka tidak hanya bekerja sebagai hiburan, tetapi juga sebagai medium untuk mengartikulasikan keresahan generasi yang hidup dalam ketidakpastian.
Salah satu lagu yang memperlihatkan karakter tersebut adalah Ku Kubur Trauma. Lagu ini dapat dibaca sebagai percakapan seseorang dengan masa lalunya sendiri. Ada keluarga yang retak, ada kepala yang penuh dengan kegelisahan, ada masa depan yang terasa seperti ancaman, serta ada keinginan untuk mengubur segala sesuatu yang pernah menyakitkan. Potongan lirik “di ruang tengah.. terpecah belah..” menghadirkan gambaran yang sederhana sekaligus mengganggu. Ruang tengah biasanya merupakan pusat sebuah rumah, tempat anggota keluarga bertemu dan berbagi kehidupan. Ketika ruang tersebut justru menjadi simbol keterpecahan, rumah kehilangan fungsi dasarnya sebagai tempat berlindung.
Lirik “semuanya papah dan cinta yang patah” semakin memperkuat gambaran tersebut. Cinta yang patah dalam lagu ini tidak harus dipahami sebagai patah hati dalam pengertian romantis. Cinta dapat patah di dalam keluarga. Hubungan antara ayah dan ibu dapat patah. Hubungan antara anak dan orang tua dapat patah. Hubungan seseorang dengan dirinya sendiri juga dapat patah. Keretakan semacam itu sering kali tidak terlihat dari luar. Sebuah keluarga dapat terlihat baik-baik saja di media sosial, makan bersama di restoran, merayakan ulang tahun, atau menghadiri acara keluarga, tetapi di balik pintu rumah terdapat anak yang belajar memahami pertengkaran sebelum waktunya.
Baca juga: Pengaruh Telemedicine Dalam Peningkatan Efisiensi Penyembuhan Penyakit
Baca juga: Wartawan Jatimsatunews Dinyatakan Kompeten di UKW Jenjang Muda 2026
Kekuatan Ku Kubur Trauma justru terletak pada kemampuannya mengubah pengalaman personal menjadi persoalan sosial. Trauma yang dibicarakan tidak berdiri sendiri. Ia berhubungan dengan rumah, ekonomi, pekerjaan, keluarga, dan masa depan. Anak yang hidup dalam tekanan ekonomi, misalnya, tidak hanya mengalami kekurangan materi. Ia juga dapat mengalami kecemasan yang berasal dari ketidakpastian kehidupan keluarganya. Tekanan ekonomi dapat mengubah cara orang tua berkomunikasi.
Perselisihan kecil dapat membesar ketika kebutuhan dasar belum terpenuhi. Rumah yang seharusnya menjadi ruang pemulihan berubah menjadi ruang akumulasi tekanan.
Indonesia sendiri masih menghadapi persoalan kemiskinan dalam skala besar. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa pada Maret 2026 terdapat 22,93 juta penduduk miskin atau 8,07 persen dari total penduduk Indonesia. Garis kemiskinan nasional pada periode yang sama mencapai Rp669.235 per kapita per bulan. Angka tersebut memang menunjukkan perbaikan secara statistik, tetapi jutaan manusia tetap hidup dalam situasi ketika kebutuhan sehari-hari harus dinegosiasikan dengan pendapatan yang terbatas. Kemiskinan semacam itu tidak berhenti di angka statistik. Ia masuk ke meja makan, ruang keluarga, hubungan suami-istri, dan akhirnya dapat masuk ke dalam ingatan anak.
Jawa Timur memiliki persoalan yang tidak jauh berbeda. Pada Maret 2026, BPS mencatat jumlah penduduk miskin Jawa Timur sekitar 3,712 juta orang atau 9,06 persen. Angka tersebut menjadi penting ketika kita berbicara mengenai generasi muda. Kemiskinan bukan sekadar keadaan ketika seseorang tidak memiliki uang. Kemiskinan juga dapat membatasi pilihan hidup, mempersempit akses pendidikan, menciptakan kecemasan terhadap masa depan, dan membuat keputusan personal seperti menikah menjadi jauh lebih rumit.
Lirik “di ruang kerja.. kepalaku pecah.. isinya sampah tentang masa depan” seperti mewakili kegelisahan generasi yang tidak lagi memandang masa depan sebagai ruang penuh kemungkinan. Masa depan berubah menjadi daftar kewajiban. Sekolah harus selesai. Pekerjaan harus didapat. Orang tua harus dibantu. Rumah harus dimiliki.
Pernikahan harus dilaksanakan. Anak harus dibesarkan. Semua tuntutan tersebut muncul ketika kepastian ekonomi semakin sulit diraih. Generasi muda akhirnya hidup dalam paradoks: mereka diminta merencanakan masa depan ketika hari ini saja belum tentu terasa aman.
Krisis ekonomi kemudian berkelindan dengan krisis identitas. Anak yang tumbuh dalam keluarga retak tidak hanya bertanya mengenai masa depan. Ia juga bertanya tentang dirinya sendiri. Siapa saya ketika ayah dan ibu saya tidak lagi saling mencintai? Siapa saya ketika rumah tidak terasa seperti rumah? Apakah saya akan menjadi seperti mereka? Apakah saya layak dicintai?
Pertanyaan tersebut tidak selalu muncul dalam bentuk kata-kata. Ia dapat muncul dalam bentuk kecemasan, kemarahan, sikap menarik diri, ketidakpercayaan kepada orang lain, atau ketakutan terhadap hubungan jangka panjang.
Data kesehatan mental memperlihatkan bahwa persoalan tersebut bukan sesuatu yang dapat disepelekan. Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat prevalensi depresi pada kelompok usia 15–24 tahun sebesar 2 persen. Survei kesehatan mental pada anak dan remaja juga menunjukkan bahwa 5,5 persen kelompok usia 10–17 tahun mengalami gangguan mental, dengan kecemasan mencapai 3,7 persen.
Data tersebut tidak dapat digunakan untuk mengatakan bahwa semua anak dari keluarga miskin atau broken home pasti mengalami gangguan mental. Hubungan manusia jauh lebih kompleks daripada statistik. Data tersebut cukup untuk menunjukkan bahwa kesehatan mental anak muda merupakan persoalan nyata yang membutuhkan perhatian sosial.
Lirik “gila, semua orang gila / ayah ibuku juga” dapat dibaca sebagai ledakan frustrasi seorang anak yang berusaha memahami dunia orang dewasa. Ungkapan tersebut bukan diagnosis medis terhadap ayah dan ibu. Ungkapan tersebut adalah bentuk kegagalan bahasa dalam menjelaskan kekacauan yang terlalu besar. Ketika orang dewasa yang seharusnya memberikan rasa aman justru menjadi sumber ketakutan, seorang anak dapat kehilangan orientasi tentang seperti apa keluarga yang sehat.
Pernikahan kemudian masuk sebagai persoalan yang jauh lebih dilematis.
Masyarakat terlalu sering mengajarkan bahwa cinta dapat menyelesaikan segala persoalan. Pernikahan dianggap sebagai awal kehidupan baru. Pernikahan bahkan sering diposisikan sebagai jalan keluar dari kesepian, tekanan keluarga, atau kehidupan ekonomi yang sulit.
Persoalannya, pernikahan tidak menghapus realitas material. Kontrakan tetap harus dibayar. Makanan tetap harus dibeli. Anak tetap membutuhkan pendidikan. Kesehatan membutuhkan biaya. Hubungan membutuhkan waktu dan kematangan emosional.
Pernikahan dalam keadaan miskin tentu bukan tindak kriminal secara hukum. Orang miskin memiliki hak yang sama untuk menikah. Ungkapan “menikah dalam keadaan miskin adalah kriminal” harus dipahami sebagai kritik sosial, bukan proposisi hukum. Kritik tersebut diarahkan kepada romantisasi pernikahan yang seolah-olah cinta dapat menggantikan kesiapan ekonomi, psikologis, dan sosial.
Kriminalitas metaforisnya muncul ketika masyarakat mendorong dua manusia yang belum siap untuk menikah hanya karena usia dianggap sudah cukup, keluarga menuntut, atau pernikahan dianggap sebagai solusi atas persoalan hidup. Anak yang kemudian lahir dari situasi tersebut tidak pernah memilih untuk berada di dalamnya. Anak tidak pernah memilih orang tuanya. Anak tidak pernah memilih kondisi ekonomi keluarganya. Anak tidak pernah meminta dilahirkan ke dalam hubungan yang penuh konflik.
Lirik “cinta berterbangan terbuang percuma” menjadi relevan pada titik ini. Cinta dapat benar-benar ada, tetapi tetap tidak cukup untuk membuat sebuah keluarga bertahan. Cinta membutuhkan ruang untuk tumbuh. Ruang tersebut membutuhkan keamanan, komunikasi, waktu, pekerjaan yang layak, akses kesehatan, pendidikan, serta kemampuan emosional. Dua orang dapat saling mencintai sekaligus gagal membangun rumah yang sehat.
Siklus tersebut kemudian diwariskan kepada anak. Anak yang tumbuh dari keluarga penuh konflik dapat membawa pola tersebut ke dalam hubungan dewasanya. Sebagian menjadi terlalu takut ditinggalkan. Sebagian memilih pasangan karena ingin mendapatkan rumah yang tidak pernah mereka miliki. Sebagian lainnya justru menolak pernikahan karena takut mengulangi sejarah orang tua. Trauma akhirnya tidak lagi menjadi peristiwa masa lalu. Trauma berubah menjadi kemungkinan masa depan.
Potongan lirik “sudah, kukubur trauma / sedalam-dalamnya” terdengar seperti keputusan untuk meninggalkan masa lalu. Persoalannya, trauma tidak selalu selesai hanya karena dikubur. Luka yang ditekan tanpa dipahami dapat muncul dalam bentuk yang berbeda. Kemarahan masa kecil dapat menjadi konflik dalam hubungan dewasa. Ketakutan terhadap perceraian dapat berubah menjadi posesivitas. Rasa tidak dicintai dapat berubah menjadi kebutuhan berlebihan untuk mendapatkan validasi.
Lirik lain, “oh masa lalu, duduklah di sampingku / ceritakan padaku”, justru menawarkan cara pandang yang lebih reflektif. Masa lalu tidak perlu dimusnahkan. Masa lalu perlu dipahami. Penyembuhan bukan tindakan melupakan apa yang terjadi, melainkan kemampuan untuk memahami mengapa sesuatu terjadi tanpa membiarkan peristiwa tersebut mengendalikan seluruh kehidupan.
Persoalan terbesar generasi muda hari ini mungkin bukan ketidakmampuan untuk bekerja keras. Mereka justru terlalu sering dipaksa bekerja keras. Mereka diminta kuat menghadapi ekonomi yang tidak pasti, kuat menghadapi keluarga yang retak, kuat menghadapi persaingan pendidikan, kuat mencari pekerjaan, kuat menghadapi tuntutan sosial, dan kuat membangun keluarga sendiri. Dunia meminta mereka menjadi dewasa sebelum memberikan mereka ruang untuk menjadi manusia.
Dongker melalui Ku Kubur Trauma seolah mengingatkan bahwa ada luka yang tidak dapat diselesaikan dengan nasihat “jangan terlalu dipikirkan”. Ada generasi yang tidak membutuhkan ceramah tentang ketangguhan. Mereka membutuhkan rumah yang aman, pekerjaan yang layak, hubungan yang sehat, serta sistem sosial yang tidak terus-menerus memproduksi kecemasan.
Kemiskinan harus dipahami sebagai persoalan struktural, bukan semata-mata kegagalan individu. Angka kemiskinan nasional yang masih mencapai 22,93 juta orang pada Maret 2026 menunjukkan bahwa persoalan ekonomi tidak dapat diselesaikan hanya dengan menyuruh individu bekerja lebih keras.
Kebijakan ekonomi harus berhubungan dengan kualitas hidup keluarga. Pendidikan, pekerjaan layak, perumahan, perlindungan sosial, dan layanan kesehatan mental merupakan bagian dari ekosistem yang menentukan apakah sebuah keluarga dapat tumbuh dengan sehat.
Ku Kubur Trauma bukan sekadar lagu tentang seseorang yang ingin berdamai dengan masa lalu. Lagu tersebut dapat dibaca sebagai suara anak-anak yang tumbuh di antara kemiskinan, keluarga yang terpecah, dan identitas yang belum selesai. Rumah yang retak dapat melahirkan manusia yang terus mencari rumah. Kemiskinan dapat melahirkan kecemasan terhadap masa depan. Pernikahan yang dibangun tanpa kesiapan dapat melahirkan generasi yang kembali mewarisi luka.
Trauma tidak seharusnya menjadi warisan keluarga. Kemiskinan tidak seharusnya menjadi alasan untuk kehilangan martabat. Pernikahan tidak seharusnya dijadikan obat untuk seluruh persoalan kehidupan. Anak tidak seharusnya membayar harga dari keputusan orang dewasa.
“Ku kubur trauma” maknanya justru jauh lebih radikal: mengubur siklusnya. Mengubur pola kekerasan. Mengubur romantisasi kemiskinan. Mengubur anggapan bahwa cinta selalu cukup. Mengubur keyakinan bahwa anak harus selalu memahami kesalahan orang dewasa.
Manusia tidak membutuhkan keluarga yang sempurna. Manusia membutuhkan keluarga yang aman. Manusia tidak membutuhkan pernikahan yang mewah. Manusia membutuhkan pernikahan yang matang.
Manusia tidak membutuhkan kehidupan tanpa masalah. Manusia membutuhkan masyarakat yang tidak menjadikan masalah hidup sebagai beban yang harus ditanggung sendirian. Pertanyaan yang lebih jujur adalah: mengapa kita menciptakan dunia yang membuat mereka harus begitu kuat?
OLEH : Muhammad Zahrudin Afnan – Magister Pendidikan dan Guru Biologi


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.