Langsung ke konten
Selasa, 8 September 2026
Headline Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026 
Daerah

Dekan FTIK UIN Malang: Lulusan Harus Menjadi Pendidik yang Memanusiakan Manusia dan Menyalakan Cahaya Perubahan

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Gelar sarjana bukanlah garis akhir. Pesan tersebut menjadi salah satu penekanan Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. H. Muhammad Walid, M.A., kepada para lulusan dalam Yudisium ke-3 Tahun 2026 yang berlangsung Kamis, 3 September 2026.

Di hadapan para peserta yudisium, pimpinan fakultas, dosen, dan civitas akademika, Prof. Muhammad Walid mengajak para lulusan untuk menjadikan ilmu, akhlak, integritas, dan keberanian sebagai bekal memasuki fase kehidupan setelah kampus. Menurutnya, ketukan palu yudisium bukan akhir perjalanan, melainkan pintu gerbang menuju ruang pengabdian yang lebih luas.

“Kelulusan adalah buah dari perjalanan panjang,” pesan tersebut menjadi refleksi atas berbagai proses yang telah dilalui mahasiswa, mulai dari perkuliahan, penyelesaian tugas akhir, menghadapi berbagai tantangan akademik, hingga melewati fase ketika rasa ingin menyerah muncul dalam perjalanan.

Setelah menyelesaikan pendidikan, para lulusan akan berhadapan dengan persoalan yang lebih kompleks di tengah masyarakat. Karena itu, Prof. Muhammad Walid mengingatkan bahwa sarjana pendidikan maupun sarjana keagamaan tidak cukup hanya mengejar pekerjaan dan menyandang gelar akademik. Mereka memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan pendidikan yang mampu menjadi bagian dari solusi atas persoalan bangsa.

Tantangan tersebut semakin kompleks di tengah persoalan moral dan etika, derasnya arus informasi digital, perkembangan artificial intelligence (AI), serta ketimpangan akses terhadap pendidikan. Dalam kondisi demikian, lulusan FTIK diharapkan tidak menjadi penonton, tetapi mengambil peran melalui bidang keilmuan dan profesi masing-masing.

Pendidik yang Memanusiakan Manusia

Salah satu pesan utama yang disampaikan Dekan adalah pentingnya menjadi pendidik yang memanusiakan manusia. Menurutnya, pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan peserta didik yang cerdas secara intelektual, tetapi juga manusia yang memiliki kejujuran, karakter, dan kepedulian.

Karena itu, para lulusan diharapkan mampu menjadi teladan di mana pun mereka mengabdi. Ilmu perlu disampaikan dengan kemampuan intelektual, tetapi proses pendidikan juga harus menyentuh sisi kemanusiaan peserta didik.

Pesan tersebut menegaskan bahwa profesi pendidik bukan sekadar pekerjaan yang berkaitan dengan rutinitas mengajar dan administrasi. Di tangan pendidik terdapat tanggung jawab untuk membentuk karakter sekaligus mempersiapkan generasi menghadapi masa depan.

Ilmu yang diperoleh selama berada di FTIK, lanjutnya, hendaknya digunakan untuk menghadirkan kesejahteraan dan kebahagiaan serta membantu manusia keluar dari berbagai bentuk keterbatasan dan ketidakberdayaan.

Jangan Lupakan Perjuangan Orang Tua

Di tengah pesan tentang pengabdian, Prof. Muhammad Walid juga mengingatkan para lulusan agar tidak melupakan orang tua yang telah mengantarkan mereka hingga mencapai kelulusan.

Iklan

Di balik gelar sarjana terdapat doa, air mata, keringat, biaya, dan pengorbanan orang tua. Karena itu, keberhasilan yang diraih mahasiswa tidak semata-mata menjadi milik pribadi, tetapi juga merupakan buah dari dukungan keluarga.

Para lulusan pun diingatkan untuk menjadikan keberhasilan tersebut sebagai momentum membahagiakan dan memuliakan orang tua. Gelar akademik yang diperoleh diharapkan menjadi awal dari kontribusi yang lebih besar bagi keluarga dan masyarakat.

Menjadi Cahaya di Tengah Masyarakat

Prof. Muhammad Walid selanjutnya mengajak lulusan untuk tidak larut dalam pesimisme ketika menghadapi berbagai persoalan sosial. Sebaliknya, mereka didorong untuk menjadi “lilin yang menerangi” lingkungan di mana mereka berada.

Lulusan FTIK diharapkan dapat mengambil peran sebagai guru, mentor, penggerak, maupun profesional yang membawa perubahan positif. Ilmu yang telah diperoleh di bangku kuliah tidak boleh berhenti sebagai pengetahuan pribadi, tetapi harus dihadirkan dalam bentuk pengabdian dan kemanfaatan.

Semangat tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa keberhasilan seorang sarjana tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi posisi yang diraih, tetapi juga oleh seberapa besar ilmu dan kompetensinya memberikan manfaat bagi orang lain.

Bawa Nama Baik Almamater

Pesan terakhir yang ditekankan adalah pentingnya menjaga nama baik almamater. Nilai integritas, kerendahan hati, dan profesionalisme yang telah dibangun selama berada di FTIK diharapkan terus dibawa ketika para lulusan memasuki dunia kerja dan ruang pengabdian.

Nama baik almamater, menurut pesan tersebut, tidak cukup dijaga melalui simbol maupun ucapan. Ia harus diwujudkan melalui prestasi, perilaku, integritas, dan kontribusi nyata.

Menutup sambutannya, Prof. Muhammad Walid menyampaikan apresiasi kepada para dosen yang telah mendampingi mahasiswa selama proses pendidikan serta kepada para orang tua dan wali yang telah mempercayakan pendidikan putra-putrinya kepada FTIK UIN Malang.

Yudisium ke-3 Tahun 2026 pun menjadi momentum peralihan. Para lulusan tidak lagi hanya dituntut menyelesaikan pendidikan, tetapi mulai memasuki fase ketika ilmu harus dibuktikan melalui tindakan.

Foto profil M. Kholilur Rohman
M. Kholilur Rohman

Pegiat literasi yang berasal dari Kota Sumenep dan Founder Komunitas Maliki Book Party

Lihat semua artikel oleh M. Kholilur Rohman

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.