MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Kuliah Kerja Nyata (KKN Berdampak) Universitas Muhammadiyah Malang Kelompok 128 melaksanakan kegiatan sosialisasi pemanfaatan cuka kayu menjadi bio-pestisida kepada masyarakat Desa Blayu, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk edukasi mengenai pemanfaatan bahan organik yang berpotensi mendukung pertanian berkelanjutan.
Sosialisasi diawali dengan pembahasan mengenai sejumlah permasalahan yang umum ditemukan dalam kegiatan pertanian, seperti gulma, hama, dan penyakit tanaman. Penggunaan pestisida selama ini menjadi salah satu cara yang dilakukan untuk mengatasi persoalan tersebut. Namun, masyarakat juga diperkenalkan pada alternatif yang memanfaatkan bahan organik, mudah digunakan, serta dapat mendukung penerapan pertanian berkelanjutan. Salah satu bahan yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut adalah cuka kayu.
Tim KKN Berdampak 128 kemudian menjelaskan pengertian cuka kayu sebagai cairan yang diperoleh dari asap hasil pemanasan kayu atau bahan organik yang kemudian didinginkan. Materi turut membahas kandungan yang terdapat di dalamnya, meliputi asam organik, senyawa fenolik, serta senyawa lainnya. Penjelasan tersebut diberikan untuk mengenalkan dasar pemanfaatan cuka kayu sebelum dikembangkan sebagai bahan bio-pestisida.
Pembahasan dilanjutkan dengan proses pembuatan cuka kayu melalui pirolisis. Dalam materi, pirolisis dijelaskan sebagai proses pemanasan bahan organik dengan kondisi oksigen yang terbatas. Melalui proses tersebut, asap yang dihasilkan dapat didinginkan hingga menghasilkan cuka kayu.
Selanjutnya, peserta mendapatkan penjelasan mengenai potensi cuka kayu sebagai biopestisida. Berdasarkan penelitian sebelumnya, cuka kayu atau asap cair memiliki potensi untuk membantu mengendalikan organisme pengganggu tanaman. Kandungan asam organik memberikan sifat asam, sementara senyawa fenolik memiliki aktivitas biologis tertentu yang menjadi salah satu dasar pemanfaatannya.
Materi juga memaparkan hasil penelitian dari Polinema yang menunjukkan bahwa cuka kayu dapat dikembangkan menjadi biopestisida. Selain itu, penelitian dari Mindoro State University, Filipina menunjukkan potensi cuka kayu dalam mengendalikan hama dan penyakit serta membantu pertumbuhan tanaman jagung. Dari kedua penelitian tersebut, cuka kayu memiliki dasar penelitian untuk dikembangkan sebagai bahan biopestisida.
Dalam sosialisasi turut diperkenalkan komposisi produk yang dikembangkan. Formulasi tersebut terdiri atas 60% larutan air, sulfur atau belerang, dan natrium klorida (NaCl), kemudian 35% cuka kayu serta 5% tar. Penjelasan komposisi diberikan sebagai gambaran mengenai bahan yang digunakan dalam produk biopestisida berbasis cuka kayu.
Untuk memperjelas materi yang telah disampaikan, peserta juga diperlihatkan video mengenai proses pembuatan produk. Penyajian secara visual tersebut menjadi bagian dari kegiatan agar masyarakat dapat memperoleh gambaran yang lebih mudah mengenai tahapan pengolahan cuka kayu menjadi produk yang dikembangkan.
Melalui kegiatan ini, KKN Berdampak 128 memperkenalkan cuka kayu sebagai bahan organik yang memiliki potensi aktivitas biologis dan telah didukung oleh penelitian sebelumnya untuk dikembangkan menjadi biopestisida. Dalam formulasi produk yang diperkenalkan, cuka kayu digunakan sebesar 35% bersama air, tar, NaCl, dan sulfur.
Kegiatan sosialisasi tersebut diharapkan dapat menambah wawasan masyarakat Desa Blayu mengenai pemanfaatan bahan organik menjadi produk alternatif di bidang pertanian. Pada akhirnya, pemanfaatan cuka kayu diarahkan sebagai salah satu upaya untuk mendukung pertanian yang lebih berkelanjutan melalui pengembangan bahan organik menjadi produk yang memiliki nilai guna.
Penulis : Arga Vemas Akbartian


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.