MGMP Biologi MA Provinsi Jawa Timur gelar Bimtek ‘Budidaya Ikan dengan Teknik Bioflok’ di MAN 2 Lamongan, tingkatkan keterampilan guru untuk pendidikan kontekstual dan mandiri.
LAMONGAN, 14 JUNI 2025 – MGMP
Biologi Madrasah Aliyah Provinsi Jawa Timur menunjukkan langkah progresif dalam
mendekatkan sains terapan ke dunia pendidikan dengan menggelar Bimbingan Teknis
(Bimtek) bertajuk “Budidaya Ikan dengan Teknik Bioflok”.
Kegiatan ini menjadi tonggak awal kerja sama strategis antara MGMP Biologi MA Provinsi
Jawa Timur yang diketuai oleh Dr. Dyah Istami Suharti, M.KPd dengan Fakultas
Ketahanan Pangan Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Pelaksanaan Bimtek bertempat
di MAN 2 Lamongan, bimtek ini diikuti oleh guru-guru dari kota dan kabupaten
jawa timur sejumlah 89 orang.
Menariknya, teknik bioflok ini merupakan pendekatan
modern dan ramah lingkungan dalam budidaya ikan yang belum banyak diperkenalkan
di dunia pendidikan, khususnya di madrasah. Ketika tawaran ini diajukan oleh
pihak UNESA, Dr. Dyah sebagai Ketua MGMP langsung menjemput bola dan
menyambutnya dengan penuh semangat. Langkah cepat dan
semangat membara dari Bu Dyah guru biologi MAN 1 Kota Malang (ASN Kementerian
Agama Kota Malang) menjadi pemantik semangat bagi para guru Biologi MA se-Jatim
untuk turut serta dalam gerakan edukatif berbasis bioflok ini. Tanpa
menunggu waktu lama, beliau segera menggerakkan jaringan MGMP dengan lincah dan
responsif, menandai bahwa pendidikan berbasis keterampilan dan inovasi memang
telah menjadi orientasi utama MGMP Biologi MA Jawa Timur.
Pada kegiatan bimtek “Budidaya Ikan dengan Teknik
Bioflok” pada acara pembukaan dihadiri oleh Kabid Pendma Kantor Wilayah
Provinsi Jawa Timur Bpk Dr. Sugiyo, M.Pd, Kepala Kementrian Agama
Kabupaten
Lamongan Bpk. M. Muhlisin
Mufa, S.Ag, M.Pd.I dan Kepala MAN 2
Lamongan Bpk. Purnomo, S.Pd, M.Pd. Pemateri dari UNESA yaitu Prof. Dr.
Isnawati, M.Si dan Pak Agung Lutfi, SPd, M.Si. Hadir juga Kaprodi S1 Akuakultur
Ibu Reni Ambarwati, S.Si, M.Sc dan Ketua Panitia PKM Ibu Firas Khaleyla, S.Si,
M.Si. Kabid Pendma Kanwil Kemenag Jawa Timur, Bpk. Dr. Sugiyo dalam sambutannya menyampaikan bahwa guru harus mampu
mengintegrasikan ilmu dalam konteks kehidupan
nyata dan membentuk
karakter siswa yang bertanggung jawab,
cerdas, dan inovatif.
Era Society 5.0 menuntut guru yang adaptif, melek
teknologi, dan inovatif. Guru harus terus belajar, bertransformasi, dan
berkolaborasi untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna, kreatif, dan
kontekstual. Dengan kompetensi yang terus diasah, guru mampu menghadirkan
pendidikan yang responsif terhadap tantangan global dan kebutuhan siswa masa
kini.
Kegiatan ini bukan sekadar seremoni kerja sama,
melainkan langkah nyata untuk membekali para guru dengan keterampilan praktis
yang bisa ditularkan kepada siswa, bahkan membuka peluang madrasah menjadi
pusat produksi berbasis teknologi bioflok. Ini membuktikan bahwa MGMP Biologi
MA Jatim tidak hanya bergerak di tataran wacana, tapi hadir sebagai pelopor
perubahan yang adaptif, progresif, dan relevan dengan tantangan masa depan.
Prodi
S1 Akuakultur atau Budi Daya Perairan mempelajari ilmu-ilmu dan teknologi budi
daya perairan, serta pengelolaan kegiatan budi daya mulai dari perairan tawar,
payau, dan laut; misalnya budi daya ikan dan non-ikan (udang, kerang, rumput
laut). Program Studi S1 Akuakultur
Universitas Negeri Surabaya berada di bawah naungan Fakultas Ketahanan Pangan.
Program studi ini bervisi mengembangkan program studi S1 Akuakultur yang
tangguh, adaptif, inovatif, dan kolaboratif berbasis kewirausahaan, rekayasa
budi daya, dan potensi lokal dalam pemanfaatan sumber daya perairan secara
berkelanjutan. Informasi lebih lengkap dapat mengunjungi website Akuakultur
Unesa (https://akuakultur.fkp.unesa.ac.id/).
“Budidaya
ikan dengan teknik bioflok ini merupakan kerja sama perdana yang dijalin antara
Fakultas Ketahanan Pangan UNESA dan MGMP Biologi MA Jawa Timur. Kegiatan ini
diharapkan menjadi titik awal lahirnya pembelajaran kontekstual di madrasah.
Melalui bimtek ini, para guru Biologi didorong untuk menerapkan teknik bioflok
di madrasah masing-masing sebagai bentuk pembekalan keterampilan hidup bagi
peserta didik, sekaligus membuka peluang madrasah menjadi lebih produktif dan
mandiri.” (dis).



Komentar Pembaca
Kolom komentar untuk artikel ini sudah ditutup.