Langsung ke konten
Minggu, 25 Oktober 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Malang

Bahasa Arab, Nadi Keilmuan UIN Malang: Menjaga Warisan, Menghidupkan Keunggulan

Ada ungkapan yang cukup populer di kalangan penggiat bahasa Arab di Indonesia: “Jika ingin belajar bahasa Arab dan mengembangkannya, silakan datang ke UIN Malang"

Prof. Dr. Uril Bahruddin, M.A. (Guru Besar UIN Malang)

Prof. Dr. Uril Bahruddin, M.A. (Guru Besar UIN Malang)

Penulis: Prof. Dr. Uril Bahruddin, M.A. (Guru Besar UIN Malang)

Ada ungkapan yang cukup populer di kalangan penggiat bahasa Arab di Indonesia: “Jika ingin belajar bahasa Arab dan mengembangkannya, silakan datang ke UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.”

Ungkapan tersebut tentu bukan sekadar pujian. Ia merupakan pengakuan atas reputasi akademik yang dibangun melalui perjalanan panjang, kebijakan kelembagaan yang berani, serta komitmen yang relatif konsisten. Di balik reputasi itu, terdapat sesuatu yang jauh lebih mendasar daripada sekadar program unggulan: sebuah ekosistem bahasa Arab yang tumbuh, saling terhubung, dan menjadi bagian dari tradisi akademik UIN Malang.

Memasuki usia ke-65, ada baiknya kita tidak hanya merayakan capaian yang telah ditorehkan, tetapi juga menengok kembali fondasi yang membuatnya tumbuh. Bagaimana bahasa Arab menjadi bagian dari identitas akademik UIN Malang? Sejauh mana kontribusinya terhadap reputasi dan pengembangan keilmuan universitas? Dan yang tidak kalah penting, bagaimana keunggulan tersebut dapat terus dijaga di tengah perubahan zaman?

Baca juga: Mahasiswa PBA UIN Malang Praktik Mengajar di MTsN 2, Terapkan Pembelajaran Bahasa Arab Humanistik

Baca juga: Guru Besar PBA UIN Malang Perkenalkan Pembelajaran Bahasa Arab Berbasis AI di Universitas Jambi

Pertanyaan-pertanyaan ini penting diajukan, sebab mempertahankan reputasi tidak cukup dengan mengenang keberhasilan masa lalu. Ia menuntut kesediaan untuk mengevaluasi, memperbaiki, dan memperbarui apa yang telah dibangun.

Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar Program

Salah satu keunggulan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang terletak pada keberaniannya menempatkan bahasa Arab sebagai bagian penting dari pengalaman akademik mahasiswa. Komitmen tersebut antara lain diwujudkan melalui Program Khusus Perkuliahan Bahasa Arab (PKPBA), yang mewajibkan mahasiswa baru mengikuti pembelajaran bahasa Arab secara intensif selama satu tahun pada tahun pertama perkuliahan.

Program ini menjadi fondasi awal bagi mahasiswa untuk menguasai bahasa Arab sebagai bekal memasuki kehidupan akademik dan keislaman yang lebih luas. Namun, pembelajaran bahasa tentu tidak cukup hanya mengandalkan pertemuan di ruang kelas. Bahasa merupakan keterampilan yang tumbuh melalui pembiasaan, interaksi, dan lingkungan yang memungkinkan seseorang menggunakannya secara berkelanjutan.

Kesadaran tersebut menemukan bentuknya dalam keberadaan Ma’had Sunan Ampel Al-‘Aly. Melalui kehidupan berasrama, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan kebahasaan, tetapi juga memiliki ruang untuk mempraktikkan bahasa Arab, membangun kebiasaan berkomunikasi, dan menghubungkan pembelajaran di kelas dengan pengalaman sehari-hari.

Ekosistem itu semakin lengkap dengan keberadaan Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) dan Bahasa dan Sastra Arab (BSA) pada jenjang sarjana, program magister pada kedua bidang tersebut, serta program doktor Pendidikan Bahasa Arab. Rangkaian kelembagaan ini membentuk kesinambungan antara pembelajaran dasar, praktik kebahasaan, pengembangan kompetensi akademik, penelitian, hingga produksi ilmu pengetahuan.

Iklan

Dengan demikian, kekuatan UIN Malang tidak tepat jika hanya diukur dari keberadaan PKPBA, ma’had, atau program studi tertentu secara terpisah. Keunggulan sesungguhnya justru terletak pada keterhubungan seluruh unsur tersebut. Inilah yang saya sebut sebagai ekosistem bahasa Arab.

Sebagaimana ekosistem dalam ilmu biologi, setiap unsur memiliki fungsi dan saling memengaruhi. Ketika satu unsur melemah, unsur lainnya berpotensi ikut terdampak. Pembelajaran intensif tanpa lingkungan praktik, misalnya, berisiko membuat penguasaan bahasa berhenti pada pengetahuan kaidah. Sebaliknya, lingkungan praktik tanpa penguatan akademik dapat menjadikan keterampilan berbahasa kehilangan kedalaman keilmuan.

Begitu pula program studi yang kuat akan memperoleh dukungan lebih baik apabila ditopang oleh mahasiswa dengan fondasi bahasa Arab yang memadai. Hubungan timbal balik inilah yang menjadikan ekosistem lebih bermakna daripada sekadar kumpulan program. Setiap unsur tidak hanya berjalan sendiri, tetapi saling menguatkan untuk menghasilkan capaian yang lebih besar.

Dari Keunggulan Lokal Menuju Pengaruh Nasional

Model pengembangan bahasa Arab UIN Malang telah menjadi inspirasi bagi sejumlah perguruan tinggi keagamaan Islam di Indonesia. Pola pembelajaran intensif dan kehidupan ma’had, misalnya, menjadi pendekatan yang dicoba diadopsi oleh berbagai institusi untuk meningkatkan kemampuan bahasa Arab mahasiswa.

Namun, pengalaman menunjukkan bahwa mereplikasi struktur program tidak serta-merta menghadirkan keberhasilan yang sama. Di sejumlah tempat, keberlanjutan program bahkan menghadapi persoalan serius.

Di sinilah terdapat pelajaran penting: keberhasilan sebuah model tidak hanya ditentukan oleh desain program, tetapi juga oleh visi kelembagaan, kesinambungan kebijakan, kualitas sumber daya manusia, dukungan pendanaan, evaluasi, dan budaya akademik yang menopangnya. Ekosistem tidak dapat dibangun hanya dengan menyalin nama program atau bentuk kelembagaannya. Ia membutuhkan komitmen untuk menghidupkan seluruh unsur secara konsisten dan berkelanjutan.

Reputasi UIN Malang di tingkat nasional maupun internasional juga tidak dapat dilepaskan dari lingkungan akademik yang mendukung penguasaan bahasa Arab. Bahasa ini membuka akses terhadap khazanah keilmuan Islam, memperluas jejaring kerja sama internasional, sekaligus memperkuat kepercayaan mitra luar negeri.

Dalam perjalanan kelembagaan kampus, dukungan pendanaan dari Islamic Development Bank (IDB) dan Saudi Fund for Development (SFD) merupakan bagian dari sejarah pengembangan institusi yang patut direnungkan. Demikian pula kekayaan koleksi perpustakaan berbahasa Arab yang mencakup beragam disiplin ilmu.

Menurut pengamatan saya, koleksi tersebut memiliki nilai strategis karena membuka kesempatan bagi sivitas akademika untuk mengakses sumber pengetahuan yang lebih luas. Bahasa Arab tidak hanya menjadi pintu masuk untuk memahami literatur keislaman, tetapi juga dapat mengantarkan pembaca pada perkembangan pengetahuan di bidang kesehatan, ekonomi, teknik, dan berbagai disiplin ilmu lainnya.

Iklan

Kepercayaan mitra, dukungan sumber daya, dan kemampuan memanfaatkan literatur internasional merupakan modal akademik yang perlu terus dirawat. Dengan kata lain, bahasa Arab di UIN Malang bukan sekadar mata kuliah atau keterampilan tambahan. Ia merupakan salah satu infrastruktur intelektual yang turut menopang reputasi dan pengembangan keilmuan universitas.

Ketika Keunggulan Mulai Memerlukan Perhatian

Merayakan keberhasilan masa lalu tentu penting. Namun, refleksi yang bermakna tidak boleh berhenti pada romantisme kejayaan. Ia harus disertai keberanian membaca keadaan hari ini, termasuk ketika ditemukan gejala yang patut menjadi perhatian.

Secara jujur, saya merasakan adanya indikasi bahwa kualitas ekosistem bahasa Arab di UIN Malang mulai mengalami penurunan pada aspek-aspek tertentu. Salah satu hal yang perlu dicermati adalah kemampuan aktif berbahasa Arab di kalangan lulusan.

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya, dahulu terdapat mahasiswa dari program studi umum, seperti ekonomi dan informatika, yang mampu menyusun tugas akhir menggunakan bahasa Arab. Pencapaian tersebut bahkan memperoleh apresiasi dari pimpinan universitas. Hal ini menunjukkan bahwa penguasaan bahasa Arab tidak hanya menjadi milik mahasiswa program studi kebahasaan, tetapi juga dapat berkembang di kalangan mahasiswa dari disiplin ilmu lain.

Kini, praktik semacam itu, sejauh yang saya ketahui, semakin jarang terdengar. Tentu, pengamatan ini belum cukup untuk menyimpulkan bahwa kemampuan bahasa Arab mahasiswa dan lulusan secara keseluruhan telah menurun. Diperlukan data dan evaluasi yang sistematis untuk memastikan sejauh mana perubahan tersebut benar-benar terjadi. Namun, gejala ini cukup penting untuk dijadikan bahan refleksi bersama.

Pertanyaan mendasarnya bukan lagi sekadar apakah mahasiswa masih mempelajari bahasa Arab, melainkan apakah mereka benar-benar mampu menggunakannya. Apakah lulusan program studi umum mampu membaca literatur berbahasa Arab sesuai bidang keilmuannya? Apakah mereka memiliki keberanian untuk berdiskusi, menulis, dan menyampaikan gagasan dalam bahasa Arab? Apakah pembelajaran intensif selama satu tahun telah menghasilkan kompetensi yang bertahan hingga akhir masa studi?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu dijawab secara terbuka dan terukur. Keberhasilan program bahasa Arab tidak semestinya hanya dinilai dari terselenggaranya kegiatan, jumlah jam pembelajaran, atau terpenuhinya target administratif. Ukuran yang lebih substantif adalah kemampuan nyata mahasiswa dan lulusan dalam menggunakan bahasa Arab, baik untuk komunikasi maupun pengembangan keilmuan.

Sebab, program yang berjalan belum tentu menghasilkan kompetensi yang diharapkan. Pembelajaran yang intensif belum tentu menjamin kemampuan yang bertahan lama. Di antara keduanya terdapat pekerjaan penting yang tidak boleh diabaikan: memastikan bahwa bahasa Arab benar-benar hidup dalam keseharian akademik mahasiswa.

Menjaga Warisan, Menghidupkan Masa Depan

Pada momentum Dies Natalis ke-65 ini, saya ingin menyampaikan sebuah harapan kepada seluruh sivitas akademika dan para pemimpin UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, baik yang sedang mengemban amanah maupun yang akan datang: jangan pernah merasa cukup dengan capaian yang telah diraih. Reputasi adalah amanah yang harus dijaga, bukan alasan untuk berpuas diri.

Ekosistem bahasa Arab yang telah dibangun perlu terus diperkuat melalui evaluasi berkala, peningkatan kualitas pengajar, integrasi pembelajaran dengan kebutuhan akademik lintas program studi, serta pengembangan lingkungan berbahasa yang lebih hidup. Kemampuan aktif mahasiswa juga perlu ditempatkan sebagai salah satu indikator keberhasilan yang jelas dan terukur.

Iklan

Di era digital, upaya tersebut perlu disertai pemanfaatan teknologi secara cerdas. Kecerdasan buatan, platform pembelajaran digital, sumber literatur elektronik, dan komunitas komunikasi lintas negara dapat memperluas kesempatan mahasiswa untuk membaca, menulis, menyimak, dan berbicara dalam bahasa Arab.

Namun, teknologi semestinya berfungsi sebagai penguat ekosistem, bukan pengganti interaksi manusia, keteladanan dosen, dan budaya akademik yang menjadi fondasinya. Teknologi dapat menyediakan akses dan memperbanyak kesempatan berlatih, tetapi lingkungan yang mendorong mahasiswa untuk benar-benar menggunakan bahasa tetap harus dibangun melalui kebijakan dan praktik kelembagaan.

Lebih jauh, bahasa Arab perlu terus dihubungkan dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat. Mahasiswa tidak cukup hanya mampu memahami teks-teks keagamaan. Mereka juga perlu memiliki kemampuan mengakses perkembangan ilmu kontemporer melalui sumber-sumber berbahasa Arab. Dengan begitu, bahasa Arab tidak berhenti sebagai sarana memahami warisan keilmuan Islam, tetapi berkembang menjadi jembatan yang menghubungkan tradisi, ilmu pengetahuan modern, dan pergaulan akademik global.

Pada akhirnya, keunggulan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tidak hanya terletak pada sejarah keberhasilannya membangun program bahasa Arab, tetapi pada kemampuannya menjaga, menghidupkan, dan mengembangkan ekosistem tersebut. Membangun sebuah keunggulan membutuhkan perjuangan panjang. Namun, mempertahankannya menuntut kesadaran untuk terus mengevaluasi diri, konsistensi dalam kebijakan, dan keberanian untuk berbenah.

Pada usia ke-65 ini, harapannya UIN Malang tidak hanya dikenang sebagai kampus yang pernah unggul dalam pembelajaran bahasa Arab. Lebih dari itu, UIN Malang harus terus tumbuh sebagai rujukan nasional dan internasional dalam pengembangan bahasa Arab yang hidup, produktif, dan berdaya guna bagi kemajuan ilmu pengetahuan serta peradaban.

Sebab, warisan keunggulan tidak cukup untuk dibanggakan; ia harus terus dihidupkan dan diwariskan.

Foto profil M. Kholilur Rohman
M. Kholilur Rohman

Pegiat literasi yang berasal dari Kota Sumenep dan Founder Komunitas Maliki Book Party

Lihat semua artikel oleh M. Kholilur Rohman

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.