MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Kecintaan kepada Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), Nahdlatul Ulama (NU), dan tanah air harus menjadi bagian tak terpisahkan dari jati diri santri.
Pesan tersebut disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam Malang, Drs. KH Muhammad Nafi’, dalam pengajian umum peringatan Hari Santri Nasional di Masjid Al-Ridho, Desa Belung, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jumat (23/10/2026).
Pengajian yang berlangsung seusai salat Jumat itu sekaligus menandai berakhirnya program Kuliah Kerja Nyata (KKN) berbasis masjid yang diikuti sembilan mahasiswa Institut Agama Islam (IAI) KH Ahmad Hasyim Muzadi Malang.
Kegiatan tersebut mempertemukan tradisi keilmuan pesantren, pengabdian mahasiswa, dan kehidupan keagamaan masyarakat.
Baca juga: Hari Santri 2026: MWCNU Poncokusumo Malang Gelar Gerak Jalan dan Festival
Sorotan
Hari Santri di Belung
Cinta Aswaja, NU, dan Tanah Air

Dalam tausiyahnya, KH Muhammad Nafi’ menyampaikan pesan yang dinisbatkan kepada KH Abdul Muhid Muzadi mengenai tiga bentuk kecintaan yang perlu ditanamkan dalam diri setiap santri.
“Yang pertama, cinta kepada Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Yang kedua, cinta kepada Ahlussunnah wal Jamaah yang diwadahi dalam Nahdlatul Ulama. Yang ketiga, cinta tanah air,” tuturnya.
Pesan tersebut menegaskan bahwa menjadi santri bukan sekadar menguasai ilmu agama.
Kesantrian juga menuntut akhlak, komitmen menjaga persatuan, dan kepedulian terhadap kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
KH Muhammad Nafi’ juga mengulas Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dalam perspektif syariat Islam.
Ia menyoroti keterkaitan nilai-nilai kebangsaan dengan ajaran Islam dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
“Substansi dari semua itu adalah para ulama dan kiai menitipkan wasilah, kunci surga, yaitu la ilaha illallah,” jelasnya.
KKN Berbasis Masjid, Mahasiswa Belajar Mengabdi

Pengajian tersebut menjadi penanda berakhirnya program KKN berbasis masjid yang dilaksanakan sembilan mahasiswa IAI KH Ahmad Hasyim Muzadi Malang di Masjid Al-Ridho Belung. Program ini berada di bawah bimbingan Dr. Jodang Setia Adi Anista R.
Melalui program tersebut, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk menghubungkan pengetahuan akademik dengan kehidupan keagamaan dan sosial masyarakat.
Masjid menjadi ruang perjumpaan yang memungkinkan mahasiswa belajar memahami lingkungan sekaligus menjalankan pengabdian.
Pengalaman terjun langsung ke masyarakat juga mengingatkan bahwa ilmu tidak berhenti pada teori.
Pengetahuan perlu disertai kepekaan terhadap kebutuhan sesama dan diwujudkan dalam tindakan yang memberikan manfaat.
Karena itu, keberhasilan pengabdian tidak semata-mata diukur dari selesainya program atau terpenuhinya kewajiban akademik. Hal yang tidak kalah penting ialah keberlanjutan semangat belajar, kepedulian, dan kemauan untuk terus berkontribusi setelah kegiatan berakhir.
Masjid sebagai Pusat Pembinaan Umat
Peringatan Hari Santri menjadi momentum untuk merawat tradisi keilmuan Islam sekaligus memperkuat pengabdian kepada masyarakat.
Semangat tersebut dapat diwujudkan melalui pendidikan, pelayanan sosial, pemeliharaan kerukunan, dan keterlibatan aktif dalam kehidupan warga.
Masjid memiliki peran strategis dalam upaya tersebut. Selain menjadi tempat ibadah, masjid juga dapat berfungsi sebagai pusat pendidikan keagamaan, silaturahmi, pembinaan akhlak, dan penguatan solidaritas sosial.
Masjid Al-Ridho diharapkan terus menjalankan peran tersebut bagi masyarakat Desa Belung.
Melalui kegiatan keagamaan dan sosial yang berkelanjutan, masjid dapat menjadi ruang bersama untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah serta menumbuhkan kehidupan masyarakat yang religius, rukun, dan saling peduli.
Sejumlah tokoh dan unsur masyarakat turut menghadiri kegiatan tersebut, di antaranya H. M. Syamsu Duha, S.Sos., pengurus Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Malang.
Sulhan Hadi Wijaya, S.E., Pelaksana Harian (Plh.) Kepala Desa Belung; Hj. Dra. Roudotul Jannah, Ketua Muslimat NU Ranting Belung.
Kiai Syaikhudin Romli, pengasuh TPQ Al-Ridlo Belung; Saiful Anam, Ketua Pimpinan Cabang Pagar Nusa Kabupaten Malang; serta Hj. Lilik Rohana, pengurus Fatayat NU Pimpinan Anak Cabang Poncokusumo.
Makna Hari Santri
Pada akhirnya, semangat Hari Santri tidak berhenti pada peringatan tahunan. Maknanya hadir ketika ilmu melahirkan akhlak, keyakinan menumbuhkan kepedulian, dan kecintaan kepada tanah air diwujudkan melalui tanggung jawab terhadap kehidupan bersama.
Berakhirnya KKN menutup satu tahap pembelajaran bagi mahasiswa. Namun, semangat mengamalkan ilmu dan memberikan manfaat kepada masyarakat semestinya terus berlanjut.***
Kontributor: Rofii


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.