Langsung ke konten
Jumat, 23 Oktober 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Daerah

Dosen UMM Ajak Mahasiswa Baru Tinggalkan SKS dan Bangun Kebiasaan Produktif

Tantangan Transisi dari Sekolah ke Dunia Kampus MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Masa transisi dari Sekolah Menengah Atas (SMA) ke dunia perkuliahan kerap kali

Dr. Dyah Worowirastri Ekowati saat memberikan materi adaptasi akademik kepada mahasiswa baru UMM di Masjid AR Fachruddin.

Dr. Dyah Worowirastri Ekowati saat memberikan materi adaptasi akademik kepada mahasiswa baru UMM di Masjid AR Fachruddin. (Foto: Humas UMM)

Tantangan Transisi dari Sekolah ke Dunia Kampus

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Masa transisi dari Sekolah Menengah Atas (SMA) ke dunia perkuliahan kerap kali membuat mahasiswa baru merasa kaget dengan budaya akademik yang berbeda. Tugas teori yang menumpuk sejak semester awal sering kali memicu rasa jenuh hingga berujung pada kebiasaan Sistem Kebut Semalam (SKS). Menyikapi fenomena tersebut, Kepala Bagian Pendidikan dan Pengajaran Umum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Dyah Worowirastri Ekowati, S.Pd., M.Pd., membagikan berbagai tips jitu adaptasi akademik. Hal tersebut disampaikannya di hadapan ribuan mahasiswa baru Gen 26 UMM dalam kegiatan kajian Kamisya yang digelar di Masjid AR Fachruddin UMM, Kamis (22/10/2026).

Di hadapan para mahasiswa, dosen yang akrab disapa Woro ini menegaskan bahwa pola belajar saat di bangku SMA tidak lagi relevan diterapkan di lingkungan kampus. Menurutnya, mahasiswa di perkuliahan dituntut untuk belajar secara mandiri serta mampu memecahkan masalahnya sendiri secara kreatif. “Di kampus, kitalah yang memandu diri sendiri. Kapan tugas harus selesai, kapan dikumpulkan, sampai proyek apa yang mau dikerjakan, semuanya ada di tangan mahasiswa,” ujar Woro menjelaskan.

Baca juga: Konflik Timur Tengah, UMKM Kita yang ‘Berdarah Oleh: Firmanda Ibrahim, Mahasiswa Ilmu Pemerintahan, Universitas Muhammadiyah Malang

Iklan

Baca juga: Menyelami Langkah Mahasiswa FH Universitas Muhammadiyah Malang dari Perkampungan Terpencil Tambak Pipi’i(HSS) di Kalsel ke Bangku Sidang Akhir pekuliahan

Kenali Tiga Tipe Mahasiswa dalam Menghadapi Masalah Akademik

Menanggapi keluhan seputar tumpukan tugas, Woro menerangkan bahwa tugas pada awal semester memang didominasi oleh teori sebagai fondasi ilmu dasar. Namun, ia memastikan bahwa pada semester-semester berikutnya, perkuliahan akan beralih ke ranah praktik, mulai dari pembuatan proyek, pemecahan studi kasus, hingga kegiatan riset mendalam. Ia juga mengingatkan bahwa tugas kuliah tidak sekadar berorientasi pada pencarian nilai semata, melainkan sebagai instrumen penting untuk mengukur sikap, pengetahuan, serta keterampilan mahasiswa.

Selain itu, penugasan kelompok juga dirancang untuk menguji mental mahasiswa agar mampu berkolaborasi dengan baik secara tim. Berdasarkan riset yang dilakukannya, Woro memetakan tiga tipe mahasiswa saat berhadapan dengan kendala akademik. Pertama adalah tipe Quieters yang digambarkan sebagai individu mudah menyerah dan hanya sekadar titip nama dalam kelompok. Kedua yakni tipe Campers, yaitu mereka yang sebenarnya memiliki potensi besar namun cepat merasa puas dan cenderung menyerahkan sisa tugas kepada orang lain. Terakhir adalah tipe Climbers, yakni sosok mahasiswa pejuang sejati yang pantang menyerah menyelesaikan berbagai persoalan dalam situasi apa pun.

Strategi Manajemen Waktu dan Pendekatan Spiritual
Agar terhindar dari jebakan SKS dan sukses menjadi golongan Climbers, Woro menyarankan agar mahasiswa menguasai keterampilan pengaturan waktu secara efektif. Ia menjelaskan bahwa mahasiswa perlu cermat memilah aktivitas berdasarkan skala prioritas, mulai dari kegiatan yang penting dan mendesak, penting tetapi tidak mendesak, tidak penting namun mendesak, hingga aktivitas yang sama sekali tidak penting serta tidak mendesak seperti terlalu lama bermain gawai atau nongkrong tanpa arah tujuan yang jelas.
Langkah manajemen waktu tersebut dapat dikombinasikan dengan penerapan teknik Pomodoro, di mana mahasiswa fokus belajar secara intensif tanpa gangguan selama 25 menit disusul waktu istirahat selama 5 menit. Kendati demikian, Woro berpesan agar seluruh teknik pengelolaan waktu tersebut senantiasa berpedoman pada jadwal salat lima waktu sebagai landasan utama dalam menata rutinitas harian. “Produktif bukan cuma soal sibuk mengejar IPK, tapi bagaimana proses belajar kita bisa bermanfaat bagi sesama dan bernilai ibadah. Jangan menunggu waktu luang untuk belajar, tapi luangkanlah waktu untuk belajar agar jadi mahasiswa yang pintar dan kuat spiritualnya,” tutup Woro mengakhiri sesinya.
Caption Gambar:

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.