MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Tasikmadu di bawah naungan MWC NU Lowokwaru akan menggelar kegiatan istimewa: Majelis Byar Pêt & Lailatul Ijtima.
Kegiatan yang mengusung tradisi khas pesantren ini akan diisi dengan Ngaji Kitab Sunan At-Tirmidzi bersama guru kita, Prof. KH. Mujab Mashudi, PH.D.
Majelis ini dilaksanakan pada:
Baca juga: Gaduh Penganiayaan di Desa Balearjo, Warga Laporkan Seorang Guru Ngaji ke Polres Malang
Baca juga: Masa Depan Masih Suci, KH Tugiono Bashori Sambut HSN 2026 di Pengajian Muslimat NU Widodaren Ngawi
Hari / Tanggal: Jumat, 16 Oktober 2026
Pukul: 19.00 WIB – selesai
Tempat: Masjid Sirathal Mustaqim, Jl. Golf No. 70, Tasikmadu, Lowokwaru, Kota Malang.
Poster kegiatan menampilkan semangat kebersamaan pengurus Ranting Tasikmadu dengan para kiai, sebagai simbol guyub dan rukunnya pengurus NU di tingkat akar rumput.

Menghidupkan Tradisi Pesantren Melalui Sanad Keilmuan dan Solidaritas Umat
Apa itu Majelis Byar Pêt & Lailatul Ijtima?
1. Byar Pêt: Tradisi NU berupa syukuran dengan menyalakan lampu/petromak bersama, sebagai simbol cahaya ilmu yang menerangi kampung. Dahulu dilakukan saat khataman ngaji, kini menjadi simbol kebersamaan warga.
2. Lailatul Ijtima: Malam berkumpulnya pengurus NU dari tingkat Ranting, MWC, Lembaga, dan Banom untuk koordinasi, konsolidasi, dan ngaji bersama. Ini adalah jantung organisasi NU.
Manfaat Kegiatan Ini:
Kegiatan ini memiliki 4 manfaat besar :
1. Menguatkan Akar Tradisi Keilmuan (Sanad):
Ngaji Sunan At-Tirmidzi bersama Prof. KH. Mujab Mashudi bukan sekadar ngaji, tapi menyambung sanad keilmuan hadits. Santri Tasikmadu diajak kembali ke kitab mu’tabarah, bukan hanya belajar agama dari potongan video TikTok. Ini adalah vaksin dari paham yang mengaku paling benar tanpa sanad.
2. Menguatkan Akar Tradisi Sosial (Guyub Rukun):
Tradisi Byar Pêt mengajarkan bahwa NU itu hadir dengan cahaya, bukan dengan caci maki. Lailatul Ijtima menguatkan silaturahim pengurus. Jika pengurusnya guyub, maka jamaahnya akan kuat. Ini modal sosial untuk menjaga keutuhan kampung Tasikmadu dari perpecahan.
3. Menjaga Keutuhan Spiritual Warga:
Masjid Sirathal Mustaqim sebagai tempat ngaji akan menjadi pusat cahaya. Di era judi online, pinjol, dan konten flexing yang membuat cemas, majelis ngaji seperti ini adalah _healing_ terbaik. Hati menjadi tenang karena kembali kepada hadits-hadits Rasulullah SAW. QS Ar-Ra’d: 28 – hati tenang dengan berdzikir.
4. Membumikan Fikih Kehidupan:
Kitab Sunan At-Tirmidzi banyak membahas tentang adab, muamalah, dan kehidupan sehari-hari. Ngaji ini akan memberikan panduan praktis bagaimana menjadi santri yang berakhlak, profesional, dan tetap menjaga ke-NU-an di tengah kota Malang yang modern.
MWC NU Lowokwaru mengajak seluruh warga NU Lowokwaru, khususnya Tasikmadu, Dinoyo, Tlogomas, dan sekitarnya, untuk hadir tepat waktu dan membawa catatannya.
“Dari Masjid Sirathal Mustaqim, cahaya Tasikmadu menyala untuk Indonesia. Jangan sampai tidak hadir,” pesan Panitia.
Hadir, Ngaji, dan Ngalap Berkah Kiai.


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.