Langsung ke konten
Sabtu, 17 Oktober 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Daerah

Senator Lia Istifhama Kenalkan Filosofi SUPERRR, Dorong Kepemimpinan Mahasiswa UB

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Hj. Lia Istifhama, M.E.I., hadir memberikan motivasi kepada ratusan mahasiswa dalam ajang

Senator DPD RI Jatim Dr. Lia Istifhama saat menyampaikan materi di Universitas Brawijaya.

Senator DPD RI Jatim Dr. Lia Istifhama saat menyampaikan materi di Universitas Brawijaya. (Foto: Tim Lia Istifhama, istimewa)

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Hj. Lia Istifhama, M.E.I., hadir memberikan motivasi kepada ratusan mahasiswa dalam ajang Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa Tingkat Lanjut (LKMM-TL) Universitas Brawijaya 2026 yang dihelat di Gedung Widyaloka, Universitas Brawijaya, Malang.

Dalam kesempatan tersebut, senator yang akrab disapa Ning Lia ini mengajak generasi muda untuk membangun karakter kepemimpinan yang utuh—tidak hanya mengandalkan kecerdasan intelektual, melainkan juga memiliki empati, integritas, tanggung jawab, serta ketangguhan mental dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.

Sesi foto bersama peserta LKMM-TL UB 2026 bersama Dr. Lia Istifhama.
Sesi foto bersama peserta LKMM-TL UB 2026 bersama Dr. Lia Istifhama. (Foto: Istimewa)

Bedah Konsep SUPERRR untuk Pemimpin Masa Depan

Hadir sebagai narasumber dengan materi Capacity Building: Public & Self Management, Ning Lia memperkenalkan filosofi SUPERRR yang mencakup Sociable, Unique, Problem Solver, Empathy, Responsibility, serta Resolution and Resiliency. Menurutnya, kepemimpinan sejati tidak bisa diukur sekadar dari jabatan atau besarnya pengaruh seseorang semata.

Baca juga: Wakil PM Timor-Leste Mariano Assanami Sabino Sapa Mahasiswa FBiPK UB, Bagikan Pesan tentang Karakter dan Kepemimpinan

Baca juga: Festival Bulan Pendidikan MPI UIN Malang Ditutup, Transformasi Kepemimpinan dan Manajerial Jadi Sorotan

“Menjadi pemimpin bukan hanya soal kecerdasan atau keberanian berbicara, tetapi bagaimana kita mampu memahami orang lain, menyelesaikan persoalan, dan bertanggung jawab atas setiap keputusan. Melalui filosofi SUPERRR, saya ingin mengajak mahasiswa membangun karakter kepemimpinan yang kuat, berempati, dan tangguh menghadapi perubahan,” ujar Ning Lia di hadapan para peserta.

Iklan

Ia menjelaskan bahwa prinsip Sociable mengajarkan pentingnya membangun hubungan sosial yang sehat, sementara Unique menekankan perlunya mengenali potensi serta karakter diri sendiri. Selain itu, kemampuan sebagai Problem Solver sangat dibutuhkan agar perbedaan pendapat di dalam organisasi dapat dikelola secara rasional menjadi sebuah kekuatan solusi, bukan sumber konflik.

Antusiasme mahasiswa Universitas Brawijaya mengikuti pembekalan kepemimpinan.
Antusiasme mahasiswa Universitas Brawijaya mengikuti pembekalan kepemimpinan. (Foto: Istimewa)

Empati, Tanggung Jawab, dan Mental Pantang Menyerah

Lebih lanjut, Ning Lia memberikan perhatian khusus pada prinsip Empathy dan Responsibility. Ia menegaskan bahwa seorang pemimpin yang baik bukanlah mereka yang sekadar didengar ketika berbicara, melainkan sosok yang mau mendengarkan serta memiliki kepekaan sosial tinggi.

“Pemimpin yang baik bukan hanya mereka yang didengar ketika berbicara, tetapi juga mereka yang mau mendengarkan. Karena kepemimpinan bukan sekadar menggerakkan orang lain, melainkan bagaimana kita membangun kepercayaan, menjaga integritas, dan menghadirkan kebaikan bersama,” tutur politisi perempuan yang juga aktif di berbagai kegiatan sosial tersebut.

Nilai empati tersebut, lanjutnya, harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab serta mental ketangguhan (Resolution and Resiliency). Di tengah dinamika kehidupan yang tidak selalu berjalan mulus, generasi muda dituntut untuk tidak mudah patah semangat ketika menghadapi kegagalan.

“Jangan pernah takut menghadapi kegagalan. Sebab, pemimpin hebat bukanlah mereka yang tidak pernah jatuh, melainkan mereka yang selalu memiliki keberanian untuk bangkit, belajar, dan melangkah lebih baik. Setiap kesulitan adalah bagian dari proses membentuk karakter,” ungkapnya penuh semangat.

Menutup pemaparannya, Ning Lia berpesan agar mahasiswa Universitas Brawijaya tidak menjadikan organisasi sekadar batu loncatan untuk meraih jabatan, melainkan sebagai wadah pengabdian nyata untuk menghadirkan kemaslahatan dan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat.

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.