Langsung ke konten
Selasa, 8 September 2026
Headline Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026 
Daerah

Transformasi Pembelajaran Bahasa Arab di Era AI, Guru Besar UIN Malang Dorong Dosen Ubah Paradigma

TULUNGAGUNG | JATIMSATUNEWS.COM: Kehadiran kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) tidak cukup direspons dengan mengganti perangkat pembelajaran. Dosen dan perguruan tinggi perlu mengubah cara merancang pembelajaran, mengelola proses belajar, hingga melakukan penelitian bahasa Arab.

Pandangan tersebut disampaikan Prof. Dr. M. Abdul Hamid, MA, Guru Besar Bahasa Arab sekaligus Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Lembaga UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dalam seminar bertema “Transformasi Pembelajaran dan Penelitian Bahasa Arab di Era AI” yang digelar Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) UIN Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung, Senin (7/9/2026).

Seminar yang berlangsung di Aula Lantai 6 Gedung Saifuddin Zuhri itu diikuti dosen dan mahasiswa PBA UIN SATU Tulungagung. Forum tersebut membahas perubahan pembelajaran dan penelitian bahasa Arab di tengah perkembangan teknologi AI yang semakin cepat masuk ke ruang akademik.

Menurut Prof. Abdul Hamid, transformasi digital tidak boleh berhenti pada perubahan media pembelajaran.

“Transformasi digital jangan dimaknai hanya sebagai perubahan dari papan tulis biasa ke layar sentuh, atau dari kertas ke layar LCD. Itu baru perubahan media, belum tentu perubahan pembelajaran,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pemanfaatan teknologi seharusnya mendorong pembelajaran yang lebih smart, adaptif, terbuka, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. AI, kata dia, bukan tujuan akhir pendidikan, melainkan instrumen untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar.

“Yang harus berubah bukan hanya alatnya, tetapi cara kita merancang pembelajaran, cara mahasiswa belajar, cara dosen mengajar, dan cara perguruan tinggi menghasilkan pengetahuan,” tegasnya.

AI Buka Peluang Pembelajaran Lebih Personal

Dalam pembelajaran bahasa Arab, AI dapat digunakan untuk mengembangkan pengalaman belajar yang lebih personal dan adaptif. Teknologi tersebut memungkinkan materi dan latihan disesuaikan dengan kemampuan, kebutuhan, karakteristik, serta kecepatan belajar mahasiswa.

Iklan

Pemanfaatannya antara lain melalui personalized learning, latihan bahasa interaktif, pemberian umpan balik secara cepat, simulasi komunikasi, pengembangan keterampilan membaca dan menulis, hingga analisis kesalahan berbahasa.

Namun, kemajuan teknologi tidak berarti menghilangkan posisi dosen sebagai pendidik.

“AI bisa membantu proses pembelajaran, tetapi tidak dapat menggantikan dimensi pedagogis, keteladanan, nilai, dan sentuhan kemanusiaan seorang dosen,” jelasnya.

Karena itu, tantangan dosen bahasa Arab di era AI bukan lagi sebatas mampu menggunakan teknologi. Lebih jauh, dosen dituntut mampu mendesain pengalaman belajar yang bermakna serta menempatkan teknologi dalam kerangka pedagogis yang tepat.

Penelitian Bahasa Arab Perlu Bergerak Berbasis Data

Perubahan serupa, lanjut Prof. Abdul Hamid, juga diperlukan dalam penelitian bahasa Arab. AI membuka peluang bagi peneliti untuk mengembangkan kajian kebahasaan melalui pengumpulan, pengolahan, dan analisis data dalam skala yang lebih luas.

Ia menyebut sejumlah pendekatan yang dapat dikembangkan, seperti big data, corpus linguistics, analisis wacana berbasis komputasi, serta pemrosesan bahasa alami (Natural Language Processing/NLP). Fenomena penggunaan bahasa Arab di berbagai platform digital juga dapat menjadi sumber data penelitian.

“Peneliti bahasa Arab harus bergerak dari penelitian yang hanya bertumpu pada data terbatas menuju penelitian yang mampu membaca fenomena kebahasaan secara lebih luas, dinamis, dan berbasis data,” ujarnya.

Meski demikian, pemanfaatan AI dalam penelitian tetap harus disertai literasi metodologis dan etika akademik. AI dapat membantu menemukan pola, mengolah data, dan mempercepat proses penelitian, tetapi validitas data, ketepatan metodologi, orisinalitas gagasan, serta tanggung jawab ilmiah tetap berada pada peneliti.

Mahasiswa Tak Cukup Menguasai Bahasa Arab

Di hadapan mahasiswa PBA, Prof. Abdul Hamid juga mendorong perguruan tinggi agar tidak bersikap defensif terhadap perkembangan teknologi.

Iklan

Menurutnya, pendidikan bahasa Arab harus mampu menjadi bagian dari perubahan dengan tetap mempertahankan fondasi keilmuan yang telah dibangun.

“Bahasa Arab memiliki tradisi keilmuan yang sangat kuat. Tantangannya sekarang adalah bagaimana tradisi tersebut berdialog dengan teknologi, sehingga lahir inovasi tanpa kehilangan substansi keilmuan,” tuturnya.

Karena itu, mahasiswa PBA tidak cukup hanya menguasai empat keterampilan berbahasa Arab. Mereka juga perlu memiliki literasi digital dan AI, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, serta keterbukaan terhadap perkembangan keilmuan global.

Sementara bagi dosen, perubahan teknologi menuntut redefinisi peran akademik. Dosen tidak lagi cukup berfungsi sebagai sumber informasi, tetapi juga sebagai perancang pembelajaran, fasilitator, mentor, kurator pengetahuan, dan pengarah mahasiswa dalam menggunakan teknologi secara kritis serta bertanggung jawab.

Seminar tersebut juga menjadi ruang pertukaran gagasan antara UIN Malang dan UIN SATU Tulungagung mengenai masa depan pendidikan bahasa Arab. Forum akademik itu menunjukkan bahwa perkembangan AI tidak hanya menghadirkan tantangan teknologi, tetapi juga menuntut perguruan tinggi meninjau kembali model pembelajaran dan penelitian yang selama ini digunakan.

Pada akhirnya, Prof. Abdul Hamid menekankan bahwa transformasi pendidikan bahasa Arab tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang digunakan. Hal yang lebih penting adalah sejauh mana teknologi mampu menghadirkan pembelajaran yang cerdas, adaptif, terbuka, dan tetap berorientasi pada pembentukan manusia.

Dengan perspektif tersebut, AI tidak semestinya diposisikan semata sebagai ancaman bagi pendidikan bahasa Arab. Perkembangan teknologi justru dapat menjadi pintu untuk membangun ekosistem pembelajaran dan penelitian yang lebih inovatif, berbasis data, kolaboratif, serta relevan dengan kebutuhan zaman.

Foto profil M. Kholilur Rohman
M. Kholilur Rohman

Pegiat literasi yang berasal dari Kota Sumenep dan Founder Komunitas Maliki Book Party

Lihat semua artikel oleh M. Kholilur Rohman

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.