Langsung ke konten
Rabu, 9 September 2026
Headline Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026 
Daerah

Sapa Mahasiswa Baru Al Masykuriyah, DPD RI Lia Istifhama Hadir Layaknya Kakak Dengarkan Curhat Anak Kos

Lia Istifhama atau yang akrab disapa Ning Lia, memilih pendekatan yang hangat saat menyapa adik-adik mahasiswa baru. Kehadirannya di Pondok Pesantren

Keseruan dan tawa lepas Anggota DPD RI Jatim, Dr. Lia Istifhama (Ning Lia), saat membaur layaknya kakak sendiri dalam permainan bersama para mahasiswi baru di Pondok Pesantren Mahasiswa Al Masykuriyah, Wonocolo, Surabaya.

Keseruan dan tawa lepas Anggota DPD RI Jatim, Dr. Lia Istifhama (Ning Lia), saat membaur layaknya kakak sendiri dalam permainan bersama para mahasiswi baru di Pondok Pesantren Mahasiswa Al Masykuriyah, Wonocolo, Surabaya. (Foto: Tim Lia Istifhama, istimewa)

SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM: Menanggalkan sejenak atribut formalnya sebagai Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama atau yang akrab disapa Ning Lia, memilih pendekatan yang hangat saat menyapa adik-adik mahasiswa baru.

Kehadirannya di Pondok Pesantren Mahasiswa Al Masykuriyah, Wonocolo, Surabaya, tak ubahnya seorang kakak yang ingin mendengarkan keluh kesah adik-adiknya setelah sebulan berpisah dari orang tua dan merantau.

Senator asal Jawa Timur ini sengaja datang untuk mendengar langsung dinamika kehidupan para mahasiswa yang sedang berjuang meniti kemandirian. Suasana pertemuan pun mengalir cair dan jauh dari kesan kaku. Ning Lia lebih banyak memposisikan diri sebagai pendengar setia, memancing cerita-cerita menarik seputar adaptasi lingkungan, kemandirian mengurus diri, hingga pernak-pernik kehidupan asrama.

Baca juga: Tidak Ikut Demo, Jawara Technoprenure dari SMAN 1 Turen Malah Akui Dukungan Kepala Sekolah MALANG I JATIMSATUNEWS.COM: Pernah viral medio 17 Oktober 2022, SMAN 1 Turen justru mengukir prestasi berturut sesudahnya, antara lain juara UKBI dan terkini menjadi juara 1 ajang SMA Award kategori Technoprenure 16 Desember lalu. Adalah Fadlih pemuda yang mewakili 3 rekannya menerima Anugerah itu dari tangan Gubernur Jatim Khofifah. Menjadi puncak capaian tertingginya atas segala proses menuntut ilmu dan berusaha menorehkan prestasi yang pernah dilakukan selama menjadi siswa di SMAN 1 Turen. “Lomba technopreneur saya ikuti bersama dengan 2 teman lain dari SMAN 1 Turen yakni Najwa Nur Sabrina (XI MIPA 1) dan Ruth Benedicta Susanto (XI MIPA 1). Karena yanh boleh mewakili hanya satu maka sayalah yang berangkat, karena kebetulan saya laki-laki, jadi lebih mudah keluar rumah nginap-nginap,” tutur Fadlih menceritakan pengalamannya berangkat menuju Shangrila menerima Anugerah juara SMA award pada Jatim Satu News, Senin 18/12/2022 Selanjutnya dia juga menceritakan proses sebelum berhasil meraih anugerah. Selanjutnya dia juga menceritakan tahap memperoleh kemenangan atas karyanya Design In. “Awal pengumpulan karya berupa proposal dan video pada tanggal 04 Oktober 2022, Pengumuman 5 besar tanggal 14 November 2022, Babak final tanggal 06 Desember 2022 bertempat di Ruang Rapat Bidang PPSMA, Gedung B lantai 1 Dinas Pendidikan Prov. Jatim, Jl. Gentengkali 33 Surabaya. Terdapat 3 juri yang menguji rancangan bisnis kami,” cetus Fadlih. “Kami berangkat bertiga saat itu didampingi bu Desi juga, Pengumuman 3 besar tanggal 13 Desember 2022, dan saya mewakili kawan-kawan menerima hadiah kemarin,” ungkap Fadlih. Menceritakan kesibukannya, dia mengaku hanya fokus dengan pelajaran dan kejuaraan selama ini. Tidak mengamati kejadian di luar kegiatan itu termasuk demo yang pernah vital. “Waktu Itu saya sedang berada di luar sekolah, ikut kegiatan double track, lomba juga bersama bu Eny, ” tutur Fadlih dengan mata menerawang mengingat-ingat. Selanjutnya dia menyatakan memang tidak ikut demo yang ditujukan kepada kepala sekolahnya Eny Retno Diwati dengan tuduhan Arogan. “Iya saya tidak ikut demo waktu itu. Justru saya sedang bersama Bu Eny kegiatan SMA Double Track di Tunjangan Plaza, menuju pulang,” kisahnya. Diketahui, SMA double track adalah SMA yang melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM) reguler dan menyelenggarakan kegiatan pembekalan keterampilan secara berdampingan dengan memanfaatkan kearifan lokal. Mengenai sosok Kepala Sekolahnya yang didemo dia tidak mengeluhkan apapun. Justru dia mendapatkan dukungan penuh motivasi, fasilitasi dan pendampingan selama mengikuti berbagi lomba, termasuk Technoprenure. “Bu Eny tak henti memberi motivasi dan support mewujudkan impian menjadi juara. Misal disamping mendapatkan bimbingan dari guru sekolah bu Eny juga menugaskan guru pendamping dari luar sekolah dan memfasilitasi apapun yang kami butuhkan mulai pendaftaran hingga menang kemarin, ” jelas Fadlih. Dia bahagia dengan hasil kemenangannya, berterima kasih kepada Civitas sekolah yang tak henti memberi dukungan. Kawan sesama siswa, guru pembimbing, guru pendamping, semen termasuk Kepala Sekolah. “Alhamdulillah, capaian ini berkat dukungan dari banyak pihak. Saya tidak akan bisa memperoleh kalau maju sendiri. Terimakasih dukungan kawan-kawan siswa, guru pembimbing, guru pendamping, asisten men mengajar, Asmen dan tentu saja termasuk Kepala Sekolah, Ibu Eny Retno Diwati, ” ungkap Fadlih. (Ans)

Baca juga: 452 Mahasiswa Baru Fakultas Hukum UMM dari Sabang hingga Merauke

Widya Alfa Rohman, salah satu mahasiswa baru asal Bojonegoro, tak canggung membagikan kisahnya. Ia menuturkan bahwa bulan pertamanya di asrama telah memberikan pengalaman yang membuka mata.

Iklan

“Pengalaman pertama kali saya berada di asrama ini benar-benar memberikan banyak sekali pelajaran dan pengalaman baru. Karena saya juga dari luar Kota Surabaya, memang ada perubahan signifikan dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Widya saat bercerita langsung kepada Ning Lia.

Meski harus hidup mandiri, Widya mengaku tidak terlalu kewalahan. Berbekal rekam jejaknya yang pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren, urusan domestik tidak lagi menjadi beban berat.

“Alhamdulillah tidak kesulitan karena sebelumnya saya sudah pernah mondok. Jadi kegiatan seperti mencuci baju sendiri sudah sering saya lakukan,” tambahnya.

Menariknya, Widya justru menemui tantangan pada aspek komunikasi. Berasal dari Bojonegoro, ia harus cepat beradaptasi dengan dialek dan kebiasaan berbahasa masyarakat Surabaya yang cenderung berbeda.

“Mungkin yang sedikit menjadi kesulitan itu justru bahasa. Ada sedikit perubahan gaya bahasa dari Bojonegoro saat berinteraksi di Surabaya,” tuturnya.

Kisah yang tak kalah seru datang dari Fahima Nudinia. Menjalani rutinitas pesantren mahasiswa selama kurang lebih satu bulan membuatnya kaya akan teman baru. Interaksi antar-penghuni asrama menjadi momen yang paling ia nikmati setiap harinya.

Iklan

“Teman-temannya di sini baik-baik semua. Interaksi dengan teman juga sangat menyenangkan,” kata Fahima.

Saat Ning Lia menggali lebih dalam mengenai kendala harian, Fahima membenarkan bahwa proses adaptasinya berjalan mulus karena sudah terbiasa hidup di pondok. Namun, ia menyisipkan satu realita kehidupan asrama yang paling membekas.

“Kalau kesulitan yang berarti tidak terlalu ada, karena dulu juga pernah mondok. Tapi yang paling terasa dan menuntut kesabaran itu pasti saat antre, terutama antre kamar mandi,” selorohnya yang disambut tawa hangat oleh senator pecinta batik tersebut.

Berbagai cerita sederhana yang mengalir dari bibir para mahasiswa ini disimak Ning Lia dengan saksama. Baginya, menyerap aspirasi dan mendengarkan langsung keseharian generasi muda adalah kunci untuk memahami proses pembentukan karakter mereka. Dari hal remeh seperti mencuci baju sendiri hingga menahan ego saat berbagi fasilitas umum, para mahasiswa ini perlahan merajut pengalaman berharga yang akan mendewasakan mereka di masa depan.

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.