MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Tantangan pendidikan bahasa Inggris di Indonesia yang dinilai belum maksimal dalam membekali peserta didik dengan kemampuan komunikasi global menjadi perhatian serius bagi Bayu Dharmala. Alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini kini tengah berjuang merumuskan solusi melalui riset di jenjang doktoralnya.
Diketahui, Bayu saat ini tengah menempuh pendidikan S3 Applied Linguistics di University of Nottingham, Inggris. Langkahnya menuju Eropa semakin mantap setelah ia berhasil meraih Beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) penuh selama empat tahun, terhitung sejak Februari 2026 hingga Januari 2030 mendatang.
Dalam risetnya, pria yang pernah mengenyam pendidikan S2 di Amerika Serikat pada 2021 ini mengembangkan sebuah model pembelajaran inovatif yang diberi nama Integrated Corpus and AI Model (ICAM).
Baca juga: Transformasi Pembelajaran Bahasa Arab di Era AI, Guru Besar UIN Malang Dorong Dosen Ubah Paradigma
Model ini sengaja diciptakan dengan mengintegrasikan teknologi corpus (kumpulan teks bahasa) dan Kecerdasan Buatan atau AI.
“AI memiliki sisi teknis yang lebih ramah pengguna, sementara corpus menyediakan sumber bacaan dan contoh penggunaan bahasa yang kredibel. Kami menggunakan kelebihan masing-masing untuk menutupi kelemahan yang lain,” terang Bayu menjelaskan cara kerja inovasinya.
Bayu memaparkan bahwa pengembangan ICAM berangkat dari keresahannya melihat keterbatasan dua teknologi tersebut jika digunakan secara terpisah. Selama ini, corpus diakui mampu menyediakan contoh bahasa yang autentik, namun pengoperasiannya dinilai terlalu rumit sehingga menyita banyak waktu guru dan siswa hanya untuk memahami aspek teknisnya.
Di sisi lain, AI memang menawarkan kemudahan antarmuka. Akan tetapi, AI kerap menghasilkan informasi keliru atau tidak bersumber dari data yang valid jika tidak diawasi.
Melalui ICAM, Bayu memastikan pengajar dan siswa dapat menikmati kemudahan antarmuka AI tanpa harus berhadapan langsung dengan sistem corpus yang kompleks. Secara bersamaan, AI di dalam sistem tersebut diarahkan secara ketat untuk merujuk pada data corpus yang kredibel, sehingga risiko munculnya jawaban yang tidak berdasar dapat ditekan secara maksimal.
Menurut Bayu, pendekatan inovatif ini sangat berpotensi dan mendesak untuk diterapkan di Indonesia. Ia menilai pendidikan bahasa di Tanah Air butuh dorongan ekstra agar siswa mampu bersaing memperebutkan berbagai kesempatan di tingkat internasional.
“Pendidikan bahasa Inggris kita belum cukup untuk mengantarkan peserta didik bersaing di kancah global. Apalagi kini semakin banyak peluang studi internasional seperti IISMA, LPDP, Fulbright, dan AAS yang membutuhkan kemampuan bahasa Inggris yang kontekstual dan autentik,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa model ICAM tidak hanya terbatas pada bahasa Inggris. Teknologi ini ke depannya sangat terbuka untuk diadaptasi dalam program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), hingga upaya pembelajaran dan pelestarian bahasa-bahasa daerah di Nusantara.
Keberhasilan Bayu menembus kampus top Eropa ini tak lepas dari fondasi pengalaman internasional yang ia bangun sejak menjadi mahasiswa di Kampus Putih UMM. Ia tercatat pernah mengikuti program Learning Express di Singapura pada 2015 dan program Erasmus di University of Murcia, Spanyol pada 2016 silam.
“UMM sangat membantu pengembangan diri saya melalui eksposur internasional. Pengalaman ini benar-benar menjadi pijakan saya untuk berani berkuliah di tingkat global,” ungkapnya penuh syukur.
Setelah merampungkan studi doktoralnya pada awal 2030 nanti, Bayu bertekad kuat untuk kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Ia berencana menerapkan langsung hasil riset ICAM tersebut agar pembelajaran bahasa di Indonesia menjadi lebih kontekstual, autentik, serta adaptif terhadap gempuran kemajuan teknologi.


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.