Langsung ke konten
Kamis, 20 Agustus 2026
Headline KAI Daop 7 Madiun Tambah Kapasitas Rangkaian, Akomodir Lonjakan Penumpang Libur Panjang HUT ke-81 RI
Daerah

Saatnya Mencetak Arsitek Pembelajaran, Dekan FITK UIN Malang: Guru Tak Cukup Sekadar Menyampaikan Materi

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Dunia pendidikan bergerak semakin cepat. Perubahan teknologi, hadirnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), tuntutan kompetensi dunia kerja, hingga perubahan karakter peserta didik menuntut lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) untuk tidak lagi berjalan dengan pola lama.

Di tengah perubahan tersebut, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mulai menegaskan orientasi baru dalam menyiapkan calon pendidik: bukan sekadar menjadi penyampai materi, tetapi menjadi arsitek pembelajaran.

Gagasan tersebut disampaikan Dekan FITK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. H. Muhammad Walid, M.A., dalam kegiatan Pengembangan Akademik: Sosialisasi Awal Perkuliahan dan Penyusunan RPS Semester Gasal Tahun Akademik 2026/2027 di Aula Gedung Rektorat Lantai 5, Rabu (19/8/2026).

Dalam arahannya, Prof. Walid menyoroti perkembangan FITK sekaligus tantangan yang dihadapi dunia pendidikan. Menurutnya, pertumbuhan institusi dan meningkatnya kepercayaan masyarakat harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas layanan akademik dan pembelajaran.

Tahun ini, FITK UIN Malang menerima 1.160 mahasiswa baru. Angka tersebut menjadi salah satu indikator meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap fakultas yang memiliki mandat strategis dalam menyiapkan pendidik dan tenaga kependidikan.

Perkembangan tersebut juga ditopang transformasi program studi, termasuk Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) yang menunjukkan perkembangan positif dan telah meraih akreditasi Unggul.

Bagi FITK, pertumbuhan tersebut bukan sekadar capaian kuantitatif. Semakin banyak mahasiswa yang mempercayakan pendidikan mereka kepada FITK, semakin besar pula tanggung jawab fakultas untuk memastikan proses pendidikan yang mereka terima benar-benar bermutu dan relevan dengan masa depan.

Dalam konteks UIN Malang, FITK bahkan diposisikan sebagai salah satu “pembawa bendera akademik” universitas. Artinya, kualitas pembelajaran dan lulusan FITK memiliki keterkaitan erat dengan citra serta reputasi akademik UIN Malang secara keseluruhan.

Namun, tantangan yang dihadapi tidak ringan. Sebagai LPTK, FITK berhadapan dengan dinamika dunia kerja yang semakin kompetitif, persoalan kesejahteraan tenaga pendidik, serta kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan profesi yang terus berkembang.

Kondisi tersebut menuntut transformasi tidak hanya pada kelembagaan, tetapi juga pada kurikulum dan praktik pembelajaran.

Salah satu faktor yang tidak dapat diabaikan adalah perkembangan Artificial Intelligence (AI). Kehadiran AI di dunia pendidikan menurut arah pemikiran FITK tidak semestinya disikapi sekadar sebagai tren teknologi, tetapi sebagai bagian dari perubahan ekosistem pembelajaran yang harus dipahami secara kritis dan strategis.

Dosen dan mahasiswa perlu memiliki kemampuan untuk memanfaatkan teknologi sekaligus memahami batasan, risiko, dan aspek etik penggunaannya. AI perlu ditempatkan sebagai instrumen yang memperkuat proses pembelajaran, bukan menggantikan substansi pendidikan maupun peran pendidik.

Dari sinilah gagasan tentang arsitek pembelajaran menjadi relevan.

Pendidik masa depan tidak cukup hanya menguasai materi kemudian menyampaikannya kepada peserta didik. Mereka harus mampu merancang keseluruhan pengalaman belajar: memahami karakter dan kebutuhan peserta didik, menentukan strategi yang sesuai, memilih teknologi yang relevan, membangun aktivitas pembelajaran yang kreatif, serta menciptakan lingkungan belajar yang bermakna.

Untuk menuju ke sana, Prof. Walid menekankan pentingnya tiga kekuatan yang harus bergerak secara bersamaan.

Pertama, lulusan yang adaptif. Lulusan FITK harus memiliki kemampuan menghadapi perubahan, terbuka terhadap perkembangan teknologi, menguasai kompetensi yang relevan, serta memiliki kemauan untuk terus belajar sepanjang hayat.

Kedua, dosen yang inovatif. Dosen tidak cukup berperan sebagai penyampai pengetahuan. Dosen juga harus menjadi penggerak inovasi pembelajaran sekaligus membangun budaya akademik yang mendorong mahasiswa berpikir kritis, kreatif, dan produktif.

Ketiga, kurikulum yang relevan. Kurikulum harus terus dievaluasi dan dikembangkan agar mampu merespons perkembangan teknologi, kebutuhan dunia kerja, karakter generasi baru, serta berbagai persoalan pendidikan nasional.

Ketiga elemen tersebut saling berkaitan. Lulusan yang adaptif membutuhkan dosen yang terus berinovasi. Dosen yang inovatif membutuhkan kurikulum yang memberikan ruang bagi eksplorasi dan relevan dengan perubahan zaman.

Karena itu, penyusunan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) yang menjadi bagian dari agenda Pengembangan Akademik FITK tidak semestinya dipahami hanya sebagai pekerjaan administratif. RPS menjadi salah satu instrumen untuk menerjemahkan arah kurikulum ke dalam pengalaman belajar yang konkret di ruang kelas.

Dari tahap perencanaan pembelajaran itulah kualitas pengalaman mahasiswa mulai dibentuk.

Pengarahan Dekan FITK tersebut menjadi penegasan bahwa pertumbuhan fakultas harus diikuti dengan keberanian melakukan transformasi. Jumlah mahasiswa yang mencapai 1.160 orang, perkembangan program studi, dan capaian akreditasi Unggul merupakan modal penting, tetapi bukan titik akhir.

FITK dituntut bergerak dari sekadar menjadi fakultas yang besar menuju fakultas yang unggul, adaptif, inovatif, dan relevan.

Sebab, menghadapi masa depan pendidikan tidak cukup dengan mempertahankan cara-cara lama. Masa depan harus dirancang melalui pendidik yang mampu membaca perubahan, dosen yang berani berinovasi, kurikulum yang terus diperbarui, serta teknologi yang dimanfaatkan secara kritis dan bertanggung jawab.

Dan di tengah perubahan itu, FITK ingin memastikan satu hal: calon pendidik tidak hanya mampu mengajar, tetapi mampu merancang bagaimana manusia belajar.

Foto profil M. Kholilur Rohman
M. Kholilur Rohman

Pegiat literasi yang berasal dari Kota Sumenep dan Founder Komunitas Maliki Book Party

Lihat semua artikel oleh M. Kholilur Rohman

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.