MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Persoalan beban mengajar hingga minimnya panggung kejuaraan bagi bibit atlet muda di Jawa Timur terus mencuat ke permukaan. Menanggapi realitas tersebut, Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur, Dr. Sri Untari Bisowarno, M.A.P., turun langsung menyerap berbagai aspirasi dan uneg-uneg puluhan guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) se-Malang Raya.
Dalam pertemuan tatap muka tersebut, Sri Untari mengaku cukup terkejut saat mendapati fakta adanya guru olahraga yang terpaksa merangkap mata pelajaran lain yang jauh dari bidang keahliannya.
“Tadi kami menemukan fakta di lapangan, ternyata ada guru olahraga yang sampai dibebani mengajar bahasa daerah. Peta dari bawah seperti inilah yang sangat kita butuhkan untuk melihat kekurangan tenaga pengajar di masing-masing mata pelajaran, sehingga kita tahu persis apa kebutuhan riil sekolah,” kata Sri Untari saat memberikan keterangannya.
Baca juga: Kunjungi SMAN Taruna Madani Bangil, Sri Untari Evaluasi Keadilan SPMB dan Perjuangkan Hak Guru
Baca juga: Puncak Hari Koperasi Kabupaten Malang di Sumawe, Sri Untari Perjuangkan Hak Milik
Tidak hanya beban tugas rangkap, persoalan pemenuhan beban kerja 24 jam tatap muka sebagai syarat sertifikasi turut menjadi topik paling hangat yang disuarakan para pendidik.
Perwakilan guru menyampaikan bahwa jam pembinaan ekstrakurikuler sore hari yang menguras tenaga dan waktu selama ini sama sekali tidak diakui sebagai jam tatap muka resmi. Mereka pun meminta agar pemerintah memberikan formulasi ideal, yakni 18 jam dialokasikan untuk kegiatan belajar mengajar reguler di kelas dan 6 jam sisanya dihitung dari pembinaan bakat atau prestasi.
Keresahan para guru kian bertambah manakala melihat talenta siswa yang sering layu sebelum berkembang akibat kelangkaan kompetisi resmi. Para guru olahraga mengungkapkan bahwa puluhan cabang ekstrakurikuler yang aktif berlatih di sekolah kerap kehilangan momentum uji tanding karena hanya bergantung pada gelaran tahunan seperti O2SN.
Mereka sangat berharap pemerintah daerah tergerak untuk menginisiasi turnamen berjenjang, mulai dari turnamen piala bupati/wali kota hingga kejuaraan terbuka tingkat provinsi.
Merespons rentetan keluhan tersebut, legislator asal Malang ini menegaskan komitmennya untuk mengawal seluruh aspirasi guru olahraga ke gedung dewan. Sri Untari menyatakan, masukan konkret dari para guru akan disuntikkan secara langsung ke dalam penyusunan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Penyelenggaraan Keolahragaan dan Kepemudaan yang kini tengah digodok Komisi E DPRD Jatim.
“Semua masukan ini sangat berharga karena datang langsung dari para aplikator di lapangan. Raperda yang sedang kami proses memang membutuhkan masukan konkret seperti ini. Mengenai beban jam mengajar dan pengakuan pembinaan ekskul, ini tentu akan segera kami komunikasikan ke Dinas Pendidikan agar lahir kebijakan yang adil dan solutif bagi para guru,” tegas politisi perempuan tersebut.


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.