Langsung ke konten
Kamis, 27 Agustus 2026
Headline Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026 
Malang Raya

Rocket Stove KKN 139 UMM Jadi Solusi Pengelolaan Sampah di SD 2 Tumpakrejo

MALANG | JATIMSATUNEWS.COMRocket Stove yang dikembangkan mahasiswa KKN 139 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi digunakan sebagai Unit Pembakaran Sampah (UPS) di SD 2 Tumpakrejo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang. Fasilitas tersebut diresmikan pada Senin, (24/08/26) sebagai bagian dari program pengabdian mahasiswa selama menjalankan KKN di Desa Tumpakrejo.

Peresmian fasilitas Rocket Stove tersebut dihadiri Kepala Desa Tumpakrejo, pihak sekolah, jajaran guru, serta mahasiswa KKN 139 UMM. Kepala desa turut meresmikan langsung unit pembakaran sampah yang dibangun di lingkungan sekolah tersebut.

Program ini dirancang untuk membantu sekolah menangani sampah kering sekaligus mengenalkan alternatif pengelolaan sampah kepada siswa dan masyarakat.

Rocket Stove KKN 139 UMM untuk Pengelolaan Sampah Sekolah

Pembangunan Rocket Stove berangkat dari persoalan pengelolaan sampah yang masih ditemui di Desa Tumpakrejo. Salah satu metode yang umum dilakukan adalah pembakaran sampah secara terbuka.

Pembakaran terbuka dapat menghasilkan asap dalam jumlah besar dan berpotensi mengganggu kualitas udara di sekitar lokasi pembakaran. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa KKN 139 UMM mencari pendekatan yang dapat digunakan untuk mengelola sampah kering di lingkungan sekolah.

Melalui program tersebut, mahasiswa menghadirkan Unit Pembakaran Sampah berbasis Rocket Stove dengan sistem pembakaran yang memanfaatkan aliran udara dan ruang bakar secara lebih terarah.

Teknologi ini menggunakan prinsip secondary combustion atau pembakaran sekunder. Gas hasil pembakaran awal diarahkan menuju bagian dengan temperatur tinggi sehingga dapat mengalami pembakaran kembali. Mekanisme tersebut dirancang untuk membantu pembakaran berlangsung lebih optimal dan mengurangi asap dibandingkan pembakaran sampah secara terbuka.

Namun, penggunaannya tetap perlu memperhatikan jenis sampah yang dibakar, prosedur keselamatan, serta kondisi lingkungan sekitar.

Proses Pembangunan Rocket Stove di SD 2 Tumpakrejo

Sebelum diresmikan, Rocket Stove dibangun secara bertahap oleh mahasiswa KKN 139 UMM bersama tukang lokal. Pembangunan menggunakan sejumlah material yang relatif mudah diperoleh, seperti bata ringan, besi, dan semen.

Tahapan pembangunan dimulai dari pembuatan pondasi, penyusunan ruang bakar, pemasangan tungku berbahan besi, hingga pembangunan bagian cerobong.

Cerobong menjadi salah satu bagian penting karena berfungsi mengarahkan aliran gas hasil pembakaran sekaligus mendukung proses pembakaran sekunder.

Setelah konstruksi selesai, mahasiswa melakukan uji coba untuk memastikan unit dapat digunakan sesuai rancangan sebelum diserahkan kepada pihak sekolah.

Pembangunan dengan melibatkan tukang lokal juga membuat proses pengerjaan tidak hanya berorientasi pada hasil akhir. Pengetahuan mengenai struktur dan konstruksi unit dapat lebih mudah dipahami oleh pihak yang terlibat sehingga fasilitas diharapkan dapat dirawat setelah program KKN berakhir.

Rocket Stove Jadi Media Edukasi Lingkungan

Keberadaan Rocket Stove di SD 2 Tumpakrejo tidak hanya ditujukan sebagai fasilitas pengelolaan sampah. Mahasiswa KKN 139 UMM juga menjadikannya bagian dari edukasi lingkungan bagi warga sekolah.

Sampah kering seperti daun, kertas, dan kardus menjadi jenis sampah yang diarahkan untuk dikelola menggunakan unit tersebut. Sementara itu, sampah yang tidak sesuai untuk dibakar tetap perlu dipilah dan dikelola menggunakan metode lain.

Pemilahan menjadi aspek penting karena tidak seluruh jenis sampah aman untuk dibakar. Sampah plastik tertentu, bahan berbahaya, maupun material yang menghasilkan zat beracun ketika dibakar tidak seharusnya dimasukkan ke dalam unit pembakaran.

Dengan pendekatan tersebut, keberadaan Rocket Stove diharapkan tidak membuat kebiasaan membakar seluruh jenis sampah, tetapi justru mendorong warga sekolah memahami prinsip pemilahan dan pengelolaan sampah sesuai karakteristiknya.

Pemanfaatan Abu dari Rocket Stove

Program KKN 139 UMM juga memperhatikan hasil akhir dari proses pembakaran. Abu yang dihasilkan tidak langsung diposisikan sebagai limbah, tetapi dikaji potensinya untuk dimanfaatkan kembali.

Dalam rilis program, mahasiswa menyebut abu hasil pembakaran dapat diarahkan untuk pemanfaatan seperti penetral keasaman tanah maupun bahan baku eco-paving block. Pemanfaatan tersebut tetap perlu mempertimbangkan karakteristik abu dan jenis material yang sebelumnya dibakar.

Konsep tersebut sejalan dengan upaya mengurangi residu yang berakhir sebagai limbah. Dengan pengelolaan yang tepat, material sisa pembakaran dapat dikaji kembali potensinya untuk digunakan dalam kegiatan lain.

Pendekatan ini juga memperkenalkan kepada siswa bahwa pengelolaan sampah tidak berhenti pada tahap membuang atau membakar. Proses pemilahan, pengolahan, pemanfaatan kembali, hingga penanganan residu merupakan bagian dari satu rangkaian pengelolaan lingkungan.

Kepala Desa Dukung Keberlanjutan Program

Peresmian Rocket Stove di SD 2 Tumpakrejo mendapat dukungan dari pemerintah desa. Kepala Desa Tumpakrejo mengapresiasi inisiatif mahasiswa KKN 139 UMM yang menghadirkan fasilitas pengelolaan sampah di lingkungan pendidikan.

Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu memastikan fasilitas tetap dimanfaatkan setelah mahasiswa menyelesaikan masa KKN.

Keberlanjutan menjadi salah satu aspek penting dalam program pengabdian masyarakat. Fasilitas yang dibangun mahasiswa tidak akan memberikan dampak maksimal apabila tidak disertai pengelolaan dan pemeliharaan oleh masyarakat atau institusi penerima manfaat.

Karena itu, pihak sekolah memiliki peran penting dalam menentukan bagaimana unit tersebut digunakan, dirawat, serta diintegrasikan dengan sistem pengelolaan sampah yang sudah berjalan.

KKN 139 UMM Dorong Kesadaran Lingkungan

Program Rocket Stove menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa KKN 139 UMM dalam menjawab persoalan lingkungan di Desa Tumpakrejo.

Program tersebut juga memperlihatkan bahwa kegiatan KKN tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi dapat diarahkan untuk menghadirkan solusi berdasarkan kebutuhan masyarakat. UMM sendiri menempatkan KKN sebagai bagian dari pengabdian mahasiswa kepada masyarakat dengan pendekatan yang mendorong penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi di lapangan.

Baca Juga: Susuri Setiap Sudut Desa, Mahasiswa KKN UMM 190 Hadirkan Peta Potensi Ngadirejo

Pada 2026, UMM menerjunkan ribuan mahasiswa melalui program KKN dengan fokus pada pemberdayaan masyarakat dan pengembangan potensi lokal. (Universitas Muhammadiyah Malang)

Bagi KKN 139, pembangunan Unit Pembakaran Sampah di SD 2 Tumpakrejo menjadi upaya untuk meninggalkan fasilitas yang dapat dimanfaatkan setelah masa pengabdian selesai.

Ke depan, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh keberadaan Rocket Stove, tetapi juga oleh konsistensi sekolah dan masyarakat dalam melakukan pemilahan sampah, menggunakan fasilitas sesuai peruntukan, serta menjaga keberlanjutan pengelolaan lingkungan.

Untuk informasi mengenai program pengabdian dan KKN Universitas Muhammadiyah Malang, masyarakat dapat mengakses informasi resmi UMM.

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.