Sorotan
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Guru Besar Fakultas Syariah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Hj. Mufidah, M.Ag., menilai Asosiasi Profesor Muslimat Nahdlatul Ulama (APMNU) memiliki potensi besar menjadi kekuatan intelektual NU.
Keberadaan APMNU menurutnya dapat memperkuat kontribusi keilmuan dalam merespons berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Gagasan pembentukan APMNU, menurut Prof. Mufidah, muncul secara visioner dari Ketua Dewan Pembina PP Muslimat NU, Hj. Khofifah Indar Parawansa.
Gagasan tersebut berangkat dari besarnya potensi sumber daya manusia (SDM) intelektual di lingkungan Nahdliyin, khususnya di kalangan Muslimat NU.
Sumber Daya Muslimat NU Berlatar Profesor (Guru Besar) Telah Melimpah
Jamaah Muslimat NU, kata Prof. Mufidah, selain memiliki kekuatan secara kuantitas di tingkat akar rumput, juga memiliki banyak perempuan Nahdliyin yang menekuni dunia akademik hingga meraih jabatan guru besar.
“Para profesor jangan hanya berada di menara gading. Kita harus turun melihat persoalan masyarakat, melakukan kajian, kemudian memberikan rekomendasi dan solusi,” ujar Prof. Mufidah, yang juga merupakan pengurus APMNU periode 2026–2031.
Menurutnya, APMNU tidak sekadar menjadi wadah berkumpulnya para profesor perempuan Nahdliyin, tetapi juga dapat berperan sebagai support system bagi NU, baik di tingkat pusat maupun daerah.
Ia menyebut pendidikan, pesantren, keluarga, dan perlindungan generasi sebagai sejumlah bidang yang membutuhkan perhatian serius.
APMNU dapat mengambil peran melalui riset, kajian, penelusuran khazanah keilmuan pesantren, serta penyusunan rekomendasi bagi lembaga pendidikan dan pemerintah.
Harapan pada Muktamar NU ke-35
Menjelang Muktamar NU, Prof. Mufidah berharap kegiatan APMNU di Tambakberas dapat menjadi ruang konsolidasi gagasan sekaligus memperkuat kontribusi akademisi perempuan dalam perjalanan NU ke depan.
“APMNU punya kepakaran dan jaringan. Ini harus menjadi kekuatan untuk menjaga pesantren, melindungi generasi, dan memberikan manfaat yang nyata bagi NU dan masyarakat,” tegas Prof. Mufidah, yang juga familier sebagai inisiator Family Corner berbasis masjid.(MFT)


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.