Langsung ke konten
Sabtu, 19 September 2026
Headline Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026 
Daerah

Rembug Paripurna KTNA Nasional 2026, Wali Kota Nurochman Siap Jadikan Kota Batu Laboratorium Pertanian Indonesia

Berlangsung di kota Batu, Rembug Paripurna KTNA Nasional 2026 dan KTNA Agro Expo 2026, Wali Kota Batu H.

Wali Kota Batu H. Nurochman, S.H., M.H., memberikan pidato sambutan dalam gelaran Rembug Paripurna KTNA Nasional 2026 di Kota Batu.

Wali Kota Batu H. Nurochman, S.H., M.H., memberikan pidato sambutan dalam gelaran Rembug Paripurna KTNA Nasional 2026 di Kota Batu.

BATU | JATIMSATUNEWS.COM: Berlangsung di kota Batu, Rembug Paripurna KTNA Nasional 2026 dan KTNA Agro Expo 2026, Wali Kota Batu H. Nurochman, S.H., M.H., mengajak seluruh pelaku pertanian menjadikan Kota Batu sebagai laboratorium pertanian Indonesia.

Pesan tersebut disampaikan Nurochman saat wawancara khusus usai memberikan sambutan di hadapan 2.500 delegasi Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) dari berbagai daerah di Indonesia yang berkumpul di Kota Batu pada 18–21 September 2026.

“Jadikan Kota Batu laboratorium pertanian Indonesia,” ujarnya

Baca juga: Tim Laboratorium Kewirausahaan FITK UIN Malang Helat Konsolidasi Internal bersama Mahasiswa Terpilih

Baca juga: Tingkatkan Nilai Jual Jeruk Lokal, Dosen UB Latih UMKM Kota Batu Gunakan Teknologi Freeze Dryer

Menurut Nurochman, dipilihnya Kota Batu sebagai tuan rumah Rembug Paripurna KTNA Nasional dan Agro Expo 2026 merupakan kesempatan untuk mempertemukan berbagai pengalaman, inovasi, teknologi, dan gagasan pertanian dari berbagai daerah.

Ia menegaskan, Kota Batu memiliki karakter sebagai daerah pertanian yang sangat kuat. Kehidupan sebagian masyarakatnya tidak terlepas dari hasil bumi, termasuk komoditas hortikultura yang selama ini menjadi identitas daerah.

“Kami menyambut Bapak-Ibu bukan sekadar sebagai tamu, tetapi sebagai sesama daerah pertanian yang sama-sama memahami arti penting menjaga tanah dan kehidupan petani,” ujar Nurochman.

Hadapi Tantangan Pertanian

H Nurochman menyebut sektor pertanian saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Di Kota Batu, persoalan tersebut antara lain perubahan iklim, tanaman yang semakin menua, tekanan terhadap lahan pertanian, kualitas tanah, hingga regenerasi petani.

Kondisi tersebut, menurutnya, membutuhkan pendekatan baru agar pertanian tidak hanya mampu meningkatkan produksi, tetapi juga menjamin keberlanjutan kehidupan petani.

“Menjadi seorang petani bukan sekadar pekerjaan, melainkan sebuah pilihan hidup yang penuh risiko,” katanya.

Petani harus menghadapi ketergantungan terhadap kondisi cuaca, risiko gagal panen, perubahan lingkungan, hingga ketidakpastian pasar.

Karena itu, Nurochman menekankan pembangunan pertanian harus menempatkan petani sebagai manusia yang menjadi bagian utama dari ekosistem pangan.

Iklan

Menurutnya, keberhasilan pembangunan pertanian tidak cukup hanya dilihat dari seberapa banyak produksi yang dihasilkan.

“Kita juga harus bertanya apakah petaninya sejahtera? Apakah lahannya tetap terjaga? Apakah anak-anak muda mau meneruskan? Dan apakah hasil pertanian memiliki pasar yang memberikan nilai yang layak bagi mereka?” tegasnya.

Ia menambahkan, pertanyaan tersebut penting karena keberlanjutan pangan nasional sangat bergantung pada keberlanjutan kehidupan petani.

“Karena pada akhirnya, pangan yang kuat harus dibangun dari petani yang juga kuat,” lanjut Nurochman.

Dorong Smart and Integrated Farming

Untuk menghadapi berbagai tantangan tersebut, Pemerintah Kota Batu mulai mendorong penerapan Smart and Integrated Farming.

Nurochman mengatakan pemanfaatan teknologi harus diarahkan untuk membantu petani bekerja lebih efektif, meningkatkan produktivitas, menjaga kualitas hasil pertanian, sekaligus tetap mempertahankan kearifan lokal.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari transformasi pertanian Kota Batu agar lebih adaptif terhadap perubahan zaman.

Selain teknologi produksi, Pemkot Batu juga memberikan perhatian terhadap kelembagaan dan akses pasar melalui program CooSAE.

Penguatan kelembagaan dan akses pasar tersebut diarahkan untuk memperkuat posisi tawar petani sehingga nilai tambah dari hasil pertanian dapat kembali secara optimal kepada mereka.

“Teknologi harus kita manfaatkan untuk membantu petani, bukan justru meninggalkan petani,” demikian pesan yang ditekankan dalam pengembangan pertanian Kota Batu.

KTNA Jadi Ruang Konsolidasi Petani dan Nelayan

Rembug Paripurna KTNA Nasional 2026 menjadi ruang penting untuk mempertemukan pengurus dan anggota KTNA dari berbagai wilayah sekaligus membahas arah organisasi untuk periode 2026–2031.

Ketua Umum KTNA Nasional periode berjalan, Muhammad Yadi Sofyan Noor, mengatakan penguatan peran petani dan nelayan perlu berjalan seiring dengan penguatan organisasi.

Iklan

“KTNA harus mampu menjawab tantangan zaman dengan memastikan petani dan nelayan tidak berjalan sendiri menghadapi perubahan teknologi, iklim, pasar, maupun kebutuhan konsumen,” ujarnya.

Rembug Paripurna dijadwalkan memasuki agenda utama pada Minggu, 20 September 2026.

Peserta akan membahas agenda dan kuorum, tata tertib, serta musyawarah tiga komisi, yakni Komisi Organisasi, Komisi Program, dan Komisi Rekomendasi.

Agenda kemudian dilanjutkan dengan laporan pertanggungjawaban pengurus, proses demisioner, seleksi bakal calon Ketua Umum KTNA Nasional, hingga pemilihan dan penetapan Ketua Umum KTNA Nasional periode 2026–2031.

Agro Expo Perkuat Ekosistem Pertanian

Bersamaan dengan Rembug Paripurna, KTNA Agro Expo 2026 menghadirkan ruang interaksi antara petani dan nelayan dengan pemerintah, dunia usaha, lembaga penelitian, perguruan tinggi, serta pelaku industri pendukung agribisnis.

Pameran tersebut menghadirkan 40 booth yang terdiri dari 30 booth perusahaan dan 10 booth UMKM.

Materi pameran mencakup produk olahan pertanian, perikanan dan kehutanan, benih, pupuk, pakan, alat dan mesin pertanian, hasil riset, teknologi tepat guna, hingga jasa keuangan bagi pelaku agribisnis.

Rangkaian kegiatan juga diisi talk show, demonstrasi dan presentasi produk maupun teknologi, perlombaan, pagelaran seni budaya, serta Festival Pangan Lokal.

Melalui momentum tersebut, Kota Batu tidak hanya menjadi lokasi penyelenggaraan agenda nasional KTNA, tetapi juga membuka ruang pertukaran pengalaman antardaerah mengenai bagaimana pertanian dapat beradaptasi dengan perubahan iklim, teknologi, kebutuhan pasar, dan regenerasi petani.

Bagi Nurochman, gagasan menjadikan Kota Batu sebagai laboratorium pertanian Indonesia merupakan bagian dari upaya menjadikan pertanian sebagai sektor yang mampu memberikan kehidupan layak bagi generasi saat ini sekaligus tetap diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Dari Kota Batu, kita berharap lahir gagasan dan langkah nyata untuk membangun pertanian Indonesia yang semakin maju, adaptif, dan menyejahterakan petani,” pungkasnya.

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.