PASURUAN|JATIMSATUNEWS.COM:
Kota Pasuruan— Selempang Duta GenRe mungkin hanya dikenakan dalam satu periode. Namun, nilai pengabdian, semangat menginspirasi, serta kepedulian terhadap masa depan generasi muda tidak berhenti ketika masa tugas sebagai duta berakhir.
Hal itu tergambar dalam perjalanan Nur Faizin dan Khamdan Safiudin, S.Pd., dua alumni Duta GenRe Kota Pasuruan yang kini melanjutkan kiprahnya di dunia pendidikan.
Keduanya sama-sama memilih profesi sebagai guru. Menariknya, pada tahun 2026, dua alumni Duta GenRe tersebut kembali menorehkan prestasi dengan meraih Juara 2 Anugerah Guru Prima (AGP) Kota Pasuruan Tahun 2026, meski berada pada jenjang pendidikan yang berbeda.
Nur Faizin merupakan Duta GenRe Kota Pasuruan 2022 yang saat ini mengabdikan diri sebagai guru di SMP Speam Kota Pasuruan.
Sementara Khamdan Safiudin, S.Pd., merupakan Duta GenRe Kota Pasuruan 2021 yang kini menjalankan tugasnya sebagai guru di SMK Untung Surapati Pasuruan.
Dalam ajang Anugerah Guru Prima Kota Pasuruan Tahun 2026, Nur Faizin berhasil meraih Juara 2 untuk jenjang SMP/MTs sederajat.
Sedangkan Khamdan Safiudin meraih Juara 2 untuk jenjang SMA/MA/SMK sederajat.
Pencapaian tersebut menjadi catatan menarik. Dua orang yang sebelumnya pernah berada dalam ekosistem yang sama sebagai penggerak dan inspirator remaja melalui program Duta GenRe, kini kembali bertemu dalam sebuah panggung penghargaan melalui profesi yang mereka jalani sebagai pendidik.
Perjalanan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa menjadi Duta GenRe bukan semata-mata tentang selempang, gelar, maupun masa tugas dalam satu periode.
Lebih dari itu, pengalaman sebagai duta dapat menjadi bekal untuk membawa nilai-nilai kepedulian, edukasi, keteladanan, komunikasi dengan remaja, hingga semangat menyiapkan generasi masa depan ke ruang pengabdian yang lebih luas.
Kini, ruang tersebut adalah sekolah.
Jika dahulu mereka hadir di tengah remaja sebagai Duta GenRe, kini mereka bertemu dengan generasi muda hampir setiap hari melalui ruang kelas.
Di ruang itulah seorang guru tidak hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga mendampingi proses tumbuh peserta didik, membangun karakter, menanamkan nilai, sekaligus mendorong mereka agar memiliki keberanian untuk merencanakan masa depan.
Dari Selempang ke Ruang Kelas
Perjalanan Nur Faizin dan Khamdan Safiudin memiliki satu benang merah yang sama, yakni tetap berada dalam ruang pengabdian kepada generasi muda.
Saat menjadi Duta GenRe, keduanya memiliki ruang untuk menyampaikan pesan-pesan edukatif kepada kalangan remaja. Setelah memasuki dunia pendidikan, ruang tersebut berkembang menjadi lebih luas karena mereka memiliki kesempatan untuk mendampingi peserta didik secara langsung dalam proses pendidikan.
Perubahan peran itu bukan berarti meninggalkan nilai-nilai yang pernah dibawa ketika menjadi duta.
Sebaliknya, pengalaman tersebut justru dapat menjadi bagian dari perjalanan mereka dalam menjalankan profesi sebagai guru.
Selempang yang dahulu menjadi simbol representasi Duta GenRe kini telah dilepas. Namun, semangat untuk memberikan pengaruh positif bagi generasi muda tetap berjalan melalui profesi yang berbeda.
Keduanya kini berdiri bukan sebagai duta yang mewakili sebuah program, melainkan sebagai guru yang memiliki tanggung jawab untuk mendidik dan mendampingi peserta didik.
AGP 2026 dan Tantangan Pendidikan di Era AI
Anugerah Guru Prima Kota Pasuruan Tahun 2026 mengusung tema “Akselerasi Transformasi Pendidikan Indonesia di Era AI.”
Tema tersebut menggambarkan tantangan sekaligus perubahan yang tengah dihadapi dunia pendidikan. Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membuka berbagai peluang baru dalam proses pembelajaran, tetapi pada saat yang sama menuntut guru untuk terus beradaptasi dan berinovasi.
AGP menjadi ruang apresiasi sekaligus wadah untuk memperlihatkan berbagai inovasi dan praktik baik yang dilakukan guru dalam menjalankan proses pendidikan.
Guru tidak hanya dituntut mampu menjalankan pembelajaran secara produktif, tetapi juga diharapkan mampu menghadirkan inovasi, menjadi motivator, serta menunjukkan karakter yang dapat menjadi teladan bagi lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Dalam konteks itulah pencapaian Nur Faizin dan Khamdan Safiudin menjadi bagian dari perjalanan profesional mereka sebagai pendidik.
Bagi Khamdan Safiudin, salah satu inovasi yang dibawanya dalam ajang tersebut adalah CIVICVERSE, sebuah inovasi media pembelajaran Pendidikan Pancasila berbasis simulasi konsekuensi keputusan dengan memanfaatkan teknologi AI.
Inovasi tersebut menjadi salah satu bentuk upaya menghadirkan pembelajaran yang lebih kontekstual dengan perkembangan teknologi.
Sementara bagi Nur Faizin, raihan Juara 2 jenjang SMP/MTs sederajat menjadi bagian dari perjalanan profesionalnya sebagai guru di SMP Speam Kota Pasuruan.
Prestasi tersebut menunjukkan bahwa perjalanan seorang guru tidak berhenti pada aktivitas mengajar di dalam kelas. Guru juga memiliki ruang untuk menciptakan inovasi, mengembangkan praktik pembelajaran, serta memberikan kontribusi terhadap perubahan pendidikan.
Pengabdian yang Tidak Berhenti
Kisah dua alumni Duta GenRe Kota Pasuruan tersebut menghadirkan sebuah pesan sederhana, tetapi memiliki makna panjang.
Pengabdian kepada generasi muda tidak harus berhenti ketika masa menjadi duta berakhir.
Justru pengalaman yang diperoleh selama menjadi duta dapat menjadi bekal untuk melanjutkan pengabdian dalam bentuk lain.
Dulu, Nur Faizin dan Khamdan Safiudin hadir sebagai Duta GenRe Kota Pasuruan.
Kini, keduanya hadir sebagai guru.
Dulu, mereka berbicara kepada remaja tentang pentingnya mempersiapkan masa depan.
Kini, mereka berada di ruang pendidikan untuk ikut membentuk generasi yang nantinya akan mengisi masa depan tersebut.
Dulu, selempang menjadi simbol peran mereka.
Kini, ruang kelas menjadi tempat mereka menjalankan pengabdian.
Dan pada tahun 2026, perjalanan itu kembali mempertemukan keduanya dalam panggung yang berbeda.
Bukan lagi sebagai Duta GenRe, tetapi sebagai guru yang sama-sama berhasil meraih Juara 2 Anugerah Guru Prima Kota Pasuruan, pada jenjang pendidikan masing-masing.
Prestasi tersebut bukan sekadar tentang sebuah penghargaan. Di baliknya terdapat perjalanan panjang tentang bagaimana seseorang terus membawa nilai pengabdian dari satu ruang ke ruang lainnya.
Selempang boleh dilepas. Gelar duta boleh berganti. Tetapi ketika semangat pengabdian tetap dijaga, perjalanan untuk menginspirasi generasi muda tidak pernah benar-benar selesai.(Udin)


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.