Langsung ke konten
Sabtu, 19 September 2026
Headline Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026 
Pendidikan

Prof Mufidah: Kesalehan Tak Cukup di Ruang Ibadah, Akhlak kepada Tetangga Jadi Cermin Keberagamaan

Prof Mufidah dari UIN Malang mengulas tentang kesalehan yang tak cukup di ruang ibadah namun juga harus di lingkungan sosial.

Prof Mufidah dari UIN Malang mengulas tentang kesalehan yang tak cukup di ruang ibadah namun juga harus di lingkungan sosial./dok.istimewa

Prof Mufidah dari UIN Malang mengulas tentang kesalehan yang tak cukup di ruang ibadah namun juga harus di lingkungan sosial./dok.istimewa

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Kesalehan seseorang tidak hanya tercermin dari aktivitas ritual dan ibadah, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan orang-orang di sekitarnya, terutama tetangga.

Adab bertetangga menjadi bagian penting dari akhlak (kesalehan) karena nilai-nilai agama sesungguhnya diuji dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan tersebut disampaikan Prof. Dr. Hj. Mufidah, M.Ag., Guru Besar Fakultas Syariah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dalam kegiatan Ngaji Bersama Guru Besar Perempuan: Kajian Kitab Tematik DWP UIN Maliki Malang, Jumat (18/9/2026).

Baca juga: Prof Mufidah: APMNU Bisa Jadi Kekuatan Intelektual NU

Prof Mufidah Jelaskan Kesalehan dalam Konsep Bertetangga

Dalam kajian bertema “Adab Bertetangga” melalui kitab Ahkamun Nisa’ yang digelar secara daring melalui Google Meet tersebut, Prof. Mufidah menjelaskan bahwa konsep bertetangga tidak sekadar berkaitan dengan orang yang tinggal di rumah sebelah.

Tetangga merupakan bagian dari lingkungan sosial yang terbentuk melalui kedekatan, interaksi, kepedulian, serta hubungan yang berlangsung secara berkesinambungan.

Menurut Prof. Mufidah, tetangga dapat menjadi sumber dukungan, pertolongan, rasa aman, dan solidaritas.

Namun, perkembangan zaman turut mengubah pola hubungan tersebut. Jika dahulu interaksi banyak dibangun melalui perjumpaan langsung, gotong royong, dan komunikasi dari rumah ke rumah, kini hubungan sosial juga berlangsung melalui grup WhatsApp dan berbagai platform digital.

Perubahan tersebut membuat makna bertetangga berkembang, dari sekadar kedekatan geografis menjadi kedekatan sosial, bahkan digital.

Tantangannya bukan hanya bagaimana tetap terhubung, tetapi juga bagaimana mempertahankan empati, kepedulian, dan silaturahmi di tengah perubahan pola komunikasi.

Prof. Mufidah menekankan bahwa relasi bertetangga membutuhkan fondasi psikologis dan spiritual yang kuat.

Sikap husnuzan, empati, kasih sayang, kesabaran, pengendalian emosi, penghormatan terhadap privasi, serta ihsan menjadi nilai penting dalam menjaga keharmonisan hubungan.

Nilai tersebut sejalan dengan pesan QS. An-Nisa’ ayat 36 yang memerintahkan umat Islam untuk berbuat baik kepada tetangga dekat maupun tetangga jauh.

Iklan

Prof. Mufidah juga mengutip pemikiran Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin yang menempatkan hubungan sosial sebagai bagian dari pembinaan akhlak dan penyucian jiwa.

Menjaga lisan, tidak menyakiti, membantu ketika dibutuhkan, memaafkan, bersabar, serta menghormati hak tetangga merupakan bagian dari akhlak seorang Muslim.

Karena itu, Prof. Mufidah menegaskan bahwa keberagamaan tidak berhenti di ruang ibadah dan menjadi kesalehan tunggal.

Nilai-nilai agama yang menjadi bagian dari perwujudan kesalehan semestinya hadir dalam perilaku sehari-hari.

Termasuk dalam cara seseorang berbicara, bersikap, menghormati, dan memperlakukan tetangganya.

“Keberagamaan tidak berhenti di ruang ibadah. Nilai agama semestinya terlihat dalam perilaku sehari-hari, termasuk bagaimana seseorang berbicara, bersikap, menghormati, dan memperlakukan tetangganya,” tegas Prof. Mufidah.

Dalam menghadapi tetangga yang memiliki perilaku kurang baik, Prof. Mufidah mengingatkan pentingnya pengendalian emosi dan komunikasi yang santun.

Penetapan batasan yang sehat, tabayun, serta pelibatan pihak ketiga yang netral apabila diperlukan dapat ditempuh agar persoalan tidak berkembang menjadi konflik.

Pesan tersebut semakin relevan di tengah perubahan pola relasi sosial masyarakat.

Kemajuan teknologi memungkinkan manusia berkomunikasi dengan lebih banyak orang, tetapi tidak otomatis menghadirkan kedekatan emosional. Karena itu, hubungan sosial tetap membutuhkan kepedulian, empati, kesabaran, dan kesediaan menjaga perasaan orang lain.

Refleksi Keislaman di Kehidupan Sehari-hari

Melalui kajian tersebut, DWP UIN Maliki Malang menghadirkan ruang refleksi keislaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Adab bertetangga bukan sekadar aturan sosial, melainkan bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual untuk menciptakan lingkungan yang aman, harmonis, saling menghormati, dan penuh keberkahan.

Sebab, kualitas akhlak dan keberagamaan seseorang terkadang justru paling nyata terlihat bukan ketika ia berada di hadapan banyak orang, melainkan ketika ia berinteraksi dengan orang-orang yang hidup paling dekat dengannya—para tetangga.(MFT)

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.