MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Salah satu program kerja mahasiswa Mahasiswa Membangun Desa (MMD) Universitas Brawijaya di Desa Ngadireso, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, mengajak warga mengolah minyak jelantah, limbah rumah tangga yang selama ini jarang dimanfaatkan, menjadi lilin aromaterapi.
Program bertajuk “Pengolahan Minyak Jelantah Menjadi Lilin Aromaterapi sebagai Upaya Peningkatan Nilai Tambah Limbah Rumah Tangga” yang digagas oleh Salsa Dila Viola, mahasiswi Program Studi Manajemen Perhotelan, Fakultas Vokasi, Universitas Brawijaya, dengan pendampingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Dr. Firman Jaya, S.Pt., M.P. Kegiatan ini digelar sebagai edukasi sekaligus pelatihan keterampilan sederhana bagi masyarakat, khususnya ibu-ibu PKK Desa Ngadireso.
Bertempat di Balai Desa Ngadireso pada 28 Juli 2026, kegiatan ini diikuti puluhan ibu-ibu dari jajaran Fungsionaris dan Kelompok Kerja (Pokja) PKK. Jumlah peserta yang hadir bahkan melampaui target awal, mencerminkan tingginya minat masyarakat terhadap pengelolaan limbah rumah tangga menjadi produk yang lebih bermanfaat.
Berawal dari Masalah Lingkungan
Program ini lahir dari keprihatinan terhadap kebiasaan warga yang masih membuang minyak jelantah langsung ke saluran air, tanah, maupun tempat sampah tanpa pengolahan lebih dulu. Kebiasaan tersebut berisiko mencemari lingkungan, sekaligus menyia-nyiakan potensi ekonomi yang sebenarnya bisa digali dari limbah rumah tangga.
Menjawab persoalan itu, pengolahan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi dipilih sebagai solusi yang sederhana namun aplikatif. Bahan baku mudah didapat dari dapur rumah tangga, peralatan yang dibutuhkan pun relatif sederhana, sementara produk akhirnya memiliki nilai guna sekaligus peluang nilai ekonomi.
Dari Materi hingga Praktik Langsung
Kegiatan diawali dengan pemaparan materi mengenai dampak pembuangan minyak jelantah terhadap lingkungan, dilanjutkan pengenalan konsep pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai guna. Peserta kemudian diajak memahami tahapan pembuatan lilin aromaterapi, mulai dari penyaringan minyak jelantah dengan arang aktif untuk mengurangi bau dan warna gelap, pencampuran dengan stearin sebagai bahan pengeras, penambahan minyak esensial sebagai pewangi dan pewarna, hingga pemasangan sumbu dan pencetakan lilin.
Tidak berhenti di teori, ibu-ibu PKK dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk mengikuti demonstrasi dan praktik langsung dengan pendampingan mahasiswa di setiap tahap. Pendekatan ini sengaja dirancang agar peserta tidak hanya memahami konsep pengelolaan limbah, tetapi juga menguasai keterampilan yang bisa mereka terapkan kembali secara mandiri di rumah masing-masing. Rangkaian kegiatan disusun secara runtut: penyampaian materi, demonstrasi, praktik langsung, hingga evaluasi pemahaman peserta.

Hasil Nyata dan Keberlanjutan Program
Antusiasme peserta terlihat sepanjang sesi demonstrasi dan praktik, dengan setiap kelompok berhasil menghasilkan produk lilin aromaterapi sebagai luaran nyata kegiatan. Evaluasi pemahaman dilakukan melalui wawancara langsung setelah kegiatan berlangsung. Secara umum, peserta mampu menjelaskan kembali dampak lingkungan dari pembuangan minyak jelantah maupun tahapan pembuatan lilin yang telah mereka praktikkan, meski tingkat pemahaman antarpeserta belum sepenuhnya merata.
Agar manfaatnya berlanjut, setiap peserta menerima modul panduan digital berformat PDF berisi alat, bahan, takaran, dan tahapan pembuatan lilin aromaterapi, yang dibagikan melalui grup WhatsApp PKK sehingga dapat diakses kembali kapan pun dibutuhkan. Produk lilin hasil praktik beserta sejumlah bahan pendukung seperti stearin, pewangi, dan sumbu turut diberikan kepada peserta agar mereka terdorong mencoba kembali pembuatan lilin dari minyak jelantah di rumah masing-masing.
Mendukung Kesadaran Lingkungan dan Ekonomi Desa
Lebih dari sekadar pelatihan keterampilan, program ini diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan limbah rumah tangga. Program ini sejalan dengan SDGs Desa 12 (Konsumsi dan Produksi Desa Sadar Lingkungan), SDGs Desa 8 (Pertumbuhan Ekonomi Desa yang Merata), dan SDGs Desa 15 (Desa Peduli Lingkungan Darat).
Melalui kegiatan ini, masyarakat Desa Ngadireso diperkenalkan pada penerapan Teknologi Tepat Guna (TTG) yang sederhana dan mudah diadaptasi sesuai kebutuhan rumah tangga. Harapannya, pemanfaatan minyak jelantah tidak berhenti di ujung kegiatan MMD, melainkan berkembang menjadi kegiatan produktif yang memberi manfaat lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi warga.
Capaian program menunjukkan respons positif dari masyarakat: jumlah peserta yang melampaui target, praktik yang berhasil menghasilkan produk jadi, serta indikasi bahwa keterampilan yang diberikan mulai diterapkan kembali secara mandiri oleh peserta setelah kegiatan berakhir. Ke depan, program ini masih terbuka untuk dikembangkan lebih lanjut, misalnya melalui pendampingan lanjutan oleh kader PKK, pengembangan kemasan dan label produk, penyusunan strategi pemasaran, hingga peningkatan pemahaman soal kualitas dan keamanan produk.
Program ini menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa MMD Universitas Brawijaya dalam mendukung pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan potensi yang ada di lingkungan sekitar. Dari sesuatu yang semula dipandang sebagai limbah, masyarakat Desa Ngadireso diperkenalkan pada peluang untuk mengolahnya menjadi produk yang lebih bermanfaat.
Dengan pendampingan Dosen Pembimbing Lapangan, kegiatan ini diharapkan menjadi salah satu langkah awal bagi masyarakat Desa Ngadireso untuk mengelola limbah rumah tangga secara lebih berkelanjutan, sekaligus menjadi implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi di bidang pengabdian kepada masyarakat.


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.