Sorotan
OPINI | JATIMSATUNEWS.COM: Porsi Jawara II di Pekalongan: Ketika Menjadi Juara Tak Cukup dengan Medali oleh Dr.H.Miftahul Huda, SHI.,M.H. (WD-III bidang Kemahasiswaan Fakultas Syariah UIN Malang)
Porsi Jawara II di Pekalongan
Gedung Student Centre UIN Gus Dur Pekalongan riuh pada Rabu malam (9/9/2026).
Sebanyak 1.408 mahasiswa dari 18 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Jawa dan Madura berkumpul menyambut pembukaan Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah (PORSI) Jawara II.
Ajang yang mempertemukan talenta muda dari berbagai penjuru Jawa dan Madura tersebut resmi dibuka oleh Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Kementerian Agama RI, Prof. Dr.H.Amien Suyitno, M.Ag serta dihadiri para rektor PTKIN se-Jawa dan Madura.
Mereka datang dengan warna almamater, yel-yel, dan target masing-masing.
Ada yang memburu medali, ada yang ingin menunjukkan kemampuan terbaik, dan ada pula yang membawa ambisi membuktikan bahwa latihan panjang mereka tidak sia-sia.
Tetapi Porsi Jawara II sesungguhnya menyimpan cerita yang lebih besar daripada sekadar siapa yang berdiri di podium.
Dengan mengusung tema “Energi Juara Harmoni Nusantara”, perhelatan ini mempertemukan olahraga, seni, dan kompetisi ilmiah dalam satu ruang.
Di tengah kehidupan generasi muda yang semakin dipengaruhi perubahan teknologi, derasnya arus informasi, dan berbagai bentuk polarisasi sosial, perjumpaan semacam ini menjadi penting.
Sebab, mahasiswa tidak hanya membutuhkan ruang untuk menjadi pintar. Mereka juga membutuhkan ruang untuk belajar menjadi manusia.
Baca juga: Porsi Jawara 2026 Dimulai, WD III UIN Malang Suntik Semangat Kontingen
Belajar Menjadi Juara
Menjadi juara sering kali diterjemahkan secara sederhana: menang, mendapatkan medali, lalu membawa pulang piala.
Padahal, proses menuju kemenangan jauh lebih panjang daripada beberapa menit di arena pertandingan.
Ada latihan yang melelahkan, kegagalan yang harus diterima, rasa gugup sebelum tampil, tekanan dari ekspektasi, hingga keputusan juri yang terkadang tidak sesuai harapan.
Semua itu adalah bagian dari pendidikan yang tidak selalu ditemukan di ruang kuliah.
Porsi Jawara II memberi ruang bagi mahasiswa untuk belajar menghadapi semua itu.
Di satu sisi, mereka dituntut kompetitif. Di sisi lain, mereka harus mampu menjaga sportivitas. Mereka boleh berambisi menjadi yang terbaik, tetapi tidak boleh kehilangan rasa hormat kepada lawan.
Di situlah sesungguhnya mental juara dibentuk.
Juara bukan hanya mereka yang mampu mengalahkan orang lain. Juara adalah mereka yang mampu mengalahkan rasa takut, keraguan, ego, dan keinginan untuk menyerah dalam dirinya sendiri.
Ketika Olahraga, Seni, dan Ilmu Bertemu
Menariknya, Porsi Jawara tidak hanya berbicara tentang olahraga.
Seni dan kompetisi ilmiah juga menjadi bagian penting dalam perhelatan tersebut. Perpaduan ini memperlihatkan bahwa mahasiswa PTKIN memiliki ruang yang luas untuk mengembangkan berbagai potensi.
Seorang mahasiswa dapat menjadi atlet yang tangguh sekaligus memiliki kemampuan intelektual yang kuat. Mahasiswa lainnya dapat tampil di panggung seni, menyampaikan gagasan ilmiah, atau menunjukkan kemampuan di bidang keagamaan.
Semua memiliki ruang untuk tumbuh.
Inilah wajah pendidikan yang semestinya dibangun: pendidikan yang tidak hanya mengejar kecerdasan akademik. Tetapi juga membentuk ketahanan fisik, kepekaan rasa, kemampuan berpikir kritis, kedewasaan emosional, dan kemampuan bekerja bersama.
Kampus tidak seharusnya hanya menghasilkan manusia yang pandai menjawab soal. Kampus juga harus melahirkan manusia yang mampu menghadapi persoalan kehidupan.
Rival di Arena, Saudara di Luar Pertandingan
Kompetisi memang membutuhkan rivalitas. Tanpa rivalitas, sulit lahir dorongan untuk memberikan kemampuan terbaik.
Namun, rivalitas tidak boleh berubah menjadi permusuhan.
Mahasiswa yang hari ini berdiri sebagai lawan di lapangan, esok hari bisa saja menjadi rekan kerja, mitra penelitian, sahabat, bahkan bagian dari jejaring yang bersama-sama membangun Indonesia.
Karena itu, setiap perjumpaan dalam Porsi Jawara sesungguhnya merupakan investasi sosial.
Ketika mahasiswa dari berbagai PTKIN bertemu, mereka tidak hanya bertukar kemampuan. Mereka juga bertukar cerita, budaya, pengalaman, dan cara pandang.
Identitas daerah dan kampus tetap melekat, tetapi semuanya bertemu dalam identitas yang lebih besar: sebagai generasi muda Indonesia.
Pekalongan, Kota yang Menjadi Ruang Pertemuan
Pekalongan sebagai tuan rumah memberikan warna tersendiri bagi perhelatan ini.
Kota yang dikenal sebagai Kota Batik tersebut menjadi tempat bertemunya mahasiswa dari berbagai daerah dengan latar belakang dan karakter yang beragam.
Batik sendiri dapat menjadi metafora sederhana tentang harmoni. Beragam motif, warna, dan pola tidak harus dibuat seragam untuk menghasilkan keindahan. Justru keberagaman itulah yang membuatnya bernilai.
Begitu pula dengan Indonesia.
Harmoni tidak berarti semua orang harus sama. Harmoni berarti mampu hidup berdampingan, saling menghargai, dan menemukan titik temu di tengah perbedaan.
Semangat itulah yang seharusnya dibawa pulang oleh para peserta Porsi Jawara II.
Investasi Karakter untuk Masa Depan
Jika dilihat lebih jauh, kompetisi mahasiswa seperti Porsi Jawara II merupakan investasi karakter.
Di lapangan, mahasiswa belajar disiplin dan kerja sama tim. Di panggung seni, mereka belajar keberanian dan ekspresi. Dalam kompetisi ilmiah, mereka belajar menyusun gagasan, berpikir kritis, dan mempertanggungjawabkan argumen.
Mereka juga belajar menghadapi tekanan.
Tidak semua perjuangan berakhir dengan kemenangan. Tidak semua penampilan menghasilkan nilai tertinggi. Tidak semua harapan berujung pada medali.
Tetapi kegagalan bukan akhir dari perjalanan.
Justru kemampuan untuk menerima kekalahan, mengevaluasi diri, menghargai kemenangan orang lain, lalu kembali berlatih merupakan bentuk kemenangan yang sesungguhnya.
Karakter seperti inilah yang akan dibutuhkan ketika mahasiswa meninggalkan kampus dan masuk ke dunia yang jauh lebih kompleks.
Baca juga: Rektor UIN Malang Bekali 110 Delegasi dengan Penguatan Mental dan Spiritual
Jangan Hanya Bawa Pulang Medali
Dengan demikian, Porsi Jawara II tidak semestinya hanya dikenang dari daftar juara atau jumlah medali yang diperoleh setiap kontingen.
Medali memang penting. Ia menjadi simbol dari kerja keras, disiplin, dan pencapaian.
Namun, ada sesuatu yang jauh lebih panjang umurnya daripada medali: pengalaman, persahabatan, jejaring, keberanian, dan persaudaraan.
Karena itu, kepada seluruh peserta Porsi Jawara II, bertandinglah dengan sungguh-sungguh.
Kejar kemenangan dengan penuh keyakinan. Tampilkan kemampuan terbaik. Jangan takut menghadapi lawan. Tetapi jangan pula kehilangan sportivitas ketika pertandingan berakhir.
Sebab, lawan hari ini bisa menjadi sahabat dan mitra perjuangan di masa depan.
Jika pulang membawa medali, itu adalah sebuah kebanggaan.
Tetapi jika pulang membawa pengalaman yang lebih matang, mental yang lebih kuat, jaringan persaudaraan yang lebih luas, dan tekad untuk menjadi manusia yang lebih baik, sesungguhnya ada kemenangan yang jauh lebih besar telah diraih.
Porsi Jawara II mengingatkan kita pada satu hal sederhana: menjadi juara bukan hanya tentang seberapa banyak medali yang kita bawa pulang, tetapi tentang seberapa banyak nilai kebaikan yang kita bawa dalam perjalanan pulang.(Editor: YAN)


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.