MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Fenomena pria yang terlihat sangat lemas dan seolah menderita sakit berat padahal hanya terkena flu atau demam ringan kerap kali menjadi bahan candaan di tengah masyarakat. Kondisi yang populer disebut sebagai *man flu* ini ternyata bukan sekadar mitos belaka, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor kompleks mulai dari sisi biologis, psikologis, hingga konstruksi sosial.
Menanggapi fenomena tersebut, Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dr. Yusrin Aulia, Sp.KJ., menegaskan bahwa man flu sejatinya bukanlah sebuah diagnosis medis resmi, melainkan sekadar istilah populer. Menurutnya, meskipun sebagian laki-laki menunjukkan keluhan yang tampak lebih dramatis saat mengalami infeksi saluran napas, hal ini tidak bisa disamaratakan untuk semua pria. “Man flu itu sebenarnya istilah populer. Kalau laki-laki mengalami flu, demam, atau infeksi saluran napas lainnya, kelihatannya bisa lebih dramatis dan lebih berat dibandingkan perempuan. Ini memang terjadi pada sebagian orang, tetapi tidak bisa dikatakan pasti terjadi pada laki-laki,” jelasnya pada Rabu (2/9).
Dari kacamata biologis, dr. Yusrin menerangkan bahwa hormon turut mengambil peran. Ia menyebutkan hormon testosteron pada pria memiliki sifat imunomodulator yang dapat sedikit menekan respons sistem kekebalan tubuh, berkebalikan dengan hormon estrogen pada perempuan yang justru mampu meningkatkan respons imun. Meski demikian, ia menggarisbawahi bahwa perbedaan hormonal ini tidak bisa dijadikan satu-satunya alasan pasti. Respons tubuh saat sakit, lanjutnya, juga sangat bergantung pada jenis virus atau bakteri yang menyerang serta berbagai faktor penyerta lainnya.
Lebih jauh, dokter yang juga berpraktik di Rumah Sakit UMM ini menyoroti persepsi dan kebiasaan pria yang cenderung ingin selalu mempertahankan citra sebagai sosok yang kuat. Sikap inilah yang kerap membuat mereka mengabaikan gejala awal penyakit dan menunda mencari pertolongan. “Laki-laki biasanya cenderung ingin terlihat kuat. Gejala yang sedikit sering diabaikan. Ketika akhirnya sakit benar-benar terasa, kondisinya bisa tampak seperti langsung sangat drop,” ungkap dr. Yusrin.
Oleh karena itu, ia sangat menyarankan agar para pria menyingkirkan rasa gengsi untuk beristirahat saat tubuh mulai memunculkan gejala. Untuk keluhan ringan seperti batuk dan pilek, penanganan awal cukup dilakukan dengan istirahat, memastikan kebutuhan cairan terpenuhi, serta mengonsumsi obat bebas seperti paracetamol sesuai dengan aturan pakai.
Namun, ia mengingatkan agar masyarakat tidak ragu mencari pertolongan medis jika keluhan semakin memburuk. “Kalau sudah demam terus-menerus, sangat lemas, tidak bisa beraktivitas, nafsu makan menurun, sesak atau sulit bernapas, sebaiknya segera ke dokter. Tidak harus menunggu tiga hari,” pesannya dengan tegas.
Sebagai penutup, dr. Yusrin berpesan bahwa mengakui tubuh sedang sakit dan membutuhkan istirahat bukanlah sebuah tanda kelemahan, melainkan bentuk nyata kepedulian terhadap kesehatan diri. Ia berharap stigma sosial tentang maskulinitas tidak lagi menjadi penghalang bagi kaum pria untuk peduli pada kondisi tubuhnya, karena sakit bisa datang kepada siapa saja tanpa memandang gender.


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.