Langsung ke konten
Rabu, 2 September 2026
Headline Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026 
Daerah

Berkah Muktamar NU ke-35 Jombang, Ning Lia Terharu Jasa Pijat Tunanetra Raup Belasan Juta

Senator perempuan yang akrab disapa Ning Lia ini mengaku terharu melihat geliat ekonomi warga yang seolah tak kenal waktu.

Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama (Ning Lia), memaknai perhelatan Muktamar ke-35 NU sebagai momentum kebangkitan ekonomi kerakyatan yang inklusif bagi warga sekitar.

Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama (Ning Lia), memaknai perhelatan Muktamar ke-35 NU sebagai momentum kebangkitan ekonomi kerakyatan yang inklusif bagi warga sekitar. (Foto: Tim Lia Istifhama, istimewa)

JOMBANG | JATIMSATUNEWS.COM: Hiruk-pikuk Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, rupanya tidak sekadar menjadi ajang konsolidasi organisasi. Perhelatan akbar ini sukses menggerakkan roda ekonomi masyarakat kecil di sekitar lokasi acara. Fakta tersebut menjadi perhatian khusus bagi Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama.

Senator perempuan yang akrab disapa Ning Lia ini mengaku terharu melihat geliat ekonomi warga yang seolah tak kenal waktu. Pedagang kaki lima, warung makan, hingga penyedia jasa sederhana terus beroperasi melayani ribuan peserta muktamar hingga dini hari.

“Yang membuat saya terharu, muktamar ini ternyata bukan hanya menjadi ruang silaturahmi dan musyawarah bagi warga Nahdliyin. Di luar arena, ada masyarakat yang ikut merasakan berkahnya. Ada yang berdagang, membuka jasa, bahkan teman-teman penyandang disabilitas juga mampu menangkap peluang ekonomi ini,” ungkap Ning Lia yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua PW Fatayat NU Jatim.

Menurut keponakan Gubernur Jatim Khofifah tersebut, kedatangan ribuan orang secara otomatis menciptakan multiplier effect bagi masyarakat lokal. Ia menyebut fenomena ini sebagai berkah muktamar yang nyata, di mana warga tidak sekadar menjadi penonton, melainkan ikut menjadi aktor penggerak ekonomi.

Iklan

Salah satu potret kegigihan yang sangat menyita perhatian Ning Lia adalah kisah Panji Perdana, seorang penyandang tunanetra asal Kediri. Bermodalkan tikar sederhana, Panji bersama empat rekannya nekat membuka layanan jasa pijat selama 24 jam penuh bagi peserta yang kelelahan. Kepada Ning Lia, Panji mengaku mampu melayani belasan orang per hari dengan total omzet menembus belasan juta rupiah selama muktamar berlangsung.

“Dalam sehari bisa melayani sekitar belasan orang,” tutur Panji bersyukur atas rezeki tersebut.

Mendengar kisah itu, Ning Lia memberikan apresiasi setinggi-tingginya. Ia menegaskan bahwa keterbatasan fisik bukanlah halangan untuk meraup rezeki secara halal. “Saya melihat sendiri bahwa keterbatasan bukan berarti tidak bisa berkarya. Panji dan teman-temannya datang, bekerja, melayani orang dengan keterampilan yang mereka miliki, kemudian mendapatkan rezeki,” pujinya.

Keberkahan serupa turut dirasakan oleh Ahmad Syafi’i, pemilik Warung Lele Legend di Gang IV Pesantren Bahrul Ulum. Jika pada hari biasa ia hanya mengantongi Rp400 ribu hingga Rp500 ribu, omzetnya kini melonjak tajam. “Ini berkah Muktamar. Alhamdulillah, pendapatan warung naik lebih dari 100 persen,” kata Syafi’i antusias.

Melihat fenomena yang difasilitasi pula oleh ketersediaan 1.300 tenant UMKM dari panitia tersebut, Ning Lia berharap agar dampak positif ini tidak menguap begitu saja usai acara bubar. Ia menginginkan momentum ini sejalan dengan nilai ta’awun atau kepedulian sosial khas NU, sehingga jejaring ekonomi yang terbangun dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat yang berkesinambungan bagi masyarakat luas.

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.