MALANG |JATIMSATUNEWS.COM: Kecanduan gadget sejak usia dini yang melanda anak-anak di berbagai wilayah kini turut dirasakan warga RT 13, Gandon Barat, Sukolilo. Fenomena ini memunculkan kekhawatiran akan menurunnya literasi serta memudarnya pengetahuan anak-anak terhadap permainan tradisional yang dahulu menjadi bagian dari keseharian mereka. Menjawab persoalan tersebut, kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) 124 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) 2026 berkolaborasi dengan warga menginisiasi pendirian Gubuk Baca Kampung Telulas dan Kampung Dolanan sebagai ruang belajar sekaligus bermain bagi anak-anak setempat.
Kampung Telulas: Kampung Literasi dan Kampung Dolanan dihadirkan sebagai sarana pembelajaran literasi yang memadukan tiga aspek sekaligus, yaitu penguatan minat baca, pengenalan kembali permainan tradisional, serta edukasi mengenai konsep kampung hijau. Melalui pendekatan ini, mahasiswa KKN 124 UMM berharap anak-anak tidak hanya berfokus terhadap literasi, tetapi juga memperoleh pengalaman bermain yang mendidik dan ramah lingkungan.
“Kami melihat langsung bagaimana gadget menjadi kebiasaan yang sulit dihentikan, sementara minat baca dan pengetahuan mereka tentang permainan tradisional justru semakin berkurang. Mereka juga jadi jarang berkumpul untuk bermain bersama. Dari situ kami berinisiatif menghadirkan gubuk baca ini sebagai alternatif kegiatan yang lebih bermanfaat,” ujar Sealand, Koordinator Divisi Pendidikan dan Keagamaan.
Pembangunan Kampung Telulas: Kampung Literasi dan Kampung Dolanan berlokasi tepat di RT 13, Gandon Barat, Sukolilo, di atas lahan milik warga setempat, Bapak Susiadi, yang dengan sukarela mengizinkan penggunaan tanahnya sebagai Kampung Literasi dan Kampung Dolanan. Dukungan tersebut menjadi salah satu faktor penting yang memungkinkan program ini dapat terealisasi dengan baik.
Menghidupkan Kembali Permainan Tradisional
Di area Gubuk Baca Kampung Telulas, anak-anak dapat menjumpai beragam permainan tradisional yang mulai jarang ditemui, seperti egrang, lompat tali karet, dakon, bakiak tandem, hingga kelereng. Menariknya, sebagian alat permainan tersebut dibuat secara swadaya oleh warga menggunakan barang-barang bekas, sejalan dengan semangat kampung hijau yang diusung dalam program ini. Warga RT 13 sangat aktif membantu dalam kesuksesan program ini.
Tidak hanya menghadirkan kembali permainan lama, mahasiswa KKN 124 UMM juga berkolaborasi dengan ibu-ibu warga RT 13, yang mayoritas berprofesi sebagai guru, untuk menciptakan permainan edukatif baru. Dari kolaborasi tersebut lahir permainan engklek serta ular tangga berisi pertanyaan-pertanyaan seputar pengetahuan umum, yang dirancang agar anak-anak dapat belajar sambil bermain.
Taman Hijau dan Kreativitas Bersama
Selain gubuk baca dan area permainan, mahasiswa KKN 124 UMM turut mengajak anak-anak desa untuk terlibat langsung dalam pembuatan taman hijau di lokasi tersebut. Kegiatan ini diisi dengan aktivitas mengecat hiasan berbahan plastik bekas serta menghias dinding secara bersama-sama. Kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan mempercantik lingkungan, tetapi juga menjadi momen untuk mempererat kebersamaan sekaligus mengasah kreativitas anak-anak Kampung Telulas.
Koleksi buku bacaan yang tersedia di Gubuk Baca Kampung Telulas sebagian besar merupakan sumbangan dari warga desa yang berkenan menyalurkan buku-buku bekas miliknya, dilengkapi pula dengan buku-buku yang dibawa oleh mahasiswa KKN 124 UMM.
Harapan untuk Kampung Telulas
Melalui program Kampung Telulas: Kampung Literasi dan Kampung Dolanan, mahasiswa KKN 124 UMM berharap dapat menumbuhkan kembali semangat literasi dan bermain yang sehat di kalangan anak-anak. KKN 124 UMM berharap program tersebut akan dilanjutkan secara mandiri oleh masyarakat sebagai kegiatan berkelanjutan. Setiap tanggal 13, warga akan menggelar rangkaian kegiatan terbuka secara umum bertajuk “Serba 13” yang menjadi agenda rutin Kampung Telulas, dengan kegiatan edukatif, permainan tradisional, serta aktivitas kebersamaan bagi masyarakat, khususnya anak-anak.
Penulis: Tita Sheira R. KKN 124 UMM


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.