MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menetapkan batas similarity tugas akhir mahasiswa maksimal 25 persen untuk jenjang Sarjana (S1) dan 20 persen untuk jenjang Magister (S2). Ketentuan tersebut disosialisasikan Unit Pengembangan Publikasi Ilmiah FTIK melalui kegiatan Sosialisasi Kebijakan Cek Plagiasi untuk Tugas Akhir Mahasiswa, Jumat, 28 Agustus 2026.
Sosialisasi yang digelar secara daring melalui Zoom tersebut diikuti mahasiswa FTIK semester 5–14 serta mahasiswa S2 MPMat. Kegiatan menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memahami prosedur pemeriksaan similarity sekaligus menempatkan kebijakan tersebut dalam konteks yang lebih luas, yakni penguatan integritas akademik di tengah perkembangan teknologi dan pemanfaatan artificial intelligence (AI) dalam pendidikan.
Ketua Unit Pengembangan Publikasi Ilmiah FTIK, Wahyu Indah Mala Rohmana, hadir sebagai pemateri. Ia memaparkan kebijakan pemeriksaan similarity menggunakan Turnitin bagi mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhir.
Batas maksimal 25 persen untuk S1 dan 20 persen untuk S2 menjadi salah satu instrumen dalam memastikan karya ilmiah mahasiswa memenuhi standar akademik yang berlaku di lingkungan FTIK. Namun, pemeriksaan similarity tidak diarahkan semata-mata untuk mengejar angka persentase tertentu.
Persentase similarity perlu dipahami sebagai bagian dari proses memastikan penggunaan sumber dilakukan secara tepat. Mahasiswa tetap dituntut mencantumkan referensi melalui teknik sitasi yang benar, melakukan parafrase secara bertanggung jawab, serta memahami gagasan yang digunakan dalam karya ilmiahnya.
Dengan demikian, angka similarity yang rendah tidak secara otomatis menunjukkan kualitas sebuah tugas akhir. Kualitas karya tetap berkaitan dengan keaslian gagasan, ketepatan penggunaan sumber, kualitas analisis, kekuatan argumentasi, dan kemampuan penulis mempertanggungjawabkan isi penelitian.
Dalam konteks tersebut, tugas akhir tidak semestinya dipandang hanya sebagai dokumen administratif untuk memenuhi persyaratan kelulusan. Karya tersebut merupakan representasi dari proses intelektual mahasiswa, mulai dari merumuskan persoalan, menelusuri literatur, mengumpulkan dan menganalisis data, membangun argumentasi, hingga menghasilkan kesimpulan.
Karena itu, mahasiswa perlu memahami substansi kebijakan pemeriksaan plagiasi, bukan sekadar mengetahui cara memperoleh persentase similarity sesuai ketentuan. Pemahaman tersebut berkaitan dengan bagaimana menghasilkan karya yang orisinal, argumentatif, dan memiliki dasar akademik yang jelas.
Urgensi penguatan integritas akademik semakin besar seiring meluasnya penggunaan AI dalam proses pembelajaran dan penulisan. Teknologi tersebut dapat membantu mahasiswa menemukan informasi, mengembangkan ide, menyusun kerangka tulisan, hingga memperbaiki aspek kebahasaan.
Di sisi lain, penggunaan AI juga membawa persoalan baru terkait orisinalitas gagasan, kepemilikan intelektual, akurasi informasi, dan etika akademik. Kemudahan teknologi tidak seharusnya membuat mahasiswa menyerahkan proses berpikir kepada sistem AI.
Kemampuan menganalisis informasi, menguji argumentasi, mengambil keputusan akademik, dan menghasilkan gagasan tetap menjadi bagian utama dari proses intelektual mahasiswa. AI dapat digunakan sebagai perangkat pendukung, tetapi tanggung jawab terhadap substansi karya tetap berada pada penulis.
Perspektif tersebut membuat kebijakan cek plagiasi memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar mekanisme pemeriksaan dokumen. Kebijakan tersebut dapat menjadi instrumen pendidikan untuk membentuk kebiasaan akademik yang menjunjung kejujuran, orisinalitas, ketepatan penggunaan sumber, dan tanggung jawab ilmiah.
Melalui sosialisasi ini, Unit Pengembangan Publikasi Ilmiah FTIK mendorong mahasiswa agar memahami pemeriksaan similarity sebagai bagian dari proses membangun karya ilmiah yang berkualitas. Mahasiswa tidak hanya diarahkan memenuhi batas persentase yang ditetapkan, tetapi juga memahami prinsip akademik yang mendasari kebijakan tersebut.
Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari upaya FTIK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang membangun ekosistem akademik yang mampu beradaptasi dengan transformasi digital tanpa mengabaikan integritas ilmiah. Di tengah semakin mudahnya akses terhadap informasi dan teknologi AI, kemampuan menggunakan teknologi secara kritis, etis, dan bertanggung jawab menjadi bagian penting dari kompetensi akademik mahasiswa.



Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.