Langsung ke konten
Senin, 31 Agustus 2026
Headline Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026 
Nasional

Perjuangan Relawan UM Tembus Jalur Longsor Demi Korban Bencana di Manggarai Timur

Melalui Tim Relawan UM, kampus ini memberangkatkan delegasinya menuju Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Jumat (28/8) guna memberikan

Tim Relawan Universitas Negeri Malang (UM) berfoto bersama membentangkan spanduk di depan armada transportasi sebelum bergerak menembus jalur darat untuk menyalurkan bantuan kesehatan dan psikososial di Nusa Tenggara Timur.

Tim Relawan Universitas Negeri Malang (UM) berfoto bersama membentangkan spanduk di depan armada transportasi sebelum bergerak menembus jalur darat untuk menyalurkan bantuan kesehatan dan psikososial di Nusa Tenggara Timur. (Foto: Humas UM)

NUSA TENGGARA TIMUR | JATIMSATUNEWS.COM: Misi kemanusiaan untuk memulihkan senyum korban bencana kembali digalakkan oleh Universitas Negeri Malang (UM). Melalui Tim Relawan UM, kampus ini memberangkatkan delegasinya menuju Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Jumat (28/8) guna memberikan dukungan kesehatan dan psikososial secara langsung kepada masyarakat yang terdampak.

Perjalanan panjang yang ditempuh tim tidaklah mudah. Setibanya di Pelabuhan Ende sekitar pukul 17.00 WITA, para relawan tidak lantas beristirahat.

“Begitu merapat di Ende, kami langsung berkoordinasi dengan rekan-rekan relawan dari Universitas Nusa Cendana (Undana) guna memantapkan langkah sebelum meneruskan perjalanan darat ke wilayah penugasan,” ungkap salah satu perwakilan Tim Relawan UM.

Baca juga: Perkuat Kolaborasi Pentahelix, Universitas Ma Chung dan Pemkot Malang Resmi Teken MoU Bidang Kesehatan

Baca juga: Implementasi Probiotik di Tambak Segoro Tambak Dukung Produktivitas Perikanan serta Pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 14: Life Below Water

Malam kian larut ketika iring-iringan kendaraan pembawa relawan kembali bergerak menuju Borong, ibu kota Kabupaten Manggarai Timur. Perjalanan darat tersebut diperkirakan memakan waktu hingga 10 jam dengan rintangan alam yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

“Medan yang kami lalui cukup menantang. Tim harus menyisir sejumlah jalur yang terdampak longsor. Material tanah sisa longsoran di beberapa titik jalan mengharuskan kendaraan melaju dengan sangat ekstra hati-hati di tengah kegelapan malam,” jelasnya menggambarkan kondisi perjalanan.

Meski dihantam kelelahan fisik dan dituntut konsentrasi penuh, semangat tim tak surut sedikit pun. Sebelum menembus pekatnya malam, Tim UM dan Undana telah sepakat membagi tugas secara merata. Mereka meyakini bahwa misi ini bukan sekadar urusan mencapai lokasi, melainkan panggilan jiwa.

“Kami menyadari bahwa pemulihan pascabencana tidak otomatis selesai saat kondisi fisik infrastruktur membaik. Ada rasa takut, kehilangan, dan trauma mendalam yang dirasakan warga. Oleh karena itu, pendampingan psikososial menjadi fokus utama kami, agar mereka punya ruang untuk didengarkan,” ujar salah satu relawan kesehatan dalam tim tersebut.

Sebagai bentuk kepatuhan pada prosedur penanganan bencana, Tim Relawan UM memastikan akan langsung berkoordinasi dengan Health Emergency Operation Center (HEOC) Manggarai Timur setibanya di lokasi.

“Langkah pelaporan ini sangat penting agar seluruh pergerakan kemanusiaan kami bisa terintegrasi dengan sistem penanganan dari pemerintah daerah setempat,” tegas koordinator tim.

Setelah koordinasi rampung, seluruh relawan dijadwalkan langsung merapat ke Posko Kolaborasi UM–Undana yang berpusat di sekitar Puskesmas Watunggong, Kecamatan Congkar. Titik ini disiapkan sebagai pusat operasi sekaligus ruang kolaborasi lintas pihak untuk mempercepat pemulihan warga.

Langkah nyata ini merupakan wujud implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, sekaligus poin ke-17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Bagi para relawan, menembus jarak puluhan kilometer dan jalanan rawan longsor adalah bagian dari ikhtiar suci. Mereka ingin memastikan kehadiran tenaga pendidik dan mahasiswa di tengah reruntuhan mampu menjadi penguat, sekaligus pesan nyata bahwa masyarakat Manggarai Timur tidak pernah sendirian melewati masa-masa sulit ini.

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.