Sorotan
OPINI | JATIMSATUNEWS.COM: Berkat Maulid dan Jejak Kesalehan Ekologi oleh Dr.H.Miftahul Huda, SHI.,M.H., Dosen Fakultas Syariah UIN Malang
Setiap kali Rabiul Awal tiba, gema shalawat dan sukacita perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW kembali memenuhi berbagai penjuru negeri.
Dari masjid megah di tengah kota hingga musala sederhana di pelosok desa, umat Islam berkumpul untuk mengenang dan mengekspresikan cinta kepada sosok yang menjadi uswatun hasanah, teladan terbaik dalam kehidupan.
Di tengah lantunan shalawat, pembacaan barzanji, ceramah, dan kenduri, ada satu tradisi yang hampir selalu hadir: berbagi makanan atau yang lazim disebut “berkat”.
Tradisi ini bukan sekadar membagikan makanan. Di dalamnya terdapat nilai sedekah, kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan kepada sesama.
Namun, ada pemandangan lain yang sering baru terlihat setelah acara usai. Tumpukan wadah makanan sekali pakai, kantong plastik, botol air kemasan, hingga sisa makanan memenuhi tempat sampah dan sudut-sudut lingkungan sekitar masjid.
Pemandangan tersebut semestinya mengajak kita berhenti sejenak dan bertanya: sudahkah cara kita merayakan Maulid mencerminkan nilai-nilai yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW?
Pertanyaan ini bukan untuk mengurangi kemeriahan Maulid atau mempertentangkan tradisi dengan agama.
Sebaliknya, ini adalah ajakan untuk memperluas makna cinta kepada Rasulullah, dari sekadar ungkapan lisan menjadi perilaku yang menghadirkan kemaslahatan bagi manusia dan lingkungan.
Baca juga: Ketika Pikiran Tak Lagi Punya Ruang untuk Beristirahat
Esensi Maulid Nabi Muhammad
Maulid pada dasarnya adalah perayaan cinta. Kita mengenang kelahiran Nabi, membaca sejarah hidupnya, mengagungkan akhlaknya, dan berharap mampu meneladaninya.
Namun, cinta yang berhenti pada seremoni akan kehilangan daya transformasinya.
Kita memuji kesederhanaan Rasulullah, tetapi merayakannya dengan konsumsi berlebihan.
Kita berbicara tentang kebersihan sebagai bagian dari iman, tetapi meninggalkan sampah plastik setelah acara keagamaan.
Kita mengajarkan kasih sayang kepada sesama, tetapi lupa bahwa bumi sebagai rumah bersama juga membutuhkan kepedulian.
Al-Qur’an memberikan prinsip yang sangat relevan dalam konteks ini. Allah berfirman dalam QS Al-A’raf ayat 31:
“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”
Pesan tersebut sederhana, tetapi memiliki makna luas. Islam tidak melarang manusia menikmati rezeki dan merayakan kebahagiaan.
Perihal larangannya adalah sikap berlebihan. Dalam konteks Maulid, prinsip ini dapat menjadi bahan refleksi tentang cara kita mengonsumsi makanan, menggunakan kemasan, dan memperlakukan sumber daya.
Al-Qur’an juga mengingatkan dalam QS Ar-Rum ayat 41 bahwa kerusakan di darat dan laut terjadi akibat perbuatan tangan manusia.
Ayat ini menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga persoalan moral.
Apa yang kita lakukan terhadap alam akan membawa konsekuensi bagi kehidupan.
Karena itu, merawat lingkungan tidak semestinya dianggap sebagai agenda tambahan di luar agama.
Ia dapat menjadi bagian dari kesalehan. Kesalehan ekologis lahir ketika nilai spiritual tidak berhenti di ruang ibadah, tetapi diwujudkan dalam cara kita memperlakukan alam.
Tradisi Berbagi Berkat
Dalam tradisi berbagi “berkat” misalnya, terdapat kearifan ekologis yang patut dihidupkan kembali.
Dahulu makanan kerap dibungkus menggunakan daun pisang, besek bambu, atau wadah yang dapat digunakan kembali. Kini, demi kepraktisan, plastik dan styrofoam semakin dominan.
Pergeseran ini menunjukkan bahwa tradisi berbagi yang sarat nilai sosial sebenarnya dapat dikembangkan kembali agar sekaligus menghadirkan kepedulian terhadap lingkungan.
Tidak ada yang salah dengan kemudahan. Persoalannya muncul ketika kenyamanan sesaat menghasilkan dampak panjang bagi lingkungan.
Sebuah wadah mungkin hanya digunakan beberapa menit, tetapi sampahnya dapat bertahan jauh lebih lama.
Eco-Maulid dan Kurikulum Cinta
Di sinilah gagasan Eco-Maulid dapat dikembangkan. Perayaan Maulid tidak harus menghasilkan banyak sampah.
Panitia dapat mengurangi plastik sekali pakai, menyediakan air minum isi ulang, menggunakan wadah yang dapat dipakai kembali, memilih pembungkus ramah lingkungan, menyediakan tempat sampah terpilah, serta mengelola sisa makanan.
Gagasan ini juga dapat menjadi bagian dari Kurikulum Cinta. Kurikulum Cinta atau Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) merupakan gagasan Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar.
Kurikulum ini menawarkan orientasi baru dalam pendidikan agama dan keagamaan dengan menempatkan cinta, kasih sayang, empati, toleransi, kemanusiaan, serta kepedulian terhadap lingkungan sebagai ruh dalam proses pendidikan.
Gagasan ini mulai digaungkan sejak 2024 dan selanjutnya dikembangkan oleh Kementerian Agama sebagai pendekatan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter, sikap, dan perilaku peserta didik.
Kurikulum Cinta pada dasarnya merupakan pendidikan yang mengubah pengetahuan menjadi sikap dan tindakan yang berlandaskan kasih sayang, tanggung jawab, serta penghormatan terhadap ciptaan Tuhan.
Dalam konteks peringatan Maulid Nabi, nilai-nilai tersebut dapat diwujudkan melalui praktik sederhana dan nyata.
Anak-anak tidak hanya mendengar kisah tentang akhlak Rasulullah, tetapi juga diajak menjaga kebersihan, mengurangi sampah, dan memilah sampah.
Demikian pula, jamaah tidak hanya menerima makanan dalam kegiatan Maulid, tetapi dapat dibiasakan membawa wadah makan dan botol minum sendiri untuk mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai.
Maulid Nabi tidak hanya menjadi kegiatan seremonial untuk mengenang kelahiran dan keteladanan Rasulullah, tetapi juga dapat menjadi ruang pendidikan yang menghubungkan cinta kepada Allah, cinta kepada Rasulullah, cinta kepada sesama manusia, dan cinta kepada alam.
Nilai cinta tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam tindakan nyata sebagai bentuk akhlak dan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di muka bumi.
Hal yang paling penting adalah perubahan cara pandang. Sampah bukan semata-mata urusan petugas kebersihan.
Setiap orang yang menghasilkan sampah memiliki tanggung jawab terhadap sampah tersebut. Begitu pula kecintaan kepada Nabi tidak cukup hanya diwujudkan melalui banyaknya shalawat, tetapi harus tercermin dalam akhlak.
Cinta selalu membutuhkan bukti. Maka, mari melihat kembali sebungkus nasi berkat di tangan kita.
Di dalamnya ada sedekah, gotong royong, dan cinta. Namun, di balik bungkusnya juga terdapat pilihan moral: apakah kita akan menambah beban bumi atau justru mengurangi jejak yang kita tinggalkan?
Berkat Maulid semestinya tidak hanya meninggalkan rasa kenyang dan kebahagiaan bagi penerimanya, tetapi juga meninggalkan jejak kebaikan bagi lingkungan.
Membumikan Cinta kepada Rasulullah
Membumikan cinta kepada Rasulullah berarti membawa keteladanan beliau dari mimbar ke tindakan, dari selawat ke akhlak, dan dari ruang ibadah ke ruang kehidupan.
Jika Maulid adalah perayaan cinta kepada Nabi, mari memastikan bahwa cinta itu juga dirasakan oleh bumi.
Sebab, jejak cinta kepada Rasulullah bukan hanya yang terdengar melalui selawat, tetapi juga yang terlihat dalam akhlak kita: ketika kita berbagi tanpa berlebihan, menjaga kebersihan tanpa pamrih, dan merawat bumi agar tetap menjadi rumah yang layak bagi generasi mendatang.
Dengan demikian, Maulid tidak berhenti sebagai perayaan, tetapi menjadi momentum untuk menumbuhkan kesalehan yang hadir dalam kepedulian kepada sesama dan kelestarian alam.***


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.