Langsung ke konten
Jumat, 14 Agustus 2026
Headline Ketua Perbasi Sekaligus Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan Muhammad Zaini Persiapkan Atlet Hadapi Popda 2026, Target Juara
Nasional

Pramuka, Ekoteologi, dan Nasionalisme Menuju Indonesai Emas 2045

Prof. Dr. Hj. Umi Sumbulah, M.Ag, Dekan Fakultas Syariah UIN Malang & pernah menjadi Ketua Dewan Racana Pramuka UIN Maliki Malang 1993-1994.

KOLOM | JATIMSATUNEWS.COM: I4 Agustus dikenal sebagai hari Pramuka. Pada hari ulang tahunnya yang ke-65 di tahun 2026 ini, tema Hari Pramuka sebagaimana ditetapkan oleh Kwartir Nasional adalah “Memantapkan Langkah Organisasi Mendukung Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045”. Narasi mengenai Indonesia Emas tahun 2045 seringkali didominasi angka ekonomi, infrastruktur digital, dan bonus demografi. Ada hal penting yang kita lupakan, bahwa kemajuan fisik tanpa ditopang oleh fondasi karakter dan ketahanan nasional yang kokoh ibarat membangun istana di atas pasir. Di sinilah Gerakan Pramuka menemukan urgensi eksistensialnya. Ia bukan sekedar ekstrakurikuler sekolah atau UKM kampus yang bertopi pet dan bertunas kelapa, namun ia adalah investasi strategis bagi geopolitik dan ketahanan nasional bangsa. Kita sedang menghadapi dua krisis senyap yang berpotensi sabotase Indonesia Emas, yakni krisis kesehatan mental (mental health) generasi muda dan krisis ekologis global. Dasa Darma dan Tri Satya Pramuka adalah kode kehormatan untuk membentuk karakter dan jiwa nasionalisme, yang sangat dibutuhkan dalam situasi dan kondisi bangsa saat ini.

Hari-hari ini, gawai kita dipenuhi informasi dan pemberitaan yang kontras dan paradoks. Di satu sisi, ada kecemasan generasi Z dan Alpha yang rapuh di tengah kemajuan informasi teknologi, terisolasi secara sosial karena terlalu fokus dengan diri dan gawai di tangannya, hingga jebakan gaya hidup instan dan destruktif seperti judi online. Di sisi lain, bumi kita juga sedang menjerit akibat perubahan iklim yang radikal dan ugal-ugalan. Hamparan sawah kekeringan dan gagal panen, hutan-hutan gundul karena keserakahan manusia, dan bencana ekologis menimpa negeri ini secara bergantian. Jika generasi muda sebagai penerus bangsa ini selalu cemas dan bumi sekarat, lalu siapa yang akan menikmati Indonesia Emas? Bagaimana wujud Indonesia Emas?

Di sinilah kita perlu melirik kembali organisasi berbaju cokelat yang mungkin sempat kita anggap tradisional, konvensional, dan ketinggalan zaman, yakni Gerakan Pramuka. Pramuka kini tidak lagi sekedar urusan tali-temali, perkemahan, pioneering, semaphore, halang rintang, atau gladi tangguh. Pramuka hari ini adalah jembatan emas yang menghubungkan tiga pilar krusial berupa mentalitas tangguh, nasionalisme dan ketahanan nasional, serta sebuah konsep keren bernama ekoteologi, yang secara eksplisit tertuang dan menjadi darma anggota Pramuka, yakni cinta alam (hubb al-’alam) dan kasih sayang sesama manusia (hubb al-nas).

Ekoteologi adalah cara pandang bahwa menjaga alam bukan sekedar tugas dinas lingkungan hidup, melainkan sebuah panggilan iman dan spiritualitas. Bumi ini adalah rumah suci titipan Tuhan yang wajib dijaga. Di dalam Pramuka, ekoteologi bukan teori di sejumlah tumpukan paper seminar, melainkan praktik nyata yang menjadi cara hidup setiap hari. Nilai itu dapat ditemukan dalam Dasa Darma kedua: “Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia,” bahwa gerakan kepanduan ini sedang menanamkan teologi hijau, jauh sebelum viralnya istilah eko-teologi. Saat anak-anak muda ini diajak berkemah, mengenali alam, menanam pohon, atau merawat sumber air, mereka sesungguhnya sedang disembuhkan dari kecanduan layar gawai (screen time). Alam terbuka terbukti secara ilmiah menjadi obat penawar stres paling ampuh. Pramuka juga melatih keteguhan hati, kemandirian, toleransi, dan empati sosial, sebagai antitesa dari mentalitas serba instan yang menjangkiti anak-anak muda di era disrupsi digital.

Menuju Indonesia Emas 2045, kita tidak butuh generasi yang hanya pintar berselancar di media sosial tetapi gagap saat menyentuh tanah. Kita butuh generasi yang memiliki spiritualitas ekologis. Generasi muda yang mencintai Tuhannya dengan cara merawat bumi yang dititipkan-Nya kepada kita sebagai khalifah, serta menjaga negara dengan ketangguhan mentalitas dan jiwa nasionalisme yang tinggi. Slogan dan janji Pramuka (Tri Satya dan Dasa Darma) bukan sekadar hafalan saat berkemah. Ketika mereka mempraktikannya di lapangan (merawat tanah, menanam pohon, dan mengamankan sumber pangan), sesungguhnya mereka sedang melakukan tindakan patriotisme yang konkret.

Mentalitas hijau yang tangguh dan berkelanjutan sebagai ejawantah dari dasa darma ke-2 ini adalah bahan bakar utama bagi ketahanan nasional abad ke-21. Hal ini karena ketahanan nasional hari ini tidak lagi diukur dari seberapa banyak kekuatan militer yang dimiliki negeri ini, melainkan dari seberapa mandiri bangsa ini atas pangan, energi, juga mentalitas dan nasionalisme.

Melalui dua Satuan Karya (saka) yang dimilikinya, yakni Saka Taruna Bumi dan Saka Wanabakti. Saka Taruna Bumi adalah satuan karya yang fokus pada bidang pertanian, peternakan, dan ketahanan pangan. Pramuka di sini dibekali keterampilan mengelola lahan, teknik pertanian modern berkelanjutan, hingga diversifikasi pangan. Sedangkan Saka Wanabakti adalah satuan karya yang fokus pada bidang kehutanan dan kelestarian alam. Mereka dilatih untuk melakukan reboisasi, pengawasan hutan, pemahaman ekosistem, dan pencegahan kebakaran hutan. Pramuka yang turun ke desa-desa mendukung swasembada pangan dan menjaga kelestarian hutan adalah menjadi benteng pertahanan negara, memastikan peradaban tidak hancur akibat kelaparan, bencana alam, dan kerusakan alam di masa depan. Dalam konteks pertahanan modern, ancaman sebuah negara tidak lagi selalu berupa agresi militer (ancaman militer), melainkan juga ancaman non-militer seperti krisis pangan, bencana ekologis, dan kerusakan lingkungan.

Kerusakan alam dan krisis iklim adalah ancaman nyata bagi masa depan peradaban manusia. Pramuka mengambil peran mitigasi jangka panjang melalui dua cara: pertama, mencegah efek domino kerusakan alam dengan menjaga dan melestarikan hutan untuk mitigasi bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang dan tanah longsor; kedua, bertindak sebagai agen perubahan (agent of change) dengan melakukan transfer teknologi dan edukasi ke masyarakat desa, melalui misalnya teknik bertani ramah lingkungan, konservasi air, atau pemanfaatan hutan tanpa merusaknya. Langkah ini memastikan bahwa upaya menjaga alam dan pangan dilakukan secara kolektif dan berkelanjutan. Mereka adalah di antara benteng yang melindungi masa depan bangsa dari ancaman kelaparan dan kepunahan ekologis. Melalui alam sebagai laboratorium terbaiknya, manusia-manusia tangguh itu akan tercetak di bawah Tunas Kelapa yang menjadi lambang gerakannya. Selamat Hari Pramuka ke-65. Salam Pramuka

OLEH : Prof. Dr. Hj. Umi Sumbulah, M.Ag (Dekan Fakultas Syariah UIN Malang & pernah menjadi Ketua Dewan Racana Pramuka UIN Maliki Malang 1993-1994).