PASURUAN|JATIMSATUNEWS.COM
Perjalanan panjang penuh perjuangan, doa, dan pengorbanan mengantarkan M. Zainurrokhman Arifin, putra Samsul Arifin, warga Desa Kebonrejo, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan, menuju babak baru dalam perjalanan hidupnya. Berawal dari dunia pendidikan pesantren, ia kini bersiap menjalankan tugas dinas ke Tanjungpinang, Kepulauan Riau, sebagai bagian dari pengabdian kepada bangsa dan negara.
Sebelum berangkat menjalankan tugas, M. Zainurrokhman Arifin menyempatkan diri untuk berpamitan sekaligus memohon doa restu kepada pengasuh Pondok Pesantren Daarut Taqwa Ngalah, Sengonagung, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan, Romo KH. Soleh Bahruddin.
Momen tersebut menjadi sangat berarti. Bukan sekadar berpamitan kepada seorang guru dan pengasuh pesantren, melainkan juga sebagai bentuk penghormatan seorang santri kepada guru yang telah memberikan bekal ilmu, nasihat, dan nilai-nilai kehidupan selama menempuh pendidikan di lingkungan pesantren.
Dalam kesempatan tersebut, Romo KH. Soleh Bahruddin memberikan pesan dan nasihat agar M. Zainurrokhman Arifin senantiasa menjaga nama baik santri di mana pun berada. Sebagai seorang yang pernah mengenyam pendidikan pesantren, ia diharapkan mampu menunjukkan sikap, perilaku, kedisiplinan, serta akhlak yang baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun ketika menjalankan tugas negara.
Mbah Yai juga berpesan agar selalu menanamkan kecintaan terhadap tanah air Indonesia. Mencintai tanah air merupakan bagian dari semangat keimanan, sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT, kecintaan kepada Rasulullah SAW, sekaligus tanggung jawab untuk menjaga dan mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Pesan tersebut menjadi bekal penting bagi seorang santri yang kini mendapatkan amanah untuk mengabdi kepada negara. Sebab, di mana pun seorang santri berada, nilai-nilai agama, akhlak, dan kecintaan terhadap bangsa harus tetap melekat dalam dirinya.
Berawal dari Pendidikan Sederhana, Tumbuh dengan Cita-Cita Besar
Perjalanan pendidikan M. Zainurrokhman Arifin dimulai dari TK Suka Makmur Grati. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di SDI Nurul Karomah, Desa Kawisrejo, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan.
Setelah menyelesaikan pendidikan sekolah dasar, perjalanan pendidikannya berlanjut ke SMP Bhinneka Tunggal Ika yang berada di lingkungan Pondok Pesantren Ngalah, Sengonagung, Kecamatan Purwosari.
Lingkungan pesantren menjadi salah satu tempat penting dalam membentuk karakter dan kepribadiannya. Di sana, ia tidak hanya mendapatkan pendidikan formal, tetapi juga mengenal kehidupan santri yang mengajarkan kedisiplinan, kesederhanaan, kemandirian, serta pentingnya menghormati guru dan orang tua.
Setelah lulus dari SMP, muncul keinginan besar untuk melanjutkan pendidikan di sekolah penerbangan. Awalnya, ia bercita-cita masuk SMK Penerbangan di Surabaya. Namun, karena keterbatasan informasi keluarga mengenai sekolah penerbangan di wilayah Surabaya, akhirnya ia memilih melanjutkan pendidikan di SMK Penerbangan Singosari, Malang.
Pilihan tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan hidupnya. Selama menempuh pendidikan di SMK Penerbangan Singosari, ia mengenal berbagai kegiatan ekstrakurikuler maupun intrakurikuler yang sangat menekankan kedisiplinan, ketegasan, tanggung jawab, dan pembentukan mental.
Lingkungan pendidikan tersebut secara tidak langsung membentuk karakter yang semakin kuat. Melihat perkembangan dan proses pendidikan putranya, sang ibu memiliki harapan besar agar setelah lulus dari SMK Penerbangan Singosari, ia dapat mendaftarkan diri menjadi anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Harapan seorang ibu tersebut kemudian menjadi cita-cita yang terus tertanam dalam hati M. Zainurrokhman Arifin.
Kehilangan Sang Ibu, Namun Tidak Pernah Kehilangan Semangat Perjuangan
Namun, perjalanan menuju cita-cita tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Di tengah proses pendidikan, tepatnya ketika duduk di kelas IX semester 3 menurut penuturan keluarga, ia harus menghadapi kenyataan pahit. Sang ibunda tercinta meninggal dunia karena sakit.
Kehilangan seorang ibu tentu menjadi ujian berat bagi seorang anak. Sosok yang selama ini memberikan kasih sayang, perhatian, doa, dan harapan harus pergi untuk selamanya.
Meski demikian, kepergian sang ibu tidak membuat semangatnya untuk meraih cita-cita menjadi padam.
Justru harapan dan pesan sang ibu untuk melihat putranya menjadi seorang prajurit TNI menjadi motivasi yang terus menguatkan langkahnya.
Setelah berhasil menyelesaikan pendidikan di SMK Penerbangan Singosari, ia langsung mengambil langkah untuk mendaftarkan diri menjadi calon prajurit TNI Angkatan Laut (TNI AL) melalui seleksi di wilayah Malang.
Perjuangan tersebut ternyata tidak mudah. Ia harus melewati berbagai tahapan seleksi yang membutuhkan kesiapan fisik, mental, kedisiplinan, serta kemampuan akademik.
Pada dua kesempatan pertama, ia belum berhasil melewati tahapan tes psikologi di wilayah Surabaya.
Bagi sebagian orang, kegagalan dua kali mungkin menjadi alasan untuk berhenti mencoba.
Namun, tidak demikian dengan M. Zainurrokhman Arifin. Ia memilih bangkit dan kembali mempersiapkan diri untuk mengikuti seleksi berikutnya.
Dengan dukungan keluarga, doa, dan tekad yang kuat, ia kembali mengikuti seleksi untuk ketiga kalinya.
Perjuangan panjang tersebut akhirnya membuahkan hasil. Pada kesempatan ketiga, ia berhasil melewati tahapan seleksi hingga tes pusat di wilayah Surabaya.
Keberhasilan ini menjadi momen yang sangat membahagiakan bagi dirinya dan keluarga. Sebuah perjalanan yang tidak hanya berbicara tentang keberhasilan masuk menjadi prajurit TNI AL, tetapi juga tentang keteguhan hati seseorang dalam menghadapi kegagalan demi mewujudkan cita-cita.
Lebih dari itu, keberhasilan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri karena ia merasa telah berjuang meneruskan harapan almarhumah ibundanya.
Dukungan Keluarga Menjadi Kekuatan Terbesar
Di balik keberhasilan seseorang, selalu ada orang-orang yang memberikan dukungan dan doa tanpa henti.
Demikian pula perjalanan M. Zainurrokhman Arifin. Dukungan sang ayah, Samsul Arifin, serta keluarga besar menjadi bagian penting dalam setiap proses perjuangannya.
Dukungan tersebut datang dari saudara-saudaranya, dua kakak perempuan dan tiga adiknya, serta tante, paman, kakek, dan nenek yang senantiasa memberikan semangat.
Mereka menjadi tempat bersandar ketika menghadapi kegagalan sekaligus menjadi penyemangat untuk terus melangkah.
Kisah ini menjadi gambaran bahwa keberhasilan bukan hanya hasil dari perjuangan individu, tetapi juga buah dari doa, pengorbanan, dan dukungan keluarga.
Bagi seorang anak, keberhasilan mewujudkan harapan orang tua, terlebih ketika orang tua telah tiada, merupakan kebahagiaan yang memiliki makna tersendiri.
Dawuh Mbah Yai: Ribuan Alumni Pesantren Ngalah Mengabdi untuk Negeri
Dalam kesempatan tersebut, Romo KH. Soleh Bahruddin juga menyampaikan gambaran tentang kiprah para alumni Pondok Pesantren Ngalah yang telah berkontribusi dalam berbagai bidang kehidupan.
Menurut dawuh Mbah Yai, sudah ribuan santriwan dan santriwati Pesantren Ngalah yang kini mengabdikan diri sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Selain itu, masih terdapat ratusan alumni lainnya yang berkiprah sebagai anggota TNI dan Polri.
Hal tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga besar Pesantren Ngalah. Pendidikan pesantren tidak hanya menjadi tempat untuk memperdalam ilmu agama, tetapi juga menjadi wadah pembentukan karakter, kedisiplinan, tanggung jawab, serta semangat pengabdian kepada masyarakat.
Para alumni diharapkan mampu membawa nilai-nilai pesantren ke berbagai lingkungan profesi dan kehidupan sosial.
Mbah Yai Soleh Bahruddin berharap seluruh alumni Pondok Pesantren Daruttaqwa Ngalah, Sengonagung, dapat menjadi pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat, mampu mengamalkan ilmu yang telah diperoleh, serta senantiasa mengabdikan diri kepada agama, nusa, dan bangsa tercinta.
Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa keberhasilan seorang santri tidak hanya diukur dari jabatan, pekerjaan, maupun kedudukan yang diraih, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.
Dari Pesantren untuk Negeri
Kisah M. Zainurrokhman Arifin menjadi potret perjalanan seorang santri yang berusaha membuktikan bahwa pendidikan pesantren dapat berjalan beriringan dengan cita-cita pengabdian kepada negara.
Berawal dari pendidikan di lingkungan pesantren, ditempa dengan kedisiplinan di sekolah penerbangan, menghadapi kegagalan dalam seleksi, hingga akhirnya berhasil melewati berbagai tahapan perjuangan, semuanya menjadi bagian dari perjalanan hidup yang penuh makna.
Kini, dengan bekal pendidikan, pengalaman, doa keluarga, serta nasihat dari Romo KH. Soleh Bahruddin, ia bersiap menjalankan tugas dinas ke Tanjungpinang, Kepulauan Riau.
Harapannya, ia mampu menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab, menjaga nama baik keluarga dan almamater pesantren, serta menjadi pribadi yang selalu menjunjung tinggi nilai agama dan nasionalisme.(SA)





Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.