Langsung ke konten
Rabu, 28 Oktober 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Nasional

Mahasiswa Berdampak UPN Veteran Jatim Kembangkan Inovasi Siwalan di Desa Ngujuran

Dokumentasi Mahasiswa Berdampak UPN Veteran Jatim Kembangkan Inovasi Siwalan di Desa Ngujuran

Dokumentasi Mahasiswa Berdampak UPN Veteran Jatim Kembangkan Inovasi Siwalan di Desa Ngujuran (Foto: Dok. Penulis)

TUBAN | JATIMSATUNEWS.COM: Mahasiswa Program Studi Agribisnis Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur melaksanakan Program Mahasiswa Berdampak di Desa Ngujuran, Kecamatan Bancar, Kabupaten Tuban, mulai 2 April 2026.

Program yang melibatkan 12 mahasiswa ini berada di bawah bimbingan Mirza Ramadhani, S.P., M.P., dan didanai melalui Hibah Internal Pengabdian kepada Masyarakat Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UPN “Veteran” Jawa Timur Tahun 2026. Pelaksanaan program dilakukan melalui kolaborasi dengan pemerintah desa dan masyarakat setempat untuk mengembangkan potensi lokal, khususnya produk olahan siwalan, sebagai upaya mendukung penguatan ekonomi masyarakat desa.

Melalui tema “Siwalanpreneurship: Pelatihan Inovasi Produk dan Digital Marketing bagi Petani Siwalan Desa Ngujuran untuk Penguatan Ekonomi Desa”, mahasiswa merancang sejumlah kegiatan, meliputi pengolahan legen, inovasi kemasan dodol siwalan dan kue dumbek, pemasaran digital, serta pemanfaatan limbah siwalan. Program ini diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah produk dan memperluas peluang pemasaran. Salah satu upaya awal yang dilakukan adalah menjaga mutu legen agar lebih tahan lama dan memiliki peluang pemasaran yang lebih baik.

Salah satu potensi unggulan Desa Ngujuran adalah legen, minuman tradisional berbahan nira siwalan. Namun, masa simpannya yang singkat menjadi kendala bagi petani karena legen mudah mengalami fermentasi sehingga rasa dan kualitasnya cepat berubah. Kepala Desa Ngujuran menggambarkan kondisi tersebut sebagai tantangan yang dihadapi petani sehari-hari.

“Legen ini umur simpannya singkat. Petani di sini biasanya mengambil legen pada pagi atau sore hari. Kalau diambil pagi, belum sampai siang, rasanya sudah berbeda,” ujarnya.

Menanggapi kendala tersebut, tim pelaksana memperkenalkan teknik pasteurisasi sederhana pada 22 April 2026 dengan melibatkan 12 petani legen. Dengan penanganan dan penyimpanan yang tepat, legen hasil pasteurisasi dapat bertahan sekitar 3–4 hari pada suhu ruang dan hingga satu minggu di lemari pendingin. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pemahaman peserta meningkat dari 80,00% menjadi 83,33%, sedangkan keterampilan teknis meningkat dari 78,33% menjadi 95,00%. Capaian ini menunjukkan bahwa pelatihan memberikan hasil positif, terutama dalam meningkatkan kemampuan praktik petani untuk mengolah legen.

Selain menjaga kualitas dan memperpanjang masa simpan, pengembangan produk siwalan juga perlu memperhatikan tampilan kemasan agar mampu menarik perhatian konsumen dan meningkatkan daya saing di pasar.

Baca juga: Mengintegrasikan Ilmu dan Aksi: Mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur Dorong Industri Plastik Berkelanjutan dan Implementasi SDGs melalui Magang MBKM

Iklan

Baca juga: Dorong Kualitas Pariwisata, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jatim Hadirkan Inovasi ‘Agrileisure Homestay’ Berstandar CHSE di Kampung Kopi Kluncing, Desa Wisata Sukorejo, Bondowoso

Untuk mendukung pengembangan produk olahan siwalan, sosialisasi inovasi kemasan dilaksanakan di Desa Ngujuran pada 29 April 2026. Kegiatan ini berfokus pada dodol siwalan dan kue dumbek yang berpotensi dikembangkan sebagai oleh-oleh khas daerah. Peserta diperkenalkan pada pembaruan kemasan melalui tampilan yang lebih menarik, penambahan identitas produk, serta informasi yang memudahkan konsumen mengenali produk.

Kegiatan yang diikuti 18 peserta dari kelompok ibu-ibu PKK B2SA ini menunjukkan peningkatan pemahaman mengenai kemasan dari 86,25% menjadi 92,50%. Sementara itu, keterampilan teknis dalam membuat kemasan meningkat dari 70,00% menjadi 85,00%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kegiatan tidak hanya memperkuat pemahaman peserta tentang pentingnya kemasan, tetapi juga meningkatkan kemampuan praktik mereka. Dengan kemasan yang lebih menarik dan informatif, dodol siwalan dan kue dumbek diharapkan semakin siap dipasarkan sebagai produk unggulan Desa Ngujuran.

Namun, kualitas produk dan kemasan yang baik perlu diimbangi dengan strategi pemasaran yang tepat agar produk semakin dikenal masyarakat. Karena itu, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan penguatan branding dan pemanfaatan media digital.

Kemasan yang menarik perlu didukung identitas merek yang kuat dan strategi promosi yang efektif. Untuk menjawab tantangan pelaku UMKM Desa Ngujuran dalam membangun identitas merek dan memanfaatkan pemasaran digital, sosialisasi branding, legalitas usaha, dan pemasaran UMKM diselenggarakan pada 7 Mei 2026. Sebagai bagian dari upaya promosi, tim pelaksana juga menyusun katalog digital oleh-oleh khas Tuban yang menampilkan dodol siwalan dan kue dumbek dengan tampilan modern, informasi produk yang jelas, serta identitas visual yang konsisten.

Evaluasi terhadap 29 peserta menunjukkan bahwa pemahaman mengenai branding meningkat dari 90,34% menjadi 96,55%, sedangkan keterampilan dalam membuat media promosi meningkat dari 93,85% menjadi 97,86%. Capaian ini menunjukkan adanya peningkatan pemahaman dan keterampilan peserta, dengan skor akhir yang tinggi pada kedua aspek. Melalui penguatan branding dan pemanfaatan katalog digital, pelaku UMKM diharapkan dapat memperkenalkan produknya secara lebih menarik dan memperluas jangkauan pemasaran.

Iklan

Pengembangan potensi siwalan tidak hanya mencakup pengolahan produk dan pemasaran, tetapi juga pemanfaatan limbah yang dihasilkan. Langkah ini penting agar potensi siwalan dapat dimanfaatkan secara lebih menyeluruh sekaligus mendukung kelestarian lingkungan.

Limbah kulit dan sabut siwalan yang belum dimanfaatkan secara optimal berpotensi menumpuk dan mencemari lingkungan. Untuk mengatasi hal tersebut, program ini memperkenalkan pengolahan limbah siwalan menjadi pupuk organik cair (POC) pada 13 Mei 2026. Proses pembuatannya memanfaatkan limbah siwalan, air, gula, dan EM4 melalui fermentasi dalam wadah tertutup. Selain itu, diperkenalkan GALAKSI (Galon Airlock Kulit Siwalan), alat sederhana untuk membantu proses fermentasi dan pemanenan pupuk.

Kegiatan yang diikuti 10 petani legen ini menunjukkan bahwa pemahaman peserta mengenai pengolahan limbah pertanian tetap sebesar 93,00% sebelum maupun setelah kegiatan. Sementara itu, keterampilan dalam pembuatan olahan limbah meningkat dari 82,22% menjadi 84,44%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pemahaman awal peserta sudah tinggi, sedangkan peningkatan keterampilan praktik masih relatif terbatas. Oleh karena itu, pendampingan lanjutan diperlukan untuk memperkuat kemampuan peserta dalam mengolah limbah siwalan menjadi pupuk organik cair yang bermanfaat bagi pertanian.

Melalui rangkaian Program Mahasiswa Berdampak, pengembangan potensi siwalan di Desa Ngujuran diharapkan tidak hanya meningkatkan nilai tambah produk lokal, tetapi juga memperkuat keterampilan masyarakat dalam pengolahan, pengemasan, dan pemasaran produk serta pemanfaatan limbah. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman dan keterampilan peserta pada sebagian besar aspek yang diukur. Keberlanjutan program melalui penerapan hasil pelatihan dan pendampingan lanjutan diharapkan dapat mendorong produk olahan siwalan semakin berdaya saing sekaligus mendukung penguatan ekonomi masyarakat Desa Ngujuran.

Penulis: Mirza Ramadhani, S.P., M.P.

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.