ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM: Sejarah Persatuan Ummat Islam (PUI) memperlihatkan bahwa gerakan Islam Indonesia memiliki tradisi panjang dalam mempertautkan spiritualitas, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan perjuangan kebangsaan. Cikal bakal PUI bermula dari gerakan yang dirintis K.H. Abdul Halim di Majalengka pada 1911. Perkembangan organisasi tersebut melahirkan Persjarikatan Oelama pada 1917. Di jalur sejarah lainnya, K.H. Ahmad Sanusi mendirikan Al-Ittihadijatoel Islamijjah di Batavia pada 1931. Kedua tradisi organisasi itu kemudian melebur menjadi Persatuan Ummat Islam pada 5 April 1952.
Kesejarahan tersebut menyimpan pelajaran penting: organisasi Islam tidak tumbuh semata-mata dari kebutuhan membangun identitas, tetapi mencakup dari kesadaran untuk menjawab persoalan nyata masyarakat. K.H. Abdul Halim, misalnya, mengembangkan pendidikan melalui madrasah dan sekolah pencetak guru, sekaligus merintis kegiatan sosial-ekonomi melalui koperasi dan pertanian. Dengan demikian, pendidikan tidak dipisahkan dari pemberdayaan, sedangkan dakwah tidak berhenti pada penyampaian ajaran, tetapi bergerak menuju perbaikan kehidupan.
Tradisi inilah yang perlu dibaca kembali oleh Pemuda PUI. Sejarah bukanlah monumen untuk dikagumi dari kejauhan, melainkan sumber inspirasi untuk menjawab persoalan zaman yang terus berubah. Dalam doktrin Intisab, terdapat empat pokok nilai yang menjadi orientasi gerakan: Allah ghayatuna—Allah tujuan kita; al-ikhlas mabdauna—keikhlasan pangkal perjuangan; al-ishlah sabiluna—perbaikan jalan perjuangan; dan al-mahabbah syi’aruna—cinta sebagai semboyan. Rumusan ini berkembang dalam tradisi PUI pada masa perjuangan kemerdekaan, ketika persatuan dan pembebasan bangsa menjadi kebutuhan mendesak.
Keempat prinsip tersebut dapat dibaca sebagai kerangka etika kepemimpinan yang progresif.
Orientasi ketuhanan memberikan kompas moral agar kekuasaan dan keberhasilan tidak berubah menjadi tujuan pada dirinya sendiri. Keikhlasan membebaskan pengabdian dari sekadar pencarian popularitas. Ishlah menuntut keberanian memperbaiki institusi, meningkatkan kualitas manusia, dan menawarkan solusi atas persoalan sosial. Sementara itu, cinta mengajarkan bahwa perubahan tidak harus dibangun melalui permusuhan, tetapi melalui penghormatan terhadap martabat manusia.
Namun, nilai-nilai luhur hanya akan menjadi slogan apabila tidak diterjemahkan ke dalam kapasitas, kelembagaan, dan tindakan nyata. Revitalisasi Intisab karena itu bukan sekadar mengulang ikrar, melainkan menghidupkan kembali daya ubahnya dalam pendidikan, ekonomi, teknologi, lingkungan, kebudayaan, dan inovasi sosial. Intisab harus menjadi kompas moral sekaligus energi sosial: menjaga arah perjuangan, sembari mendorong keberanian menciptakan pembaruan.
Dalam konteks inilah pelantikan Pengurus Daerah Pemuda Persatuan Umat Islam (PUI) se-Jakarta dan Dialog Kepemudaan bertema “Revitalisasi Nilai Intisab PUI: Mengukuhkan Kepemimpinan Pemuda PUI Menuju Jakarta Kota Global 2045” memiliki makna strategis. Pelantikan bukan sekadar seremoni organisasi, melainkan momentum untuk memperkuat kepemimpinan muda yang berkarakter, kreatif, inovatif, produktif, dan mampu menjawab tantangan zaman.
Entrepreneurship, Kreativitas, dan Inovasi
Indonesia memiliki modal demografis yang besar. Data kepemudaan menunjukkan bahwa jumlah pemuda berusia 16–30 tahun mencapai sekitar 64,22 juta orang pada 2024. Besarnya populasi ini merupakan peluang, tetapi hanya akan menjadi kekuatan apabila didukung pendidikan, keterampilan, kesempatan kerja, dan ekosistem kewirausahaan yang memadai. Jika tidak ia bisa berbalik menjadi bencana demografi.
Dalam pemikiran Joseph Schumpeter, kewirausahaan merupakan salah satu penggerak inovasi dan perubahan ekonomi. Sementara itu, pendekatan effectuation Saras Sarasvathy menekankan kemampuan membangun peluang melalui sumber daya yang tersedia, kemitraan, dan tindakan di tengah ketidakpastian.
Kedua perspektif ini relevan bagi Pemuda PUI. Entrepreneurship membangun keberanian mengambil inisiatif dan menciptakan nilai. Kreativitas membuka kemungkinan baru dalam menghadapi persoalan. Inovasi mengubah gagasan menjadi solusi yang dapat diterapkan dan dikembangkan.
Karena itu, kepemimpinan pemuda perlu melampaui kemampuan mengelola organisasi. Pemuda harus mampu membangun usaha, menciptakan lapangan kerja, mengembangkan teknologi, memperkuat UMKM, dan menawarkan solusi bagi persoalan masyarakat.
Kewirausahaan sosial juga penting. Melalui pendekatan ini, kegiatan ekonomi tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi sekaligus menjawab masalah sosial dan lingkungan. Gerakan Sedekah Sampah, misalnya, dapat dikembangkan menjadi ekosistem ekonomi sirkular yang melibatkan sekolah, masyarakat, dan pelaku usaha daur ulang.
Namun, idealisme harus berjalan bersama profesionalisme. Usaha membutuhkan riset pasar, tata kelola, literasi keuangan, penguasaan teknologi, dan evaluasi dampak. Nilai Intisab memberikan kompas moral, sedangkan ilmu pengetahuan dan kompetensi menyediakan jalan untuk mewujudkannya.
Ekonomi Islam dan Peluang Jakarta
Ekonomi Islam merupakan ruang strategis bagi generasi muda untuk menghubungkan etika dengan produktivitas. Peluangnya mencakup industri halal, modest fashion, kuliner, pariwisata ramah Muslim, keuangan syariah, teknologi finansial, ekonomi kreatif, serta zakat dan wakaf produktif.
State of the Global Islamic Economy Report 2024/2025 menempatkan Indonesia di peringkat ketiga dalam indikator ekonomi Islam global. Sementara itu, OJK melaporkan total aset keuangan syariah Indonesia mencapai sekitar Rp2.972,94 triliun pada Juni 2025. Data ini menunjukkan bahwa ekonomi Islam memiliki ekosistem yang besar dan ruang pengembangan yang masih terbuka.
Jakarta berpotensi menjadi pusat inovasi ekonomi Islam perkotaan. Pemuda dapat mengembangkan merek produk halal, memperluas pemasaran digital UMKM, membangun platform pembiayaan dan perdagangan, serta menghubungkan usaha lokal dengan pasar internasional.
Namun, ekonomi Islam tidak boleh berhenti pada label syariah. Prinsip keadilan, amanah, transparansi, dan kemaslahatan harus tercermin dalam praktik bisnis, perlindungan pekerja, distribusi peluang, dan tanggung jawab lingkungan.
Keberhasilan ekonomi tidak cukup diukur melalui omzet dan keuntungan, tetapi juga melalui pekerjaan layak yang diciptakan, usaha kecil yang diberdayakan, dan kesejahteraan masyarakat yang ditingkatkan. Di sinilah kepemimpinan pemuda Muslim menemukan keistimewaannya: memadukan iman dengan ilmu, daya saing dengan solidaritas, serta keberhasilan ekonomi dengan tanggung jawab kemanusiaan.
Menuju Jakarta Kota Global 2045
Jakarta memiliki ambisi menjadi kota global yang berdaya saing, berkelanjutan, dan sejahtera. Namun, kota global tidak cukup dibangun melalui infrastruktur, investasi, dan gedung pencakar langit. Kemajuan juga harus tercermin dalam kualitas manusia, kesempatan ekonomi, keadilan sosial, dan kelestarian lingkungan.
Pemuda PUI dapat mengambil peran melalui tiga agenda utama: Pertama membangun kapasitas kepemimpinan dengan kaderisasi yang terintegrasi dengan pendidikan karakter, literasi digital, literasi finansial, kewirausahaan, dan pemahaman kebijakan publik. Kedua menciptakan ekosistem inovasi dengan pendampingan UMKM, inkubasi bisnis, ekonomi kreatif, dan kolaborasi pentahelix yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, organisasi sosial, dan perguruan tinggi. Terakhir Langkah terukur dan nyata dengan menjadi penghubung potensi lokal dan peluang global serta merawat persatuan masyarakat Jakarta yang majemuk. Kepemimpinan Muslim perlu diwujudkan melalui kontribusi yang bermanfaat bagi seluruh warga, tanpa membedakan latar belakang.
PUI memiliki warisan pendidikan, persatuan, dan ishlah yang relevan untuk menjawab tantangan zaman. Tugas Pemuda PUI adalah menerjemahkan warisan tersebut ke dalam bahasa masa depan: ilmu pengetahuan, teknologi, kewirausahaan, kreativitas, dan keadilan sosial.
Jika generasi terdahulu memperjuangkan kemerdekaan bangsa, generasi hari ini bertanggung jawab memastikan bahwa kemerdekaan melahirkan keberdayaan, kemajuan menghadirkan keadilan, dan kemakmuran membuka kesempatan bagi semua. Di sanalah Intisab menemukan kehidupan barunya: bukan sekadar ikrar yang diwariskan, melainkan kebaikan yang terus diwujudkan.
Oleh: Nur Husen, Ketua Umum Pemuda PUI Jakarta Barat


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.