Penulis: Dr. Nur Hasaniyah, S.Ag., M.A. (Dosen Bahasa dan Sastra Arab UIN Malang)
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: UIN Maulana Malik Ibrahim Malang genap berusia 65 tahun dalam Dies Maulidiyah tahun ini. Dari kampus sederhana, ia tumbuh menjadi perguruan tinggi yang diperhitungkan hingga ke luar negeri. Itu capaian yang patut disyukuri. Tetapi usia yang matang sebaiknya tidak hanya dirayakan. Ia perlu dijadikan bahan bercermin: sudah sejauh mana ilmu yang dikembangkan di kampus ini benar-benar terasa manfaatnya bagi masyarakat?
Allah ﷻ berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Baca juga: Bahasa Arab, Nadi Keilmuan UIN Malang: Menjaga Warisan, Menghidupkan Keunggulan
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujādilah: 11)
Ilmu yang ditinggikan Allah adalah ilmu yang hidup, yang memberi manfaat, dan yang menghubungkan wahyu dengan kenyataan sehari-hari. Inilah ujian bagi setiap perguruan tinggi, termasuk dalam urusan bahasa dan sastra Arab.
Lebih dari Sekadar Mata Kuliah
Bagi umat Islam, bahasa Arab adalah pintu menuju Al-Qur’an, hadis, dan kekayaan pemikiran para ulama. Sastra Arab, dari syair hingga prosa, melatih kepekaan rasa dan menghaluskan budi. Namun di banyak ruang belajar, bahasa Arab masih berhenti sebagai pelajaran tata bahasa yang dihafal, bukan bahasa yang dipakai untuk berbicara, menulis, dan berpikir.
Kalau ingin bahasa Arab kembali menjadi bahasa ilmu, cara belajarnya harus berubah: lebih banyak praktik, lebih banyak percakapan, dan lebih dekat dengan kebutuhan nyata.
Dekat dengan Kehidupan Sehari-hari
Sebenarnya bahasa Arab sangat dekat dengan kita. Ia hadir setiap kali kita salat, berdoa, mendengar khutbah, atau mengaji kitab di pesantren. Ia juga dipakai jutaan jamaah haji dan umrah dari Indonesia, serta para pekerja dan pelajar yang berangkat ke negara-negara Arab. Namun bagi banyak orang, bahasa Arab masih terasa sebagai bacaan yang dilafalkan, belum sebagai bahasa yang dipahami dan dipakai.
Di sinilah peran perguruan tinggi. Lulusan bahasa dan sastra Arab semestinya tidak hanya pandai di kelas, tetapi mampu menjadi guru madrasah yang menginspirasi, penerjemah yang teliti, pendamping jamaah yang komunikatif, dan peneliti yang karyanya dipakai masyarakat. Ukurannya sederhana: apakah ilmu itu membuat orang di sekitarnya lebih mudah memahami agamanya dan lebih percaya diri menghadapi dunia?
Teknologi Bukan Ancaman, tetapi Mitra
Di era digital, teknologi bisa menjadi mitra yang kuat. Ada banyak pekerjaan yang bisa digarap bersama:
Naskah-naskah ulama yang rapuh dan tersebar bisa didigitalkan agar mudah diakses siapa saja.
Kumpulan teks Arab yang dipakai dalam kehidupan nyata bisa dihimpun sebagai bahan penelitian dan bahan ajar.
Aplikasi dan media belajar interaktif bisa membantu pelajar berlatih menyimak dan berbicara kapan saja.
Kecerdasan buatan bisa membantu membaca karya sastra dari sudut pandang baru.
Bayangkan seorang santri di desa yang berlatih percakapan bahasa Arab lewat ponselnya dan langsung mendapat koreksi atas pelafalannya. Bayangkan seorang guru madrasah yang menyusun bahan ajar dari kumpulan teks Arab sungguhan, bukan sekadar contoh kalimat dari buku lama. Semua itu bukan angan-angan. Teknologinya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah kemauan kampus untuk merancangnya bersama para pendidik dan masyarakat yang akan memakainya.
Tentu ada catatan penting. Kecerdasan buatan mempermudah banyak hal, tetapi ia bisa keliru, terutama pada bahasa Arab yang maknanya sangat bergantung pada struktur kata dan harakat. Karena itu, kejujuran dan ketelitian tetap yang utama. Tradisi keilmuan Islam sudah lama mengajarkan pentingnya menelusuri sumber dan menjaga amanah ilmu. Pelajar boleh memakai teknologi, tetapi tidak boleh berhenti memeriksa dan berpikir.
Menjaga Akar, Membuka Jendela
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya dengan ilmu itu jalan menuju surga.” (HR. Muslim)
Mencari ilmu adalah perjalanan yang tidak pernah selesai. Tradisi pesantren dan ma’had yang menjadi ciri khas UIN Maliki adalah akar yang harus dijaga, karena dari sanalah tumbuh disiplin, adab, dan keteguhan spiritual. Namun akar yang kuat tetap perlu jendela yang terbuka agar bisa menerima cahaya ilmu dan teknologi baru. Menjaga tradisi sambil berinovasi bukan dua pilihan yang saling meniadakan, melainkan dua sayap yang harus bergerak bersama.
Tugas Bersama
Menjaga tradisi sambil berinovasi tidak bisa dikerjakan sendirian. Ia membutuhkan peran banyak pihak:
Dosen perlu terus belajar, termasuk belajar hal baru di luar bidangnya, dan membimbing mahasiswa dengan teladan, bukan hanya teori.
Mahasiswa perlu berani berbicara dan menulis dalam bahasa Arab, serta terbiasa memeriksa sumber sebelum mengutip.
Pesantren dan madrasah adalah mitra utama, sebab di sanalah bahasa Arab diajarkan setiap hari dan masalah pembelajarannya paling nyata.
Masyarakat berhak merasakan hasilnya, lewat pelatihan, bahan ajar, dan pengabdian yang menjawab kebutuhan mereka.
Pertanyaan untuk Hari Ulang Tahun
Pada usia 65 tahun, ada beberapa pertanyaan yang pantas diajukan. Apakah lulusan kampus ini mampu berpikir kritis dan menawarkan solusi bagi masyarakat? Apakah penelitian dan publikasi memberi manfaat, atau sekadar memenuhi angka? Peringkat memang penting, tetapi ukuran terbaik sebuah perguruan tinggi adalah seberapa besar ilmunya menolong orang banyak.
Semoga Dies ke-65 ini tidak berakhir sebagai seremoni. Semoga ia menjadi awal komitmen bersama agar UIN Maliki tidak hanya dikenal dunia, tetapi juga mampu memberi warna bagi dunia.



Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.