Penulis: Prof. Dr. H. Muhammad Walid, MA (Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Malang)
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Peringatan Dies Natalis ke-65 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menjadi momentum untuk meneguhkan kembali komitmen integrasi Islam dan sains dalam menghadapi perubahan zaman. Salah satu tantangan terbesar pendidikan saat ini adalah hadirnya kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang semakin masuk ke ruang-ruang kelas, madrasah, dan perguruan tinggi. Teknologi ini menawarkan kemudahan luar biasa dalam mengakses informasi, mengolah data, hingga menghasilkan karya akademik. Namun, di balik efisiensinya, tersimpan pertanyaan mendasar: apakah kemudahan teknologi juga menjamin tumbuhnya kecerdasan, integritas, dan kematangan moral peserta didik?
Pertanyaan tersebut menjadi penting bagi Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Sebagai institusi pencetak calon pendidik, FTIK tidak cukup hanya menyiapkan guru yang cakap menggunakan teknologi dan menguasai metodologi pembelajaran. Lebih dari itu, FTIK memiliki tanggung jawab melahirkan pendidik yang mampu membimbing generasi digital agar tetap memiliki integritas akademik, kedalaman berpikir, dan keluhuran adab.
Dalam tradisi pendidikan Islam, ilmu tidak sekadar kumpulan informasi atau penguasaan data. Ilmu berkaitan erat dengan pembentukan jiwa, kemuliaan akhlak, dan pengenalan manusia terhadap kebenaran. Karena itu, perkembangan AI perlu didialogkan dengan khazanah etika belajar Islam. Pemikiran Imam Al-Ghazali, Ibnu Khaldun, Al-Zarnuji, Ibnu Jama’ah, Al-Farabi, hingga Syed Muhammad Naquib al-Attas menyediakan landasan penting untuk menempatkan teknologi sebagai instrumen kemajuan, bukan pengganti proses pendidikan manusia.
Baca juga: Edukasi Berbasis Lingkungan, 141 Siswa SMPN 25 Kota Malang Belajar di Eco Active Park
Niat dan Kesungguhan: Ketika Kemudahan Menguji Makna Belajar
AI menawarkan sesuatu yang sangat menarik bagi dunia pendidikan: kecepatan dan efisiensi. Tugas yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam kini dapat diselesaikan dalam hitungan menit. Makalah, analisis, terjemahan, bahkan rangkuman buku dapat dihasilkan melalui beberapa perintah sederhana. Namun, ketika seluruh proses berpikir diserahkan kepada mesin, pendidikan berisiko kehilangan salah satu esensinya, yakni perjuangan intelektual.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin mengingatkan bahwa tujuan menuntut ilmu tidak boleh berhenti pada kepentingan duniawi, apalagi sekadar mengejar pujian dan kedudukan. Ilmu semestinya menjadi jalan penyucian jiwa dan mendekatkan manusia kepada Allah. Dalam perspektif ini, penggunaan AI untuk menghasilkan tugas tanpa proses pemahaman yang jujur berpotensi menjadikan belajar sekadar aktivitas mengejar nilai.
Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Al-Zarnuji dalam Ta’lim al-Muta’allim tentang pentingnya al-mujahadah, yaitu kesungguhan dan ketekunan dalam menuntut ilmu. Proses belajar tidak selalu mudah. Justru melalui kesulitan, latihan, dan kesabaran, seseorang memperoleh kedalaman pemahaman.
AI tidak harus ditolak karena menawarkan kemudahan. Persoalannya terletak pada bagaimana kemudahan itu digunakan. AI dapat mengambil alih pekerjaan mekanis agar peserta didik memiliki lebih banyak waktu untuk membaca, menganalisis, berdiskusi, dan merenungkan makna. Teknologi seharusnya meringankan pekerjaan, bukan menghilangkan perjuangan intelektual yang membentuk kualitas manusia.
Sanad dan Suhbah: Guru Tidak Tergantikan oleh Algoritma
AI mampu menyajikan informasi dari berbagai sumber secara cepat. Namun, informasi yang dihasilkan tidak selalu memiliki rujukan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Di sinilah terdapat perbedaan mendasar antara pengetahuan digital dan tradisi keilmuan Islam yang menempatkan sanad sebagai mata rantai transmisi ilmu serta suhbah sebagai proses pembelajaran melalui kedekatan dan interaksi antara guru dan murid.
Ibnu Jama’ah dalam Tadzkirat al-Sami’ wa al-Mutakallim menekankan pentingnya adab murid terhadap guru. Belajar bukan hanya mendengarkan penjelasan, melainkan juga memperhatikan perilaku, menghormati proses pembelajaran, dan meneladani akhlak pendidik.
Guru dengan demikian bukan sekadar penyampai informasi. Ia merupakan pembimbing intelektual sekaligus teladan moral. Dimensi ini tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh AI. Mesin dapat memberikan jawaban, tetapi tidak dapat menghadirkan keteladanan hidup, empati, tanggung jawab moral, dan bimbingan spiritual sebagaimana seorang pendidik.
Terlebih lagi, AI memiliki keterbatasan berupa hallucination, yakni kemampuan menghasilkan informasi, kutipan, atau referensi yang keliru tetapi disampaikan seolah-olah benar. Karena itu, belajar hanya dengan mengandalkan algoritma tanpa bimbingan guru berpotensi menyesatkan.
AI semestinya ditempatkan sebagai pelayan informasi, sedangkan guru tetap menjadi mursyid (pembimbing) dan mu’addib (penanam adab). Peserta didik boleh memanfaatkan AI untuk mencari referensi awal dan memetakan persoalan, tetapi validasi pengetahuan, pemaknaan, serta pembentukan karakter harus tetap berlangsung melalui interaksi pendidikan yang hidup.
Malakah: Melatih Nalar, Bukan Menyerahkan Pikiran
Salah satu risiko terbesar penggunaan AI dalam pendidikan adalah cognitive offloading, yaitu kecenderungan menyerahkan aktivitas berpikir, mengingat, dan memecahkan masalah kepada teknologi. Jika peserta didik terus-menerus meminta AI menyusun analisis, menarik kesimpulan, dan menjawab persoalan, kemampuan berpikir mandiri berisiko tidak berkembang secara optimal.
Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah memperkenalkan konsep malakah, yakni kemampuan atau kecakapan yang tertanam kuat dalam diri seseorang melalui proses belajar dan latihan berulang. Ilmu yang sesungguhnya bukan sekadar informasi yang dihafalkan, melainkan kemampuan mengolah pengetahuan, merumuskan gagasan, dan menyelesaikan persoalan secara mandiri.
Pembentukan malakah membutuhkan proses bertahap (at-tadarruj), latihan berulang, dan keterlibatan langsung dalam persoalan nyata. Ketika seluruh proses tersebut dilompati dengan meminta AI menghasilkan jawaban akhir, peserta didik mungkin tampak produktif, tetapi belum tentu memiliki kemampuan intelektual yang sesungguhnya.
Pemikiran Al-Farabi tentang pentingnya ilmu logika (mantiq) juga relevan. Seseorang tidak cukup menerima kesimpulan; ia harus memahami bagaimana kesimpulan tersebut dibangun. Dalam konteks AI, peserta didik perlu dilatih untuk menguji argumen, mempertanyakan asumsi, menemukan kelemahan jawaban, dan menyusun kesimpulan sendiri.
Karena itu, AI sebaiknya tidak hanya digunakan sebagai answer generator, tetapi sebagai mitra dialog untuk mengasah nalar. Peserta didik dapat diminta mengkritisi jawaban AI, membandingkan argumentasi, dan menemukan kekeliruan logika. Dengan demikian, teknologi justru menjadi sarana memperkuat kemampuan berpikir, bukan membuat manusia bergantung kepadanya.
Tabayyun: Menjaga Kebenaran di Tengah Halusinasi Algoritma
AI bekerja berdasarkan pengolahan pola dan probabilitas data. Ia dapat menghasilkan jawaban yang tampak meyakinkan, tetapi tidak selalu benar secara faktual. Fenomena hallucination menunjukkan bahwa kelancaran bahasa tidak identik dengan kebenaran informasi.
Dalam situasi ini, prinsip tabayyun sebagaimana diperintahkan Allah dalam QS. Al-Hujurat ayat 6 menjadi sangat relevan. Setiap informasi harus diperiksa sebelum diterima dan disebarluaskan. Peserta didik tidak boleh menjadikan keluaran AI sebagai kebenaran final tanpa melakukan verifikasi.
Prinsip tersebut dapat diterapkan melalui pemeriksaan fakta, penelusuran sumber primer, validasi kutipan, serta pengujian konsistensi argumentasi. Dengan kata lain, literasi AI harus berjalan beriringan dengan literasi kritis dan tanggung jawab epistemologis.
Pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Attas tentang loss of adab atau hilangnya adab memberikan landasan yang lebih mendalam. Krisis pendidikan bukan semata-mata persoalan kurangnya pengetahuan, melainkan juga ketidakmampuan menempatkan ilmu, manusia, dan kebenaran secara tepat.
Mengklaim hasil kerja AI sebagai pemikiran pribadi tanpa pengakuan yang semestinya merupakan persoalan integritas akademik. Demikian pula menggunakan AI untuk memproduksi informasi palsu atau menyebarkan kebencian merupakan penyimpangan dari tanggung jawab moral dalam penggunaan ilmu.
Oleh sebab itu, pendidikan Islam perlu mengembangkan etika digital yang berlandaskan al-amanah al-‘ilmiyyah (kejujuran dan tanggung jawab ilmiah). Peserta didik tidak cukup diajarkan cara mengoperasikan AI, tetapi juga harus dibekali kemampuan memeriksa kebenaran, menghargai sumber pengetahuan, dan mempertanggungjawabkan setiap karya yang dihasilkan.
Al-Madinah Al-Fadhilah: Teknologi untuk Kemaslahatan Manusia
Kemajuan teknologi sering kali melahirkan cara pandang teknokratis, seolah-olah seluruh persoalan pendidikan dapat diselesaikan melalui algoritma, data, dan efisiensi sistem. Akibatnya, pendidikan berisiko dipersempit menjadi proses mencetak tenaga kerja yang terampil menggunakan teknologi, tetapi kehilangan orientasi pembentukan manusia yang utuh.
Pemikiran Al-Farabi tentang Al-Madinah Al-Fadhilah atau Kota Utama menawarkan perspektif berbeda. Keunggulan suatu masyarakat tidak semata-mata ditentukan oleh kemajuan teknologi dan kekayaan material, tetapi oleh kemampuannya membangun kehidupan bersama berdasarkan kebajikan dan tujuan kebahagiaan hakiki (as-sa’adah).
Dalam kerangka ini, AI merupakan instrumen yang dapat diarahkan untuk berbagai kepentingan. Teknologi dapat mendukung kemajuan pendidikan dan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga dapat menjadi alat manipulasi dan ketidakadilan apabila tidak dikendalikan oleh nilai moral.
Gagasan integrasi tradisi dan modernitas Fazlur Rahman juga memberikan perspektif penting. Melalui pendekatan double movement, nilai-nilai moral Al-Qur’an dapat didialogkan dengan persoalan kontemporer, termasuk perkembangan teknologi. Artinya, pendidikan Islam tidak perlu menolak AI, tetapi harus mampu mengarahkan pemanfaatannya berdasarkan nilai keadilan, kemanusiaan, dan ketauhidan.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan pendidikan berbasis AI bukan sekadar seberapa canggih teknologi yang digunakan, melainkan sejauh mana teknologi tersebut membantu manusia tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, beradab, dan memberikan manfaat bagi kehidupan.
Menjadi Cerdas Tanpa Kehilangan Adab
Kecerdasan buatan merupakan salah satu pencapaian penting peradaban manusia. Namun, secanggih apa pun algoritma yang diciptakan, teknologi tetap tidak memiliki kompas moral yang menentukan arah penggunaannya. Manusia tetap menjadi pihak yang bertanggung jawab atas tujuan, proses, dan dampak pemanfaatannya.
Tradisi pendidikan Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menjauhi kemajuan zaman. Sebaliknya, Islam mendorong pencarian ilmu dan pengembangan peradaban, dengan tetap menempatkan nilai ketauhidan, akhlak, dan kemaslahatan sebagai landasan.
Di sinilah tantangan sekaligus tanggung jawab FTIK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Mempersiapkan pendidik masa depan tidak cukup dengan membekali mereka kemampuan mengoperasikan teknologi digital dan kecerdasan buatan. Mereka juga harus memiliki kemampuan membimbing peserta didik agar kritis dalam berpikir, jujur dalam berkarya, bijak dalam menggunakan teknologi, dan kokoh dalam memegang nilai-nilai keislaman.
Pada akhirnya, pendidikan tidak boleh sekadar melahirkan generasi yang mampu mengalahkan kecepatan mesin dalam mengolah informasi, tetapi harus membentuk manusia yang mampu melampaui mesin dalam kebijaksanaan, empati, tanggung jawab, dan kemuliaan akhlak.
AI boleh semakin cerdas, tetapi adab harus tetap menjadi kompas. Sebab, masa depan pendidikan bukan ditentukan oleh seberapa jauh manusia mampu menciptakan kecerdasan buatan, melainkan seberapa bijak manusia menggunakannya tanpa kehilangan jati dirinya.



Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.