Langsung ke konten
Selasa, 27 Oktober 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Daerah

HIMPAUDI Lowokwaru Hidupkan Permainan Tradisional Demi Kurangi Gawai

Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (HIMPAUDI) Pengurus Cabang Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, menggelar pertemuan rutin

Foto bersama pengurus dan narasumber acara.

Foto bersama pengurus dan narasumber acara. (Foto: Istimewa)

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Upaya menghidupkan kembali kearifan lokal terus digelorakan oleh dunia pendidikan anak usia dini. Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (HIMPAUDI) Pengurus Cabang Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, menggelar pertemuan rutin bertema “Permainan Tradisional di Era Gen Alpha” di Pendopo Agung Putro Purwo, Jalan Saxophone Nomor 1, Kelurahan Tunggulwulung, Selasa (27/10/2026).

Kenalkan Permainan Tradisional untuk Atasi Ketergantungan Gawai

Kegiatan yang berlangsung dari pukul 10.00 hingga 13.00 WIB tersebut menjadi ruang belajar bagi para pendidik PAUD untuk mengenal kembali ragam permainan tradisional serta mengadaptasikannya ke dalam proses pembelajaran. Ketua HIMPAUDI Kecamatan Lowokwaru, Monica Mariana, SH., S.Psi, menjelaskan bahwa kegiatan ini berangkat dari upaya mengenalkan kembali kekayaan permainan tradisional kepada anak-anak melalui peran guru PAUD.

Menurut Monica, pelestarian permainan tradisional tidak cukup hanya dengan mengenalkan nama dan jenisnya saja, melainkan guru juga perlu memahami cara bermain, aturan, serta memodifikasinya sesuai kebutuhan pembelajaran anak masa kini. Dalam kegiatan tersebut, peserta diperkenalkan dengan lima jenis permainan tradisional pilihan yang dinilai belum banyak dikenal oleh guru PAUD generasi sekarang dari total sekitar 165 permainan yang dikuasai narasumber.

Baca juga: Mengenal Permainan Tradisional di Era Modernisasi Melalui Program P5

Baca juga: MTs Modern Al-Rifa’ie Gelar Kegiatan P5RA Bertema Permainan Tradisional Selama 9 Hari

“Harapan utama kami, permainan ini nantinya bisa diteruskan kepada anak-anak. Guru-guru dapat mempraktikannya di lembaga PAUD masing-masing, sehingga anak-anak kembali memiliki ruang bermain bersama, belajar bersosialisasi, dan mengenal kekayaan budaya tradisional kita,” ujar Monica.

Sinergi Guru dan Orang Tua Bentuk Stimulasi Optimal

Senada dengan hal tersebut, Ketua Pengurus Daerah (PD) HIMPAUDI Kota Malang, Maisaroh, S.Pd., M.Pd., memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif tersebut. Ia menilai permainan tradisional mampu memperkaya metode pembelajaran sekaligus menjadi alternatif aktivitas anak di tengah kebiasaan menggunakan telepon seluler atau gawai.

Maisaroh menegaskan bahwa pembelajaran anak usia dini tidak harus selalu terpaku di dalam kelas dengan buku dan alat tulis, melainkan butuh ruang untuk bergerak dan melatih motorik. Ia mencontohkan pengalaman lembaganya saat mengajak anak-anak bermain engklek, bentengan, hingga kucing-kucingan di halaman sekolah tanpa menyentuh gawai sama sekali.

“Anak-anak ternyata juga asyik bermain permainan tradisional. Selama di sekolah, mereka tidak memegang HP sama sekali, dan terbukti mereka tetap bisa menikmati kegiatan bermain,” jelas Maisaroh.

Iklan

Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya kerja sama antara sekolah dan keluarga dalam menyikapi kebiasaan orang tua memberikan gawai agar anak lebih tenang di rumah. Menurutnya, penyamaan persepsi sejak awal tahun ajaran melalui visi, misi, dan program pembelajaran sangat penting agar stimulasi tumbuh kembang anak berjalan sinergis.

“Untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak, tidak cukup hanya dengan HP. Harus ada sinergi antara orang tua dan sekolah agar anak mendapatkan stimulasi yang tepat,” tegasnya.

Praktik Langsung Bersama Budayawan dan Praktisi Tradisional

Untuk memberikan pengalaman nyata kepada para pendidik, kegiatan ini menghadirkan Mbah Jo dan Nyai Kembang selaku budayawan serta praktisi kesenian dan permainan tradisional. Setelah pemaparan materi, peserta dibagi menjadi lima kelompok untuk mempraktikkan langsung permainan yang didampingi oleh narasumber.

Metode praktik langsung ini diharapkan mampu membantu para guru memahami aturan, cara bermain, serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, mulai dari belajar mengikuti aturan, menunggu giliran, bekerja sama, hingga berkomunikasi. Mbah Jo juga mengajak seluruh pihak untuk mendokumentasikan permainan tradisional melalui video maupun media sosial agar warisan budaya tersebut tidak lekang oleh zaman.

“Kalau ada rekan-rekan yang berkenan bekerja sama, berbagi konten dan data, saya sangat senang. Harapannya, permainan tradisional ini bisa terus dikenal, dipelajari, dan dilestarikan,” ungkap Mbah Jo.

Rangkaian acara yang diawali dengan tembang macapat, menyanyikan lagu Indonesia Raya serta Mars HIMPAUDI, sambutan, dan doa bersama ini ditutup dengan harapan agar gerakan pelestarian permainan tradisional dapat menginspirasi kecamatan lain di Kota Malang demi mewujudkan pembelajaran yang aktif, menyenangkan, dan berakar pada budaya lokal.

Sesi praktik permainan tradisional bersama peserta.
Sesi praktik permainan tradisional bersama peserta. (Foto: Istimewa)
Jajaran pengurus membuka acara pertemuan HIMPAUDI Lowokwaru.
Jajaran pengurus membuka acara pertemuan HIMPAUDI Lowokwaru. (Foto: Istimewa)
Para pendidik PAUD menyimak materi dengan antusias.
Para pendidik PAUD menyimak materi dengan antusias. (Foto: Istimewa)
Mbah Jo memberikan pemaparan materi dolanan tradisional.
Mbah Jo memberikan pemaparan materi dolanan tradisional. (Foto: Istimewa)

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.