Langsung ke konten
Selasa, 27 Oktober 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Daerah

Umi Machmudah: Mengapa Hari Santri, bukan Hari Kiai

Setiap 22 Oktober kita memperingati Hari Santri, mengenang Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari pada tahun 1945. Pertanyaannya “Mengapa yang dirayakan santri

Kegiatan rutin sebagai pemateri dalam "Madinah" Madrasah Diniyah Al Hikmah Universitas Negeri Malang - UM

Kegiatan rutin sebagai pemateri dalam "Madinah" Madrasah Diniyah Al Hikmah Universitas Negeri Malang - UM (Foto: Dokpri Umi Machmudah)

By: Umi Machmudah
Dosen Bahasa Arab Pasca Sarjana UIN Malang
Ketua Korps Muballighah DMI Kota Malang

Bayangkan seorang kiai sepuh duduk bersila di hadapan sang murid yang jauh lebih muda, menyimak kata per kata dan penjelasan dengan saksama, lalu berkata, “Ulangi, saya belum paham.” Adegan ini mungkin terdengar mustahil di zaman ketika gelar sering lebih dihargai daripada ilmu. Tradisi pesantrenlah yang melahirkan adegan semacam itu.


Setiap 22 Oktober kita memperingati Hari Santri, mengenang Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari pada tahun 1945. Pertanyaannya “Mengapa yang dirayakan santri, bukan kiai”, padahal penggeraknya seorang Hadrotus Syekh, kiai besar? Karena kiai adalah gelar, sedangkan santri adalah proses. Gelar bisa disandang, tetapi proses harus dijalani seumur hidup.


Santri adalah orang yang mengaji, dan inti mengaji adalah belajar: usaha sadar memperoleh dan mengembangkan ilmu, keterampilan, serta nilai keislaman agar menjadi pribadi yang berilmu, beradab, dan bertakwa. Allah memerintahkan Nabi berdoa, “Rabbi zidni ‘ilma” (QS. Thaha: 114), dan meninggikan derajat orang berilmu (QS. Al-Mujadilah: 11). Nabi bersabda bahwa menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim (HR. Ibnu Majah). Dalam belajar tidak ada kata “lulus”.


Para ulama salaf menghidupkan pesan itu. KH Hasyim Asy’ari nyantri kepada Syaikhona Kholil Bangkalan. Dikisahkan, Syaikhona Kholil pun kelak belajar kepada muridnya. Berguru kepada yang lebih menguasai suatu bidang bukan aib, melainkan tanda kebesaran jiwa.


Dari sini ada lima pelajaran mengapa yang dipilih Hari Santri.


Pertama, selalu update pengetahuan. Belajar tanpa batas usia membuat santri akrab dengan isu mutakhir, dari teknologi hingga ekonomi digital, sehingga jawaban keagamaannya tidak tertinggal zaman. Data-data terkini melengkapi santri dalam menyampaikan isi dakwahnya. Keakraban santri dengan berita- berita dan pengetahuan terkini akan melengkapi pemahaman umat sehingga ilmu selalu hadir dengan model terbaru. Pesan yang dikemas dengan tampilan mengesankan akan penjadikan orang yang mengkajinya cepat “klik” sehingga tidak membosakan bahkan pesa- pesan agama selalu “dirindukan”.

Iklan


Kedua, siap dikritik dan berubah. Santri terbiasa diuji, dan ujian adalah verifikasi ilmu. Orang yang terbiasa diuji terbiasa menerima masukan, sedangkan gelar yang dianggap final sering membuat pemiliknya kebal kritik. Santri menumbuhkan semangat “ridho” menerima masukan. Al ilmu hayatul Islam wa ‘imaadul iimaan, Bagaimana seorang bergelar akan mampu menerima kritik, siap belajar, jawabnya adalah dengan menumbuhkan “semanagat santri”. Karena semangat santrilah yang mengobarkan “hidup” nya Islam. Islam senantiasa hidup tatkala ilmu senantiasa dikaji oleh santri.


Ketiga, tidak sombong. Santri tidak malu bertanya, bahkan ketika sudah menjadi guru. Ini menentukan mutu fatwa: orang yang mengaku kiai tetapi enggan bertanya berisiko menyampaikan hal yang keliru, dan umat yang menanggung akibatnya. Santri hari ini bisa menggunakan beraneka ragam media digital untuk memvalidasikan ilmu yang dianggapnya musykil. Akan tetapi tradisi “me-nyowankan ilmu“ merupakan upaya mulia. Pada momemt haflah Di mana alumni sowan merupakan kesempatan emas untuk update ilmu.


Keempat, merawat sanad dan circle orang saleh. Kiai atau bu Nyai yang tetap sowan kepada gurunya menjaga keberkahan ilmu sekaligus mempererat silaturahmi. Al’ilm nur, maka tatkala hubungan santri pada masyayikhnya terjaga maka “Cahaya” ilmu terjaga, tidak redup. Ibarat lampu terus bersinar menyinari ruang sekitar. Bagaimana dunia bersinar? Tergantung seberapa kuat “alaqah” santri dengan gurunya. Jika ruh ini terjaga maka kemaslahatan umat akan terjaga, moral umat bisa terawat.


Kelima, produktif, bukan stagnan. Ilmu yang tak diamalkan ibarat pohon yang tak berbuah. Santri yang terus belajar, tanpa pandang bulu. Santri selalu memiliki “teknologi” untuk terus menterjemahkan pesan- pesan agama hingga seiring dengan perkembangan zaman. Jika ulama’ dahulu menterjemahkan content kitab kuning menjadi nadzoman- nadzoman yang syarat kaedah dan menyenangkan, maka santri kini tertantang untuk membuat content- content digital yang mengawal peradaban salaf mendampingi tumbuh kembang santri generasi Z dan generasi alpha.


Maka Hari Santri tidak merendahkan kiai. Justru ia mengingatkan bahwa kiai terbaik adalah santri sejati: yang tak berhenti belajar, tak alergi kritik, tak sungkan bertanya, setia menyambung sanad, dan membuahkan amal. Resolusi Jihad pun bukan kerja satu tokoh, melainkan gerakan kolektif para santri yang ilmunya menjelma keberanian.

Iklan


Di tengah banjir informasi dan fatwa instan media sosial, pesan ini makin relevan dan penting untuk dipertahankan. Gelar diberikan orang lain, tetapi kesantrian hanya bisa dipertahankan oleh diri sendiri. Yang layak kita rayakan adalah semangat menjadi santri selamanya

Pemateri rutin dalam program "Madinah" Madrasah Diniyah Al Hikmah Universitas Negeri Malang - UM
Pemateri rutin dalam program “Madinah” Madrasah Diniyah Al Hikmah Universitas Negeri Malang – UM (Foto: Dokpri Umi Machmudah)

Baca juga: UKM GMC dan Talenta Prodi STKIP Modern Ngawi Pukau Penonton di Alun-Alun Ngawi Spesial Hari Santri 2026

Baca juga: Hari Santri di Belung 2026: KH Muhammad Nafi’ Tekankan Cinta Aswaja, NU, dan Tanah Air

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.