Langsung ke konten
Rabu, 21 Oktober 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Daerah

Panen Raya Mangga Alpukat Pasuruan Banjir Pembeli

Buah tropis unggulan yang populer dengan sebutan Mangga Alpukat atau Mangga Klonal 21 kini tengah laris-manis diserbu oleh masyarakat luas.

Mangga Alpukat Klonal 21 khas Pasuruan yang manis, segar, dan kaya nutrisi siap panen

Mangga Alpukat Klonal 21 khas Pasuruan yang manis, segar, dan kaya nutrisi siap panen (Foto: Istimewa)

Primadona Hortikultura yang Kian Diminati Pasar Domestik hingga Mancanegara

PASURUAN | JATIMSATUNEWS.COM: Musim panen raya membawa berkah tersendiri bagi para petani buah di Kabupaten Pasuruan. Buah tropis unggulan yang populer dengan sebutan Mangga Alpukat atau Mangga Klonal 21 kini tengah laris-manis diserbu oleh masyarakat luas. Dikenal memiliki citarasa yang super manis, segar, serta juicy, buah hasil persilangan antara varietas Gadung dan Arumanis ini tidak hanya menjadi ikon hortikultura lokal, melainkan juga menjadi buah tangan favorit yang wajib diburu setiap kali musim panen tiba.

Memasuki awal bulan Oktober 2026, antusiasme pembeli terpancar nyata di berbagai kawasan sentra penghasil mangga, salah satunya di Kecamatan Rembang dan Sukorejo. Para pembeli tampak berbondong-bondong menyerbu langsung ke lahan petani maupun mendatangi lapak-lapak di sepanjang jalan Desa Oro-oro Ombo dan sekitarnya. Tidak hanya datang dari wilayah Pasuruan dan kota-kota lain di Jawa Timur, permintaan pasar juga meluas hingga luar Pulau Jawa seperti Sumatra dan Kalimantan, bahkan merambah ke pasar mancanegara mulai dari Malaysia, Kuwait, hingga Australia.

Baca juga: Tidak Ikut Demo, Jawara Technoprenure dari SMAN 1 Turen Malah Akui Dukungan Kepala Sekolah MALANG I JATIMSATUNEWS.COM: Pernah viral medio 17 Oktober 2022, SMAN 1 Turen justru mengukir prestasi berturut sesudahnya, antara lain juara UKBI dan terkini menjadi juara 1 ajang SMA Award kategori Technoprenure 16 Desember lalu. Adalah Fadlih pemuda yang mewakili 3 rekannya menerima Anugerah itu dari tangan Gubernur Jatim Khofifah. Menjadi puncak capaian tertingginya atas segala proses menuntut ilmu dan berusaha menorehkan prestasi yang pernah dilakukan selama menjadi siswa di SMAN 1 Turen. “Lomba technopreneur saya ikuti bersama dengan 2 teman lain dari SMAN 1 Turen yakni Najwa Nur Sabrina (XI MIPA 1) dan Ruth Benedicta Susanto (XI MIPA 1). Karena yanh boleh mewakili hanya satu maka sayalah yang berangkat, karena kebetulan saya laki-laki, jadi lebih mudah keluar rumah nginap-nginap,” tutur Fadlih menceritakan pengalamannya berangkat menuju Shangrila menerima Anugerah juara SMA award pada Jatim Satu News, Senin 18/12/2022 Selanjutnya dia juga menceritakan proses sebelum berhasil meraih anugerah. Selanjutnya dia juga menceritakan tahap memperoleh kemenangan atas karyanya Design In. “Awal pengumpulan karya berupa proposal dan video pada tanggal 04 Oktober 2022, Pengumuman 5 besar tanggal 14 November 2022, Babak final tanggal 06 Desember 2022 bertempat di Ruang Rapat Bidang PPSMA, Gedung B lantai 1 Dinas Pendidikan Prov. Jatim, Jl. Gentengkali 33 Surabaya. Terdapat 3 juri yang menguji rancangan bisnis kami,” cetus Fadlih. “Kami berangkat bertiga saat itu didampingi bu Desi juga, Pengumuman 3 besar tanggal 13 Desember 2022, dan saya mewakili kawan-kawan menerima hadiah kemarin,” ungkap Fadlih. Menceritakan kesibukannya, dia mengaku hanya fokus dengan pelajaran dan kejuaraan selama ini. Tidak mengamati kejadian di luar kegiatan itu termasuk demo yang pernah vital. “Waktu Itu saya sedang berada di luar sekolah, ikut kegiatan double track, lomba juga bersama bu Eny, ” tutur Fadlih dengan mata menerawang mengingat-ingat. Selanjutnya dia menyatakan memang tidak ikut demo yang ditujukan kepada kepala sekolahnya Eny Retno Diwati dengan tuduhan Arogan. “Iya saya tidak ikut demo waktu itu. Justru saya sedang bersama Bu Eny kegiatan SMA Double Track di Tunjangan Plaza, menuju pulang,” kisahnya. Diketahui, SMA double track adalah SMA yang melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM) reguler dan menyelenggarakan kegiatan pembekalan keterampilan secara berdampingan dengan memanfaatkan kearifan lokal. Mengenai sosok Kepala Sekolahnya yang didemo dia tidak mengeluhkan apapun. Justru dia mendapatkan dukungan penuh motivasi, fasilitasi dan pendampingan selama mengikuti berbagi lomba, termasuk Technoprenure. “Bu Eny tak henti memberi motivasi dan support mewujudkan impian menjadi juara. Misal disamping mendapatkan bimbingan dari guru sekolah bu Eny juga menugaskan guru pendamping dari luar sekolah dan memfasilitasi apapun yang kami butuhkan mulai pendaftaran hingga menang kemarin, ” jelas Fadlih. Dia bahagia dengan hasil kemenangannya, berterima kasih kepada Civitas sekolah yang tak henti memberi dukungan. Kawan sesama siswa, guru pembimbing, guru pendamping, semen termasuk Kepala Sekolah. “Alhamdulillah, capaian ini berkat dukungan dari banyak pihak. Saya tidak akan bisa memperoleh kalau maju sendiri. Terimakasih dukungan kawan-kawan siswa, guru pembimbing, guru pendamping, asisten men mengajar, Asmen dan tentu saja termasuk Kepala Sekolah, Ibu Eny Retno Diwati, ” ungkap Fadlih. (Ans)

Baca juga: Dosen FITK UIN Malang Tembus Wilayah 3T Manggarai Barat, Latih Guru soal Kurikulum Berbasis Cinta hingga Membaca Kritis

Kisah Petani Rembang dan Sukorejo Raup Berkah Melimpah

Ladi Khairullah, salah seorang petani mangga asal Desa Oro-oro Ombo Wetan, Kecamatan Rembang, menceritakan bahwa dirinya disibukkan dengan banjirnya pesanan setiap hari.

Mengelola ratusan pohon mangga yang tersebar di enam lokasi berbeda, ia bersama para petani lainnya harus sigap memenuhi tingginya permintaan pasar luar kota.

Iklan

“Kebun kami di 6 lokasi yang berbeda, masing-masing ada 200-an pohon. Ada yang di Dusun Beran dan Dusun Watulunyu, Oro-oro Wetan Kecamatan Rembang dan di Desa Wonokerto, Kecamatan Sukorejo. Kalau pas panen raya, kami bisa panen antara 50 kwintal sampai 1 ton. Tergantung lebat tidak buahnya,” ungkap Ladi sembari menjelaskan produktivitas kebunnya.

Terkait harga jual di musim panen raya yang membuat stok buah melimpah ini, Ladi menuturkan bahwa ia membanderol mangga kelas atau grade A seharga Rp30.000 per kilogram, sementara grade B berada di kisaran Rp15.000 per kilogram. Angka tersebut mengalami penyesuaian jika dibandingkan masa menjelang panen raya pada Agustus hingga September lalu, di mana grade B sempat menyentuh angka Rp40.000 hingga Rp50.000 per kilogram, dan grade A berkisar antara Rp50.000 sampai Rp70.000 per kilogram tergantung ukuran buah.

“Pembelinya, selain di area Jatim, ada yang dari Jakarta, Bandung, Jogja, Solo, Tangerang, Kalimantan,” imbuhnya dengan nada sumringah.

Sukacita serupa juga dirasakan oleh Sugiono, petani Mangga Alpukat asal Desa Wonokerto, Kecamatan Sukorejo. Ia mengungkapkan bahwa sejak awal Oktober 2026, ratusan pohon mangga di atas lahan seluas 2,5 hektar miliknya tidak pernah sepi dari pesanan maupun kunjungan konsumen. Banyak pula pembeli yang sengaja datang langsung ke kebun demi merasakan sensasi memetik buah secara mandiri.

Iklan

“Alhamdulillah banyak juga konsumen yang langsung datang ke kebun untuk bisa merasakan sensasi petik langsung. Mangga di Desa Wonokerto terkenal manis dan daging buah yang lembut karena betul-betul dibudidayakan sesuai dengan SOP. Mulai dari pemangkasan, pemupukan dan pasca panen,” terang Sugiono penuh semangat.

Dukungan Teknologi Pertanian dan Potensi Kawasan Sentra

Berdasarkan data yang ada, Kabupaten Pasuruan memiliki lebih dari 4 ribu hektar lahan perkebunan mangga yang tersebar di sejumlah wilayah strategis seperti Kecamatan Rembang, Sukorejo, Wonorejo, Nguling, hingga Grati. Peningkatan luas panen dari tahun ke tahun menunjukkan keberhasilan pengembangan sektor hortikultura ini, yang ditopang oleh kondisi agrokllimat yang sangat mendukung, seperti struktur tanah hitam di Rembang dengan tingkat kelembaban rendah yang ideal untuk menghasilkan buah berkualitas prima.

Keberhasilan produktivitas para petani lokal ini juga tidak lepas dari penerapan teknologi pertanian modern secara berkelanjutan. Mulai dari rekayasa pembuahan di luar musim menggunakan zat pengatur tumbuh paclobutrazol, pemanfaatan pupuk organik, pemangkasan bentuk dan produksi, hingga dukungan pengadaan bibit berkualitas yang bersumber dari anggaran APBD Kabupaten Pasuruan. Melalui momentum panen raya ini, sektor agribisnis Mangga Alpukat Klonal 21 terbukti semakin kokoh mengukuhkan Pasuruan sebagai salah satu lumbung buah nusantara yang mendunia.

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.