Langsung ke konten
Rabu, 21 Oktober 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Kolom

Cahaya Dari Malang Hingga Notodden

Catatan Perjalanan Santy Trip ​ ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM: Tak pernah kubayangkan, aku, Santy dari Malang, seorang muslimah yang tumbuh dengan lantunan

Santy dari Malang, seorang muslimah yang tumbuh dengan lantunan adzan di antara kebun apel dan kabut Bromo

Santy dari Malang, seorang muslimah yang tumbuh dengan lantunan adzan di antara kebun apel dan kabut Bromo (Foto: Istimewa)

Catatan Perjalanan Santy Trip
​
ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM: Tak pernah kubayangkan, aku, Santy dari Malang, seorang muslimah yang tumbuh dengan lantunan adzan di antara kebun apel dan kabut Bromo, akan berdiri di sebuah negeri di mana matahari hampir tak pernah tenggelam. Bersama Snaty Trip, biro perjalanan kecil yang kubangun dengan doa dan keberanian, ini adalah pertama kalinya aku ke Norwegia.

Pertama kalinya sejauh ini dari rumah.
​Aku datang dengan hijabku, dengan doa-doaku, dan dengan rasa takut yang pelan: Apakah aku akan diterima? Apakah mereka akan memandangku aneh?

Sebagai seorang muslimah traveller, pertanyaan itu selalu ada di koperku, lebih berat dari koper itu sendiri.

Baca juga: Peringati Hari Pers Nasional 2025 dan HUT PWI Ke-79, JatimSatuNews Serahkan Tumpeng Ocean Garden kepada Ketua PWI Malang

Baca juga: Kesbangpol Kota Malang Tanamkan Nasionalisme, Ratusan Siswa SMKN 4 Dibekali Wawasan Kebangsaan

​Norwegia menjawab ketakutanku bukan dengan kata-kata, tapi dengan kebaikan.

​Dari Oslo hingga ke kota kecil Notodden, setiap orang Norwegia yang kutemui memiliki kebaikan yang sunyi namun dalam. Di kereta, seorang nenek membantuku mengangkat koper tanpa kuminta. Di supermarket, seorang bapak dengan sabar menunjukkan di mana oat milk berada, meski bahasa Norwegiaku terbata-bata. Tidak ada penghakiman. Hanya tatapan mata yang hangat. Hanya kemanusiaan. Aku yang datang sebagai Santy, si pemilik Santy Trip dari Malang, merasa dijaga semesta.

​Namun hatiku benar-benar terbuka di sebuah tempat kecil di lantai dua gedung bersejarah Skolandhuset, Storgata 63. Kilden.

​Aku sudah membaca bahwa di Notodden, Norwegia, Kilden adalah pusat pembelajaran dan aktivitas berbasis komunitas yang dikelola oleh Pemerintah Kota Notodden. Kukira itu hanya sebuah gedung. Aku salah. Dia bukan sekedar gedung, ia adalah rumah.

​Aku disambut oleh Elin Løberg Pedersen, pemimpin Kilden, dan beberapa anggota komite Kilden lainnya. Elin tidak melihat hijabku sebagai sesuatu yang berbeda. Ia melihatku sebagai manusia, sebagai Santy. Ia tersenyum seolah kami sudah bertahun-tahun saling kenal. Ia menggenggam tanganku dengan hangat dan erat, dan berkata, “Selamat datang di rumah, Santy.”

Iklan

​Di dalam Kilden, udara berbau pizza yang baru dipanggang dan kopi. Kulihat orang-orang melukis di malerverksted, yang lain menulis, yang lain membuat musik di musikkverksted. Di dapur, mereka memasak bacalao bersama, tertawa dan berbagi makanan. Di dinding, kulihat foto-foto turgruppe mereka – kelompok jalan kaki setiap Selasa sore – menjelajahi alam liar bersama. Dan di luar, ada Kildens hage, kebun tempat mereka memanen sayuran segar sendiri.

​Ini bukan sekadar tentang aktivitas sosial dan rekreasi. Ini tentang menyembuhkan kesepian. Tentang inklusi sosial. Tentang kesejahteraan jiwa.

​Elin menceritakan filosofi inti mereka: fokus pada koneksi kemanusiaan individu. Memberikan ruang terbuka di mana orang bisa bertemu, mengeksplorasi minat mereka, dan saling mendukung.

​Lalu ia menyebutkan slogan mereka, dan aku, Santy dari Snaty Trip, menangis.

​”EVERYONE NEEDS SOMEONE AND SOMEONE NEEDS YOU – SETIAP ORANG BUTUH SESEORANG DAN SESEORANG MEMBUTUHKANMU.”

​Subhanallah. Aku, seorang muslimah dari Malang, telah terbang 10.000 kilometer untuk mendengar ajaran paling murni dalam Islam – bahwa kita semua bersaudara, bahwa tidak ada seorang pun yang boleh merasa sendirian.
​Saat itu aku mengerti. Di Malang kita menyebutnya gotong royong. Di Norwegia, mereka menghidupkannya di Kilden.

​Aku duduk dalam sesi mindfulness mereka, mengatur napas dan visualisasi bersama para ibu Norwegia, pensiunan pekerja pabrik, dan para mahasiswa muda. Beda iman, beda cerita, tapi satu napas. Satu hati.

​Ini adalah pengalaman pertamaku ke Norwegia, tapi Norwegia telah mengunjungi jiwaku selamanya. Aku datang sebagai Santy, membawa bendera kecil Snaty Trip, mencari Cahaya Utara, mencari fjord yang menakjubkan. Tapi cahaya paling menakjubkan yang kutemukan adalah di dalam Kilden – cahaya kebaikan manusia.

​Semoga slogan super ramah ini menyebar ke seluruh dunia. Dari Notodden, untuk Malang, dan untuk semua. Semoga setiap kota memiliki Kilden. Semoga semua orang ingat: Setiap orang butuh seseorang, dan seseorang membutuhkanmu.

​Santy
Founder, Santy Trip – Malang

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.