MADURA | JATIMSATUNEWS.COM: Komitmen mewujudkan lingkungan pesantren yang bersih, sehat, produktif, dan berkelanjutan terus dikembangkan melalui program pengabdian kepada masyarakat. Tim pengabdian melaksanakan kegiatan di Pondok pesantren Nazhatut Thullab Sampang Madura dengan kontribusi langsung pengelola Pondok yaitu Ust. Darwis, Ust. Samsul dan Ust, Kholil.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim yang terdiri atas Dr. Gyska Indah Harya, SP., M.Agr., Dr. Dinna Hadi Solikah, Faizol, M.Ak., Dr. Gideon Setyo Budi Witjaksono, Dr. Taufik Setyadi, dan Cholid Fadil, M.Pd.I. Tim pengabdian melibatkan warga pesantren dalam upaya membangun sistem pengelolaan sampah yang produktif dan berkelanjutan.
Kegiatan bertujuan mendorong penerapan konsep ekonomi sirkular melalui pengelolaan sampah yang lebih produktif. Sampah yang dihasilkan dari aktivitas sehari-hari warga pesantren tidak hanya dipandang sebagai limbah, tetapi dapat diolah menjadi produk yang memiliki manfaat bagi lingkungan sekaligus mendukung kemandirian pesantren.
Ketua tim pengabdian, Dr. Gyska Indah Harya, SP., M.Agr., mengatakan bahwa penerapan ekonomi sirkular di lingkungan pesantren menjadi langkah strategis untuk membangun kesadaran dan mengubah perilaku dalam mengelola sampah.
Baca juga: Khofifah Resmikan Pusat Riset Pesantren Jatim dan Serahkan 1.100 Beasiswa Santri
“Sampah tidak seharusnya hanya dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang. Melalui pendekatan ekonomi sirkular, sampah dapat diolah kembali menjadi produk yang bermanfaat dan memiliki nilai guna. Kami ingin membangun sistem pengelolaan sampah yang dapat dilakukan secara mandiri oleh warga pesantren,” ujar Dr. Gyska.
Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah pemanfaatan sampah plastik menjadi paving block. Sampah plastik yang telah dipilah dan diproses dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan paving block untuk mendukung kebutuhan infrastruktur sederhana di lingkungan pesantren. Inovasi tersebut diharapkan mampu mengurangi sampah plastik sekaligus menghasilkan produk yang dapat dimanfaatkan secara langsung.
Selain sampah plastik, tim pengabdian memperkenalkan pengolahan sampah organik menjadi pupuk organik. Sisa makanan, daun, dan bahan organik lainnya dipilah dan diolah sehingga dapat dimanfaatkan kembali sebagai pupuk untuk tanaman dan penghijauan di lingkungan pesantren.
Menurut Dr. Gyska, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh keterlibatan seluruh warga pesantren.
“Teknologi akan memberikan hasil apabila didukung oleh perubahan perilaku. Karena itu, santri perlu dilibatkan sejak proses pemilahan, pengolahan, hingga pemanfaatan hasilnya. Dengan cara ini, pengelolaan sampah dapat menjadi bagian dari budaya pesantren,” ujar Dr. Gyska.
Kegiatan dilaksanakan melalui edukasi, sosialisasi, pelatihan, praktik langsung, pendampingan, dan evaluasi. Santri serta pengelola pesantren diberikan pemahaman mengenai pemilahan sampah organik dan anorganik serta pentingnya pengelolaan sampah sejak dari sumbernya.
Program ini diharapkan mendukung terbentuknya Pesantren Hijau Nazhatut Thullab Madura yang tidak hanya unggul dalam pendidikan keagamaan, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan.
“Harapan kami, program ini tidak berhenti pada pelatihan, tetapi dapat menjadi sistem yang berjalan secara berkelanjutan. Sampah plastik dapat dimanfaatkan menjadi paving block, sementara sampah organik dapat diolah menjadi pupuk. Dengan demikian, tercipta siklus pengelolaan sampah yang memberikan manfaat bagi pesantren,” ujar Dr. Gyska.
Melalui kolaborasi perguruan tinggi dan pesantren, kegiatan ini diharapkan menjadi contoh penerapan ekonomi sirkular yang dapat direplikasi di lingkungan pendidikan lainnya serta mendukung terciptanya lingkungan pesantren yang bersih, sehat, produktif, dan berkelanjutan.


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.