Setiap Jumat Manis, siswa Muslim dan Hindu belajar satu hal penting: keyakinan boleh berbeda, tetapi persaudaraan harus tetap terjaga.
PASURUAN | JATIMSATUNEWS.COM: Pagi di kawasan pegunungan Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, selalu memiliki cerita tersendiri. Udara yang sejuk mengiringi aktivitas belajar di SDN Ngadirejo I Tutur. Namun, ada satu kebiasaan yang membuat Jumat Manis di sekolah tersebut terasa istimewa.
Bukan sekadar kegiatan keagamaan, melainkan sebuah pembelajaran tentang bagaimana perbedaan dapat dirawat menjadi kekuatan.
Setiap Jumat Manis, warga sekolah melaksanakan Istisantika, singkatan dari Istighosah dan Santi Puja. Siswa Muslim mengikuti istighosah dan doa bersama, sedangkan siswa Hindu melaksanakan Santi Puja.
Mereka menjalankan ibadah sesuai keyakinan masing-masing.
Tidak ada tuntutan untuk menyeragamkan cara berdoa. Tidak ada pula sekat yang membuat perbedaan menjadi alasan untuk menjauh.
Yang tumbuh justru sikap saling menghormati.
Anak-Anak Belajar Toleransi dari Kehidupan Nyata
Kegiatan Istisantika menjadi bagian dari pembiasaan karakter yang dikembangkan sekolah.
Kepala SDN Ngadirejo I Tutur, Risdiyan Tri Wahyudi, M.Pd., mengatakan bahwa pendidikan toleransi harus diberikan sejak anak-anak masih berada di bangku sekolah dasar.
«“Kami ingin anak-anak memahami bahwa perbedaan agama bukan tembok yang memisahkan. Mereka boleh berbeda dalam menjalankan ibadah, tetapi tetap satu sebagai teman, sebagai warga sekolah, dan sebagai bagian dari Indonesia,” ungkap Risdiyan.»
Ia menambahkan, sekolah tidak ingin nilai Pancasila berhenti pada hafalan.
«“Pancasila harus terlihat dalam perilaku. Ketika anak mampu menghormati temannya yang berbeda agama, memberi ruang untuk beribadah, dan tetap bermain serta belajar bersama, menurut kami itulah pendidikan Pancasila yang sesungguhnya,” ujarnya.»
Dari Sekolah untuk Indonesia yang Lebih Toleran
Istisantika menjadi contoh bahwa pendidikan karakter dapat dilakukan melalui pembiasaan sederhana namun konsisten.
Melalui kegiatan tersebut, siswa diajak memahami makna toleransi bukan berdasarkan definisi, tetapi melalui pengalaman sehari-hari.
Siswa belajar bahwa menghormati agama lain tidak berarti harus mengikuti keyakinannya. Begitu pula menjalankan agama sendiri tidak berarti boleh merendahkan keyakinan orang lain.
Pesan itu menjadi semakin penting karena sekolah merupakan tempat pertama bagi anak-anak untuk belajar hidup bersama dengan orang lain yang memiliki karakter dan latar belakang berbeda.
Sekolah menjadi miniatur kecil Indonesia.
Di dalamnya, perbedaan tidak untuk dihapuskan, tetapi untuk dikelola dengan sikap saling menghargai.
Jumat Manis yang Tidak Hanya Manis di Kalender
Nama Jumat Manis mungkin terdengar sederhana. Namun bagi SDN Ngadirejo I Tutur, Jumat Manis menjadi momentum untuk menanamkan kebiasaan baik.
Doa menjadi awal.
Toleransi menjadi proses.
Persaudaraan menjadi hasil yang diharapkan.
«“Kami berharap kebiasaan sederhana ini melekat dalam diri anak-anak. Kelak ketika mereka berada di masyarakat, mereka tidak mudah memandang perbedaan sebagai ancaman. Mereka justru mampu melihat keberagaman sebagai bagian dari kekayaan bangsa,” kata Risdiyan.»
Istisantika akhirnya bukan hanya tentang istighosah dan Santi Puja.
Ia adalah cerita tentang bagaimana sebuah sekolah berusaha menanamkan benih persatuan melalui cara yang sederhana: memberikan ruang kepada setiap anak untuk beribadah sesuai keyakinannya dan mengajarkan mereka untuk menghormati satu sama lain.
Karena persatuan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar.
Kadang, persatuan tumbuh dari hal yang sangat sederhana—duduk bersama, saling menghormati, dan membiarkan setiap orang berdoa kepada Tuhannya dengan caranya masing-masing.
Dari SDN Ngadirejo I Tutur, pesan itu terus digaungkan:
“Berbeda dalam keyakinan, tetap satu dalam persaudaraan.”


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.