MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Derasnya investasi yang masuk ke Jawa Timur menjadi peluang besar bagi tenaga kerja lokal. Namun, peluang tersebut harus diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten, profesional, dan memiliki sertifikat kompetensi yang diakui industri.
Realisasi investasi Jawa Timur sepanjang semester I 2026 tercatat mencapai Rp72,7 triliun. Capaian itu menempatkan Jawa Timur di posisi ketiga nasional setelah DKI Jakarta dan Jawa Barat.
Besarnya investasi tersebut dinilai membutuhkan kesiapan tenaga kerja yang tidak hanya memiliki ijazah, tetapi juga kompetensi yang terukur dan sesuai kebutuhan industri.
Ketua Tim Pendiri APTAKSINDO Muhammad Ali Zaini mengatakan, masuknya investasi dalam jumlah besar ke Jawa Timur harus diikuti dengan strategi serius untuk menyiapkan tenaga kerja lokal.
«”Investasi Rp72,7 triliun ini merupakan peluang besar bagi Jawa Timur. Tetapi jangan sampai investasi masuk, sementara tenaga kerja lokal belum siap mengambil peran. Karena itu, kompetensi dan sertifikasi menjadi bagian penting yang harus kita siapkan sejak dari kampus,” ujarnya.»
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki posisi strategis karena menjadi tempat pembentukan calon tenaga profesional sebelum masuk ke dunia kerja.
«”Kami ingin mahasiswa tidak hanya lulus membawa ijazah, tetapi juga membawa bukti kompetensi. Target kami sederhana, satu mahasiswa satu sertifikat kompetensi. Dengan begitu, ketika mereka masuk industri, mereka sudah memiliki modal kompetensi yang jelas,” tegasnya.»
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Asosiasi Tenaga Ahli dan Terampil Indonesia (APTAKSINDO) menggandeng PT Utama Lestari Indonesia (PT ULI) dan PT Forjasi Lentera Indonesia (PT Forjasi) menjalankan program nasional “Dari Munas III ke Kampus”.
Program tersebut didukung sejumlah Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) mitra dan berfokus pada pelatihan serta sertifikasi asesor kompetensi bidang jasa konstruksi, kelistrikan, dan K3 konstruksi.
Rangkaian roadshow di Malang Raya diawali dengan audiensi ke Universitas Brawijaya (UB) pada Jumat, 22 Agustus 2026.
Tim bertemu dengan Dekan Fakultas Teknik UB, Prof. Ir. Hadi Suyono, ST., MT., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., APEC Eng.
Dalam pertemuan tersebut dibahas peluang sinergi pengembangan kurikulum berbasis kompetensi, penguatan Tempat Uji Kompetensi (TUK), serta integrasi sertifikasi BNSP bagi mahasiswa teknik.
Menurut Muhammad Ali, sinergi dengan perguruan tinggi merupakan bagian penting dari upaya memperpendek jarak antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri.
«”Kita tidak ingin kampus berjalan sendiri dan industri berjalan sendiri. Kebutuhan industri harus mulai diterjemahkan ke dalam proses pendidikan, termasuk melalui penguatan kompetensi dan sertifikasi,” katanya.»
Roadshow dilanjutkan ke Politeknik Negeri Malang (POLINEMA) pada Jumat, 4 September 2026.
Tim APTAKSINDO bersama PT ULI dan PT Forjasi melakukan audiensi dengan Wakil Direktur Bidang Kemahasiswaan POLINEMA, Ir. Pipit Wahyu Nugroho, MT.
Pembahasan mencakup pembentukan TUK serta integrasi skema sertifikasi BNSP bidang konstruksi, kelistrikan, dan K3 ke dalam kurikulum vokasi.
“POLINEMA siap menjadi pelopor kampus yang lulusannya 100 persen memiliki sertifikat kompetensi BNSP. Ini selaras dengan kebutuhan industri saat ini,” ujar Ir. Pipit Wahyu Nugroho.
Narasumber utama APTAKSINDO menilai komitmen tersebut menjadi contoh bahwa pendidikan vokasi dapat mengambil peran lebih besar dalam menyiapkan tenaga kerja yang benar-benar siap memasuki dunia industri.
«”Kami menyambut baik komitmen POLINEMA. Ini yang kami harapkan. Kampus bukan hanya menghasilkan lulusan, tetapi menghasilkan lulusan yang kompetensinya bisa dibuktikan dan diakui,” ujarnya.»
Pada hari yang sama, tim melanjutkan silaturahmi ke Fakultas Vokasi dan berdiskusi dengan Dr. A. Faidlal Rahman, SE.Par., M.Sc., CHE.
Pembahasan diarahkan pada pengembangan skema sertifikasi bidang vokasi, pariwisata, dan manajemen proyek, sekaligus penguatan program MBKM berbasis industri.
“Kampus Vokasi harus jadi pabriknya SDM siap kerja. Sertifikat BNSP adalah bukti kompetensi yang diakui negara dan industri,” jelas Dr. A. Faidlal Rahman.
Narasumber utama APTAKSINDO menambahkan bahwa konsep tersebut sejalan dengan tujuan program “Dari Munas III ke Kampus”.
«”Kita ingin membangun ekosistem. Ada kampus yang menyiapkan mahasiswa, ada LSP yang melakukan sertifikasi, ada asesor yang memastikan kompetensi, dan ada industri yang menyerap tenaga kerja. Kalau semuanya terhubung, manfaat investasi akan semakin besar dirasakan masyarakat Jawa Timur,” jelasnya.»
APTAKSINDO menegaskan bahwa sertifikasi tidak boleh sekadar menjadi dokumen administratif.
Sertifikasi harus mencerminkan kemampuan nyata seseorang dalam menjalankan pekerjaan sesuai standar kompetensi. Karena itu, keberadaan asesor kompetensi menjadi sangat penting untuk memastikan proses asesmen berlangsung objektif, kredibel, dan sesuai standar.
“Peran asesor sangat strategis. Jangan sampai sertifikat hanya menjadi kertas. Yang paling penting adalah kompetensi orang yang memegang sertifikat itu benar-benar sesuai dengan standar yang dipersyaratkan,” kata narasumber utama.
Penguatan kompetensi tenaga kerja konstruksi sendiri memiliki dasar hukum melalui UU Nomor 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 6 Tahun 2023.
Pelatihan Asesor Digelar Oktober
Sebagai tindak lanjut program, Pelatihan dan Sertifikasi Asesor Kompetensi Jasa Konstruksi, Kelistrikan, dan K3 Konstruksi dijadwalkan berlangsung selama lima hari, 5–9 Oktober 2026 di Surabaya.
Peserta dipersyaratkan memiliki pendidikan minimal S1 Teknik Sipil, SKK aktif, serta membawa laptop.
Biaya kepesertaan sebesar Rp6 juta. Pendaftaran dibuka hingga 5 September 2026.
Informasi pendaftaran dapat menghubungi Tias di nomor 0822 2988 0949 atau Aisyah di nomor 0812 1777 9243.
Narasumber utama APTAKSINDO menegaskan, program tersebut tidak akan berhenti di Malang Raya.
«”Malang adalah salah satu titik awal. Setelah ini kami akan terus bergerak ke berbagai perguruan tinggi, baik PTN maupun PTS di Indonesia. Misinya adalah memperkuat kolaborasi kampus, asosiasi, LSP, dan industri agar semakin banyak lulusan yang kompeten dan bersertifikat,” pungkasnya.»
Melalui gerakan “Dari Munas III ke Kampus”, APTAKSINDO bersama PT ULI dan PT Forjasi berharap investasi yang masuk ke Jawa Timur tidak hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membuka kesempatan lebih luas bagi SDM lokal untuk menjadi pelaku utama pembangunan.
Investasi masuk, SDM lokal harus siap mengambil peran.




Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.