Langsung ke konten
Rabu, 16 September 2026
Headline Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026 
Daerah

Ekspedisi Patriot UB Perkuat Kemandirian Petani Klamono Lewat Bank Benih dan Pengendalian Hama Terpadu

Fakultas Bio Industri Pertanian dan Kehutanan Universitas Brawijaya (FBiPK UB) melalui Tim 5 Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 menggelar Pelatihan Dasar-Dasar

kiri ke kanan: Dr. Rina Rachmawati (Dosen FBiPK), Oktavianus Kolin, Spd.K,.MM. (Kepala Distrik Klamono, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya), Dr. Arif Yustian MN (Dosen FBiPK).

kiri ke kanan: Dr. Rina Rachmawati (Dosen FBiPK), Oktavianus Kolin, Spd.K,.MM. (Kepala Distrik Klamono, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya), Dr. Arif Yustian MN (Dosen FBiPK). (Foto: Humas FBiPK Universitas Brawijaya)

SORONG | JATIMSATUNEWS.COM: Upaya memperkuat kemandirian dan keberlanjutan pertanian di Papua Barat Daya terus dilakukan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat. Fakultas Bio Industri Pertanian dan Kehutanan Universitas Brawijaya (FBiPK UB) melalui Tim 5 Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 menggelar Pelatihan Dasar-Dasar Pembenihan Tanaman dan Pengendalian Hama Terpadu di Kampung Wariyau, Distrik Klamono, Kabupaten Sorong, Senin (14/9/2026).

Kegiatan yang merupakan bagian dari Program Transmigrasi Patriot Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia tersebut diikuti 63 petani dari berbagai kelompok tani di Distrik Klamono.

Pelatihan tidak hanya diarahkan sebagai transfer pengetahuan teknis, tetapi menjadi bagian dari pendampingan jangka panjang untuk membangun Bank Benih Komunitas Klamono–Segun sekaligus memperkenalkan penerapan Integrated Pest Management (IPM) atau Pengendalian Hama Terpadu.

Baca juga: Atasi Kelangkaan BBM, Tim Ekspedisi Patriot UB Kenalkan Kompor Biomassa untuk UMKM Sorong

Baca juga: Komite III DPD RI Dorong Penguatan Perlindungan Konsumen di Sorong, Papua Barat Daya

Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat sistem pertanian yang lebih mandiri, produktif, dan berkelanjutan dengan menempatkan petani sebagai aktor utama dalam pengelolaan sumber daya pertanian.

Menghubungkan Pengetahuan Kampus dengan Kebutuhan Petani

Ekspedisi Patriot merupakan bagian dari Program Transmigrasi Patriot yang melibatkan perguruan tinggi untuk melakukan riset, kajian, sekaligus pendampingan di kawasan transmigrasi.

Melalui program tersebut, pengetahuan akademik diharapkan tidak berhenti di lingkungan kampus, tetapi dapat diterjemahkan menjadi solusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat di lapangan.

Di kawasan Klamono–Segun, Tim 5 Ekspedisi Patriot FBiPK UB memfokuskan pendampingan pada tiga aspek utama, yakni konservasi plasma nutfah lokal, penguatan kapasitas petani, serta pembentukan bank benih komunitas.

Upaya tersebut dilatarbelakangi kebutuhan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengenali, mencatat, menyimpan, memperbanyak, dan memanfaatkan sumber benih secara lebih sistematis.

Pembenihan Jadi Fondasi Kemandirian Petani

Pelatihan dilaksanakan dengan memadukan pembelajaran di dalam kelas dan praktik langsung di lapangan.

Para petani mendapatkan materi mengenai berbagai jenis dan karakteristik benih, pemilihan sumber benih, hingga teknik penyimpanan untuk mempertahankan mutu benih sebelum digunakan kembali pada musim tanam berikutnya.

Peserta juga diajak melakukan praktik ekstraksi benih. Dengan demikian, proses pembelajaran tidak berhenti pada teori, tetapi dilanjutkan dengan keterampilan teknis yang dapat diterapkan secara langsung.

Materi dasar pembenihan disampaikan Farhan Nabil Furqon, S.P., M.P., alumnus Program Magister Pemuliaan Tanaman, Departemen Budidaya Pertanian.

Ia menjelaskan prinsip dasar perbenihan, kualitas benih, serta teknik penanganan dan penyimpanan benih sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian perbenihan di tingkat petani.

Keterampilan tersebut menjadi salah satu fondasi penting dalam pengembangan Bank Benih Komunitas. Petani diharapkan memahami seluruh proses penanganan benih, mulai dari menentukan tanaman sumber hingga penyimpanan.

IPM Dorong Pengendalian Hama Berbasis Ekosistem

Selain pembenihan, peserta mendapatkan materi mengenai Integrated Pest Management (IPM) atau Pengendalian Hama Terpadu dari Dr. Rina Rahmawati dari Departemen Hama dan Penyakit Tanaman.

Pendekatan IPM menekankan bahwa pengelolaan hama tidak semata-mata bergantung pada penggunaan pestisida. Pengendalian dilakukan berdasarkan pengamatan terhadap kondisi tanaman dan pengelolaan agroekosistem secara menyeluruh.

Kombinasi antara penguatan pembenihan dan penerapan IPM dinilai penting karena ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan benih.

Kemampuan petani menjaga kesehatan tanaman, mempertahankan produktivitas lahan, sekaligus mengelola lingkungan pertanian secara berkelanjutan juga menjadi bagian penting dari sistem tersebut.

Petani Milenial Diproyeksikan Jadi Agen Inovasi

Kepala Distrik Klamono, Octavianus Kolin, yang hadir dalam kegiatan tersebut, memberikan apresiasi atas pelaksanaan pelatihan dan tingginya keterlibatan masyarakat.

Ia secara khusus menyoroti potensi petani muda di Klamono yang dinilai dapat menjadi penggerak inovasi pertanian di tingkat lokal.

«“Petani milenial yang ada di sini memiliki potensi untuk menjadi agen inovasi. Karena itu, kegiatan seperti ini perlu terus dilaksanakan secara berkelanjutan dengan melibatkan mereka secara aktif,” ujar Octavianus.»

Menurutnya, keberadaan generasi muda dapat menjadi salah satu kekuatan dalam menjaga keberlanjutan inovasi pertanian.

Keterlibatan mereka diharapkan tidak hanya sebagai peserta, tetapi juga sebagai aktor lokal yang mampu mempelajari, menyesuaikan, dan menyebarluaskan praktik pertanian baru kepada masyarakat.

Belajar dari Persoalan Hama di Lahan Petani

Setelah mendapatkan materi, peserta kemudian melakukan observasi langsung di salah satu lahan pertanian milik Hauzin, petani setempat.

Di lokasi tersebut, peserta mengamati kondisi tanaman, gejala serangan hama dan penyakit, serta lingkungan pertanaman.

Iklan

Hauzin menyampaikan bahwa serangan hama dan penyakit masih menjadi salah satu persoalan yang dihadapi petani. Persoalan tersebut antara lain terjadi pada tanaman hortikultura seperti cabai.

Meskipun penyemprotan pestisida telah dilakukan, dalam kondisi tertentu populasi hama masih dapat bertahan dan berkembang.

Persoalan nyata di lahan petani tersebut kemudian dijadikan bahan pembelajaran dalam penerapan prinsip IPM.

Dr. Rina Rahmawati menjelaskan, ketergantungan terhadap pestisida perlu dikurangi secara bertahap melalui pengelolaan lingkungan pertanian yang dapat mendukung keberadaan musuh alami hama.

«“Kita perlu mulai menghidupkan kembali rantai makanan dan keseimbangan ekosistem di sekitar lahan. Dengan begitu, musuh alami hama dapat hadir dan membantu mengendalikan populasi hama sehingga aktivitas dan biaya penyemprotan kimia secara bertahap dapat dikurangi,” jelas Rina.»

Dalam pendekatan IPM, pengendalian hama ditempatkan sebagai bagian dari pengelolaan agroekosistem.

Pengamatan rutin, konservasi musuh alami, pengelolaan habitat, serta penggunaan pestisida secara lebih selektif menjadi bagian dari strategi untuk menjaga produktivitas pertanian sekaligus menekan risiko ekologis.

Bank Benih Komunitas Bukan Sekadar Tempat Menyimpan Benih

Ketua Tim 5 Ekspedisi Patriot 2026, Dr. Arif Yustian Maulana Noor, S.TP., M.Agr., menjelaskan bahwa pelatihan pembenihan merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan kemandirian petani Klamono.

Menurut Arif, kawasan Klamono memiliki banyak petani potensial yang dapat berkembang sebagai penggerak inovasi. Namun, pengetahuan teknis mengenai perbenihan masih perlu diperkuat.

Di sisi lain, sebagian benih yang digunakan petani masih berasal dari luar Papua.

«“Di Klamono kita melihat banyak petani yang luar biasa dan berpotensi menjadi agen inovasi. Namun, pengetahuan mengenai perbenihan masih perlu terus diperkuat. Di sisi lain, masih banyak benih yang digunakan berasal dari luar Papua,” kata Arif.»

Karena itu, Bank Benih Komunitas Klamono–Segun dirancang bukan sekadar sebagai tempat penyimpanan benih.

«“Target kita bukan sekadar melaksanakan pelatihan. Kita ingin mendampingi petani agar secara bertahap mampu memilih, menghasilkan, menyimpan, mencatat, serta memanfaatkan benih mereka sendiri. Dari proses inilah kemandirian benih mulai kita bangun melalui Bank Benih Komunitas,” lanjutnya.»

Dalam pengembangannya, bank benih komunitas tersebut akan dilengkapi dengan database awal plasma nutfah lokal, buku stok dan kartu identitas benih, SOP konservasi dan pencatatan, peta sumber benih lokal, serta peningkatan kapasitas masyarakat.

Dengan konsep tersebut, bank benih tidak hanya dipandang sebagai fasilitas fisik, tetapi juga sebagai infrastruktur pengetahuan komunitas.

Informasi mengenai asal benih, lokasi sumber, ketersediaan stok, pemanfaatan, hingga status keberadaannya dapat terdokumentasi dan menjadi dasar dalam pengelolaan sumber daya benih di tingkat lokal.

Dari Pelatihan Menuju Ketahanan Pangan Papua Barat Daya

Rangkaian kegiatan di Kampung Wariyau ditutup dengan diskusi setelah peserta melakukan praktik ekstraksi benih serta observasi hama dan penyakit tanaman.

Tim juga melaksanakan pre-test dan post-test untuk melihat perubahan pemahaman peserta setelah mengikuti pelatihan.

Bagi Tim Ekspedisi Patriot FBiPK UB, pendekatan berbasis praktik menjadi penting karena persoalan pertanian memiliki karakter yang sangat kontekstual.

Pengetahuan akademik perlu dipertemukan dengan pengalaman petani, kondisi agroekosistem setempat, serta sumber daya yang tersedia di masyarakat.

Karena itu, kolaborasi antara Kementerian Transmigrasi, FBiPK Universitas Brawijaya, Pemerintah Distrik Klamono, kelompok tani, dan masyarakat diharapkan tidak berhenti pada pelatihan.

Pendampingan tersebut diarahkan untuk berkembang menjadi sistem yang dapat dikelola secara berkelanjutan oleh masyarakat.

Melalui pengembangan Bank Benih Komunitas dan penerapan Integrated Pest Management, Ekspedisi Patriot FBiPK UB mendorong penguatan ketahanan pangan Papua Barat Daya melalui kemandirian benih, konservasi plasma nutfah lokal, pengelolaan hama berbasis ekosistem, serta peningkatan kapasitas petani sebagai aktor utama pembangunan pertanian berkelanjutan.

Langkah tersebut sekaligus menguatkan kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan, khususnya pada aspek ketahanan pangan, konservasi ekosistem daratan, dan penguatan kapasitas masyarakat.

SORONG | JATIMSATUNEWS.COM: Upaya memperkuat kemandirian dan keberlanjutan pertanian di Papua Barat Daya terus dilakukan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat. Fakultas Bio Industri Pertanian dan Kehutanan Universitas Brawijaya (FBiPK UB) melalui Tim 5 Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 menggelar Pelatihan Dasar-Dasar Pembenihan Tanaman dan Pengendalian Hama Terpadu di Kampung Wariyau, Distrik Klamono, Kabupaten Sorong, Senin (14/9/2026).

Kegiatan yang merupakan bagian dari Program Transmigrasi Patriot Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia tersebut diikuti 63 petani dari berbagai kelompok tani di Distrik Klamono.

Pelatihan tidak hanya diarahkan sebagai transfer pengetahuan teknis, tetapi menjadi bagian dari pendampingan jangka panjang untuk membangun Bank Benih Komunitas Klamono–Segun sekaligus memperkenalkan penerapan Integrated Pest Management (IPM) atau Pengendalian Hama Terpadu.

Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat sistem pertanian yang lebih mandiri, produktif, dan berkelanjutan dengan menempatkan petani sebagai aktor utama dalam pengelolaan sumber daya pertanian.

Menghubungkan Pengetahuan Kampus dengan Kebutuhan Petani

Ekspedisi Patriot merupakan bagian dari Program Transmigrasi Patriot yang melibatkan perguruan tinggi untuk melakukan riset, kajian, sekaligus pendampingan di kawasan transmigrasi.

Melalui program tersebut, pengetahuan akademik diharapkan tidak berhenti di lingkungan kampus, tetapi dapat diterjemahkan menjadi solusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat di lapangan.

Iklan

Di kawasan Klamono–Segun, Tim 5 Ekspedisi Patriot FBiPK UB memfokuskan pendampingan pada tiga aspek utama, yakni konservasi plasma nutfah lokal, penguatan kapasitas petani, serta pembentukan bank benih komunitas.

Upaya tersebut dilatarbelakangi kebutuhan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengenali, mencatat, menyimpan, memperbanyak, dan memanfaatkan sumber benih secara lebih sistematis.

Pembenihan Jadi Fondasi Kemandirian Petani

Pelatihan dilaksanakan dengan memadukan pembelajaran di dalam kelas dan praktik langsung di lapangan.

Para petani mendapatkan materi mengenai berbagai jenis dan karakteristik benih, pemilihan sumber benih, hingga teknik penyimpanan untuk mempertahankan mutu benih sebelum digunakan kembali pada musim tanam berikutnya.

Peserta juga diajak melakukan praktik ekstraksi benih. Dengan demikian, proses pembelajaran tidak berhenti pada teori, tetapi dilanjutkan dengan keterampilan teknis yang dapat diterapkan secara langsung.

Materi dasar pembenihan disampaikan Farhan Nabil Furqon, S.P., M.P., alumnus Program Magister Pemuliaan Tanaman, Departemen Budidaya Pertanian.

Ia menjelaskan prinsip dasar perbenihan, kualitas benih, serta teknik penanganan dan penyimpanan benih sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian perbenihan di tingkat petani.

Keterampilan tersebut menjadi salah satu fondasi penting dalam pengembangan Bank Benih Komunitas. Petani diharapkan memahami seluruh proses penanganan benih, mulai dari menentukan tanaman sumber hingga penyimpanan.

IPM Dorong Pengendalian Hama Berbasis Ekosistem

Selain pembenihan, peserta mendapatkan materi mengenai Integrated Pest Management (IPM) atau Pengendalian Hama Terpadu dari Dr. Rina Rahmawati dari Departemen Hama dan Penyakit Tanaman.

Pendekatan IPM menekankan bahwa pengelolaan hama tidak semata-mata bergantung pada penggunaan pestisida. Pengendalian dilakukan berdasarkan pengamatan terhadap kondisi tanaman dan pengelolaan agroekosistem secara menyeluruh.

Kombinasi antara penguatan pembenihan dan penerapan IPM dinilai penting karena ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan benih.

Kemampuan petani menjaga kesehatan tanaman, mempertahankan produktivitas lahan, sekaligus mengelola lingkungan pertanian secara berkelanjutan juga menjadi bagian penting dari sistem tersebut.

Petani Milenial Diproyeksikan Jadi Agen Inovasi

Kepala Distrik Klamono, Octavianus Kolin, yang hadir dalam kegiatan tersebut, memberikan apresiasi atas pelaksanaan pelatihan dan tingginya keterlibatan masyarakat.

Ia secara khusus menyoroti potensi petani muda di Klamono yang dinilai dapat menjadi penggerak inovasi pertanian di tingkat lokal.

«“Petani milenial yang ada di sini memiliki potensi untuk menjadi agen inovasi. Karena itu, kegiatan seperti ini perlu terus dilaksanakan secara berkelanjutan dengan melibatkan mereka secara aktif,” ujar Octavianus.»

Menurutnya, keberadaan generasi muda dapat menjadi salah satu kekuatan dalam menjaga keberlanjutan inovasi pertanian.

Keterlibatan mereka diharapkan tidak hanya sebagai peserta, tetapi juga sebagai aktor lokal yang mampu mempelajari, menyesuaikan, dan menyebarluaskan praktik pertanian baru kepada masyarakat.

Belajar dari Persoalan Hama di Lahan Petani

Setelah mendapatkan materi, peserta kemudian melakukan observasi langsung di salah satu lahan pertanian milik Hauzin, petani setempat.

Di lokasi tersebut, peserta mengamati kondisi tanaman, gejala serangan hama dan penyakit, serta lingkungan pertanaman.

Hauzin menyampaikan bahwa serangan hama dan penyakit masih menjadi salah satu persoalan yang dihadapi petani. Persoalan tersebut antara lain terjadi pada tanaman hortikultura seperti cabai.

Meskipun penyemprotan pestisida telah dilakukan, dalam kondisi tertentu populasi hama masih dapat bertahan dan berkembang.

Persoalan nyata di lahan petani tersebut kemudian dijadikan bahan pembelajaran dalam penerapan prinsip IPM.

Dr. Rina Rahmawati menjelaskan, ketergantungan terhadap pestisida perlu dikurangi secara bertahap melalui pengelolaan lingkungan pertanian yang dapat mendukung keberadaan musuh alami hama.

Iklan

«“Kita perlu mulai menghidupkan kembali rantai makanan dan keseimbangan ekosistem di sekitar lahan. Dengan begitu, musuh alami hama dapat hadir dan membantu mengendalikan populasi hama sehingga aktivitas dan biaya penyemprotan kimia secara bertahap dapat dikurangi,” jelas Rina.»

Dalam pendekatan IPM, pengendalian hama ditempatkan sebagai bagian dari pengelolaan agroekosistem.

Pengamatan rutin, konservasi musuh alami, pengelolaan habitat, serta penggunaan pestisida secara lebih selektif menjadi bagian dari strategi untuk menjaga produktivitas pertanian sekaligus menekan risiko ekologis.

Bank Benih Komunitas Bukan Sekadar Tempat Menyimpan Benih

Ketua Tim 5 Ekspedisi Patriot 2026, Dr. Arif Yustian Maulana Noor, S.TP., M.Agr., menjelaskan bahwa pelatihan pembenihan merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan kemandirian petani Klamono.

Menurut Arif, kawasan Klamono memiliki banyak petani potensial yang dapat berkembang sebagai penggerak inovasi. Namun, pengetahuan teknis mengenai perbenihan masih perlu diperkuat.

Di sisi lain, sebagian benih yang digunakan petani masih berasal dari luar Papua.

«“Di Klamono kita melihat banyak petani yang luar biasa dan berpotensi menjadi agen inovasi. Namun, pengetahuan mengenai perbenihan masih perlu terus diperkuat. Di sisi lain, masih banyak benih yang digunakan berasal dari luar Papua,” kata Arif.»

Karena itu, Bank Benih Komunitas Klamono–Segun dirancang bukan sekadar sebagai tempat penyimpanan benih.

«“Target kita bukan sekadar melaksanakan pelatihan. Kita ingin mendampingi petani agar secara bertahap mampu memilih, menghasilkan, menyimpan, mencatat, serta memanfaatkan benih mereka sendiri. Dari proses inilah kemandirian benih mulai kita bangun melalui Bank Benih Komunitas,” lanjutnya.»

Dalam pengembangannya, bank benih komunitas tersebut akan dilengkapi dengan database awal plasma nutfah lokal, buku stok dan kartu identitas benih, SOP konservasi dan pencatatan, peta sumber benih lokal, serta peningkatan kapasitas masyarakat.

Dengan konsep tersebut, bank benih tidak hanya dipandang sebagai fasilitas fisik, tetapi juga sebagai infrastruktur pengetahuan komunitas.

Informasi mengenai asal benih, lokasi sumber, ketersediaan stok, pemanfaatan, hingga status keberadaannya dapat terdokumentasi dan menjadi dasar dalam pengelolaan sumber daya benih di tingkat lokal.

Dari Pelatihan Menuju Ketahanan Pangan Papua Barat Daya

Rangkaian kegiatan di Kampung Wariyau ditutup dengan diskusi setelah peserta melakukan praktik ekstraksi benih serta observasi hama dan penyakit tanaman.

Tim juga melaksanakan pre-test dan post-test untuk melihat perubahan pemahaman peserta setelah mengikuti pelatihan.

Bagi Tim Ekspedisi Patriot FBiPK UB, pendekatan berbasis praktik menjadi penting karena persoalan pertanian memiliki karakter yang sangat kontekstual.

Pengetahuan akademik perlu dipertemukan dengan pengalaman petani, kondisi agroekosistem setempat, serta sumber daya yang tersedia di masyarakat.

Karena itu, kolaborasi antara Kementerian Transmigrasi, FBiPK Universitas Brawijaya, Pemerintah Distrik Klamono, kelompok tani, dan masyarakat diharapkan tidak berhenti pada pelatihan.

Pendampingan tersebut diarahkan untuk berkembang menjadi sistem yang dapat dikelola secara berkelanjutan oleh masyarakat.

Melalui pengembangan Bank Benih Komunitas dan penerapan Integrated Pest Management, Ekspedisi Patriot FBiPK UB mendorong penguatan ketahanan pangan Papua Barat Daya melalui kemandirian benih, konservasi plasma nutfah lokal, pengelolaan hama berbasis ekosistem, serta peningkatan kapasitas petani sebagai aktor utama pembangunan pertanian berkelanjutan.

Langkah tersebut sekaligus menguatkan kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan, khususnya pada aspek ketahanan pangan, konservasi ekosistem daratan, dan penguatan kapasitas masyarakat.

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.