Langsung ke konten
Jumat, 28 Agustus 2026
Headline Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026 
Nasional

UMKM Ampelgading Makin Digital, KKN 122 UMM Dorong QRIS dan Perencanaan Keuangan

UMKM Ampelgading mendapat pendampingan QRIS dari KKN 122 UMM

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – UMKM Ampelgading mendapat pendampingan dari Kelompok 122 KKN Berdampak 2026 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui program digitalisasi pembayaran menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dan penguatan perencanaan keuangan.

Program yang dilaksanakan pada Agustus 2026 tersebut menyasar pelaku usaha di Desa Ampelgading, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang. Kegiatan menjadi bagian dari program kerja bidang Ekonomi dan Teknologi (EkoTek) KKN 122 UMM untuk membantu pelaku usaha meningkatkan kemampuan dalam memanfaatkan teknologi sekaligus mengelola keuangan secara lebih terstruktur.

Pendampingan dilakukan melalui beberapa kegiatan, mulai dari pendataan pelaku usaha, pendaftaran dan aktivasi QRIS, edukasi penggunaan pembayaran digital, hingga pencantuman lokasi usaha pada Google Maps.

UMKM Ampelgading Mulai Manfaatkan Pembayaran Digital

Salah satu fokus utama program KKN 122 UMM adalah mendorong pelaku UMKM Ampelgading untuk memanfaatkan pembayaran digital melalui QRIS.

Mahasiswa membantu pelaku usaha dalam proses pendaftaran hingga aktivasi QRIS. Setelah aktif, pelaku UMKM dapat menerima pembayaran dari pelanggan secara digital tanpa harus bergantung sepenuhnya pada transaksi menggunakan uang tunai.

Pendampingan tersebut juga disertai edukasi mengenai penggunaan QRIS dalam kegiatan transaksi sehari-hari. Langkah ini diharapkan dapat memberikan alternatif pembayaran bagi konsumen sekaligus mempermudah pelaku usaha dalam melayani pelanggan.

Salah satu pelaku UMKM yang mengikuti kegiatan mengaku terbantu dengan adanya pendampingan tersebut. Menurutnya, pembayaran digital memberikan solusi ketika pelanggan tidak membawa uang tunai.

“Alhamdulillah, saya merasa terbantu sekali. Kadang ada pembeli yang mau beli tapi nggak jadi karena nggak bawa uang tunai. Sekarang sudah ada QRIS, jadi lebih mudah,” ujarnya.

Pemanfaatan QRIS juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan pelaku usaha terhadap ekosistem transaksi digital. Bagi UMKM yang sebelumnya lebih banyak mengandalkan pembayaran tunai, kehadiran metode pembayaran digital dapat menjadi salah satu pilihan dalam meningkatkan kemudahan transaksi.

Baca: Mahasiswa UB Percepat Digitalisasi UMKM Ringinanom Blitar, Kenalkan Canva hingga QRIS

Google Maps Bantu UMKM Ampelgading Lebih Mudah Ditemukan

Digitalisasi yang dilakukan KKN 122 UMM tidak hanya berkaitan dengan sistem pembayaran. Mahasiswa juga membantu melakukan pendataan dan pencantuman lokasi usaha melalui Google Maps.

Pencantuman lokasi tersebut ditujukan agar keberadaan usaha masyarakat lebih mudah ditemukan oleh pelanggan. Informasi lokasi yang tersedia secara digital dapat membantu konsumen mengetahui keberadaan UMKM ketika mencari produk atau usaha di sekitar Desa Ampelgading.

Langkah tersebut menjadi bagian dari penguatan kehadiran digital pelaku usaha. Selain memiliki metode pembayaran digital, pelaku UMKM juga didorong agar lebih mudah ditemukan melalui platform yang digunakan masyarakat dalam mencari lokasi.

Dengan semakin banyaknya aktivitas konsumen yang memanfaatkan teknologi, keberadaan informasi usaha secara digital menjadi salah satu aspek yang dapat diperhatikan pelaku UMKM dalam mengembangkan usahanya.

KKN 122 UMM Dampingi Perencanaan Keuangan UMKM

Selain digitalisasi, KKN 122 UMM memberikan pendampingan mengenai perencanaan keuangan sederhana bagi pelaku usaha.

Materi pendampingan mencakup pencatatan pemasukan dan pengeluaran, pemisahan keuangan pribadi dengan keuangan usaha, perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP), hingga perencanaan keuntungan.

Pencatatan keuangan menjadi salah satu aspek penting dalam pengelolaan usaha karena membantu pelaku UMKM mengetahui arus uang yang masuk dan keluar. Dengan pencatatan yang lebih teratur, pelaku usaha juga dapat memperoleh gambaran mengenai kondisi keuangan usahanya.

Mahasiswa juga memperkenalkan pentingnya memisahkan uang pribadi dan uang usaha. Pemisahan tersebut dapat membantu pelaku UMKM mengetahui berapa dana yang benar-benar digunakan untuk menjalankan kegiatan usaha.

Perhitungan HPP turut diperkenalkan agar pelaku usaha dapat mengetahui biaya yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk. Informasi tersebut dapat menjadi dasar dalam menentukan harga jual dan memperkirakan keuntungan.

Pelaku UMKM yang mengikuti pendampingan mengaku pencatatan keuangan membantunya mengetahui kondisi usaha dengan lebih jelas.

“Terus dengan pembukuan ini kami juga jadi bisa melihat pemasukan, pengeluaran, dan keuntungan jualan, jadi lebih tahu uangnya ke mana saja,” lanjutnya.

Baca: KKN UMM Bantu UMKM Mulyoagung Go Digital

Digitalisasi dan Pengelolaan Keuangan Jadi Bekal UMKM

Kelompok 122 KKN Berdampak 2026 UMM berharap program tersebut dapat memberikan keterampilan praktis yang dapat diterapkan pelaku usaha setelah kegiatan pendampingan selesai.

Digitalisasi pembayaran melalui QRIS diharapkan dapat mempermudah proses transaksi. Sementara pencantuman lokasi melalui Google Maps dapat membantu meningkatkan keterjangkauan informasi mengenai keberadaan usaha masyarakat.

Di sisi lain, pendampingan keuangan diarahkan agar pelaku UMKM memiliki kebiasaan mencatat pemasukan dan pengeluaran serta mampu memperkirakan biaya produksi dan keuntungan usaha.

Kombinasi antara pemanfaatan teknologi dan pengelolaan keuangan tersebut diharapkan dapat memperkuat fondasi usaha masyarakat. Pelaku UMKM tidak hanya didorong untuk mengikuti perkembangan sistem pembayaran digital, tetapi juga memahami aspek dasar pengelolaan bisnis.

Melalui program bidang EkoTek ini, KKN 122 UMM berharap UMKM Ampelgading dapat memanfaatkan teknologi secara lebih optimal, memperluas jangkauan usaha, dan mengelola keuangan dengan lebih teratur.

Pendampingan tersebut diharapkan menjadi langkah awal bagi pelaku usaha untuk mengembangkan bisnis secara lebih adaptif terhadap perubahan perilaku konsumen dan perkembangan ekonomi digital.

(Raf)

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.