Langsung ke konten
Senin, 21 September 2026
Headline Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026 
Daerah

Universitas Brawijaya Kukuhkan Lima Profesor Baru Lintas Disiplin Keilmuan

Universitas Brawijaya resmi mengukuhkan lima profesor baru dari bidang pertanian, teknik material, psikologi kontemplasi, hingga literasi visual dekolonial.

Lima profesor baru Universitas Brawijaya (dari kiri ke kanan: Prof. Edi Dwi Cahyono, Prof. Putu Hadi Setyarini, Prof. Cleoputri Al Yusainy, Prof. Desi Dwi Prianti, dan Prof. Winarto) saat memberikan keterangan pers menjelang prosesi pengukuhan di Gedung Samanta Krida, Malang. (Foto: Istimewa)

Lima profesor baru Universitas Brawijaya (dari kiri ke kanan: Prof. Edi Dwi Cahyono, Prof. Putu Hadi Setyarini, Prof. Cleoputri Al Yusainy, Prof. Desi Dwi Prianti, dan Prof. Winarto) saat memberikan keterangan pers menjelang prosesi pengukuhan di Gedung Samanta Krida, Malang. (Foto: Istimewa)

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Komitmen memperkuat hilirisasi riset dan mutu keilmuan terus dibuktikan Universitas Brawijaya (UB) Malang. Kampus terkemuka di Jawa Timur ini kembali menambah jajaran cendekiawannya dengan mengukuhkan lima guru besar baru secara bersamaan di Gedung Samanta Krida, Selasa (22/9).

Kelima pakar yang resmi dikukuhkan tersebut datang dari beragam latar keilmuan, yakni Prof. Ir. Edi Dwi Cahyono, M.Agr.Sc., M.S., Ph.D. dari Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBIPK); Prof. Dr. Ir. Putu Hadi Setyarini, S.T., M.T. serta Prof. Ir. Winarto, S.T., M.T., Ph.D. dari Fakultas Teknik (FT); serta Prof. Cleoputri Al Yusainy, S.Psi., M.Psi., Ph.D. dan Prof. Dr. Desi Dwi Prianti, S.Sos., M.Comn. dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP).

Baca juga: Pengungsi Anak Berhak Sekolah: Sosialisasi Tim Pengabdian Prodi Hubungan Internasional FISIP Universitas Brawijaya di SMAN 1 Malang

Baca juga: Dari Angka ke Keputusan: FSTeM Universitas Brawijaya Latih Guru dan Siswa Yayasan Hidayah Sumber Putih Olah Data Akademik

Dalam pemaparannya, Prof. Edi Dwi Cahyono menyoroti pentingnya pendekatan humanis terhadap para petani. Ia mengenalkan kerangka kerja model E/D/C-RITA dan COAST Framework untuk memacu kemandirian petani dalam menerapkan inovasi pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Iklan

“Pendekatan kepada petani jangan lagi memakai prinsip dipaksa, terpaksa, lalu terbiasa. Prinsip yang tepat adalah diajak, menimbang, hingga akhirnya memandirikan,” tegas guru besar aktif ke-25 FBIPK sekaligus profesor ke-456 UB tersebut.

Sementara itu, inovasi di sektor keteknikan dihadirkan oleh Prof. Putu Hadi Setyarini melalui perumusan kerangka kerja bertajuk COAT360. Ia menjelaskan bahwa kerangka kerja ini dirancang untuk menyatukan tahapan rekayasa pelapisan dan karakterisasi material fungsional berbasis enam rantai bukti minimum.

Terobosan tersebut diarahkan guna memperluas aplikasi biomaterial medis, pengemasan pangan ramah lingkungan, hingga sistem pencegahan korosi material industri.

Pengembangan teknologi material juga dipertegas oleh Prof. Winarto yang meneliti simulasi dinamika molekul (molecular dynamics). Ia mengungkapkan bahwa pemanfaatan teknologi carbon nanotubes (CNTs) dan membran silikon nitrida terbukti efektif menekan konsumsi energi berlebih pada proses distilasi konvensional, sekaligus menjadi jalan keluar yang efisien untuk pemisahan air-alkohol serta penangkapan emisi karbon dioksida (CO₂).

Tak kalah menyentuh, Prof. Cleoputri Al Yusainy dari ranah psikologi membawa gagasan segar bertajuk “Lebur Duka Labur Rasa”. Melalui konsep berbasis tradisi kontemplasi Timur tersebut, Cleo berupaya membedah ilusi ego, keistimewaan diri, serta kepemilikan semu demi menciptakan ketahanan mental individu yang tangguh dan bugar di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern.

Menutup rangkaian kepakaran baru ini, Prof. Desi Dwi Prianti membongkar fenomena tatanan sosial era digital melalui tawaran Literasi Visual Dekolonial. Pakar media FISIP ini menegaskan bahwa masyarakat saat ini perlu secara kritis menyingkap, melacak, dan melawan hegemoni cara pandang kolonial yang kerap membelenggu representasi tubuh, gender, dan identitas sosial. Menurutnya, pembebasan cara pandang visual ini menjadi pijakan esensial untuk melahirkan ruang publik yang jauh lebih inklusif dan memanusiakan.

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.