Langsung ke konten
Kamis, 27 Agustus 2026
Headline Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026 
Daerah

Riset Dosen UMM: Kualitas Tidur dan Dukungan Keluarga Jadi Kunci Kendalikan Diabetes

Mengelola diabetes ternyata tidak cukup hanya dengan memantau kadar gula darah. Penelitian terbaru dari Dosen Keperawatan

Anggraini Dwi Kurnia, S.Kep., Ns., MNS., PhD., Dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), pencetus program intervensi mandiri berbasis keluarga untuk meningkatkan kualitas tidur dan mengontrol gula darah pasien diabetes melitus tipe 2.

Anggraini Dwi Kurnia, S.Kep., Ns., MNS., PhD., Dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), pencetus program intervensi mandiri berbasis keluarga untuk meningkatkan kualitas tidur dan mengontrol gula darah pasien diabetes melitus tipe 2. (Foto: Humas UMM)

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Mengelola diabetes ternyata tidak cukup hanya dengan memantau kadar gula darah. Penelitian terbaru dari Dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Anggraini Dwi Kurnia, S.Kep., Ns., MNS., PhD., mengungkap bahwa kualitas tidur dan konsistensi dukungan keluarga memegang peranan krusial bagi pasien diabetes melitus tipe 2.

Riset yang dilakukan pada Januari–Mei 2026 ini melibatkan 106 pasien dari sejumlah Puskesmas di Kota Malang. Tingginya angka penderita diabetes di Indonesia—yang menempati posisi kelima dunia menurut International Diabetes Federation (IDF) 2025—menjadi landasan utama penelitian disertasi dengan pendekatan inovatif ini.

Temuan dan Langkah Intervensi Program:

  • Dampak Nokturia: Kadar gula darah tinggi sering memicu nokturia atau kebiasaan buang air kecil di malam hari, yang secara drastis mengganggu jam biologis dan menurunkan kualitas istirahat penderita.
  • Pendekatan Hybrid: Program dijalankan selama empat bulan memadukan tatap muka dan daring, berfokus pada edukasi diabetes, pengelolaan kesehatan mandiri, dan kualitas tidur.
  • Elemen Manajemen Mandiri: Aspek yang dipantau meliputi rutinitas aktivitas fisik, pola makan, pemantauan gula darah, kepatuhan obat, dan perawatan kaki.
  • Pelibatan Aktif Keluarga: Pendampingan tidak hanya menyasar individu, melainkan diperluas melalui kunjungan rumah dan grup WhatsApp keluarga agar pasien memiliki support system yang kuat.
  • Penggunaan Teknologi: Pemantauan tidur dilakukan secara presisi menggunakan perangkat smartwatch dan instrumen Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI).

“Keluarga dilibatkan agar pasien tidak menjalankan pengelolaan diabetes sendirian. Setelah intervensi empat bulan, kami melihat adanya penurunan HbA1c dan peningkatan kualitas tidur yang signifikan,” tegas Anggraini.

Untuk langkah pencegahan bagi masyarakat luas, Anggraini mendorong deteksi dini dan perubahan gaya hidup. Hal ini mencakup aktivitas fisik rutin minimal 150 menit per minggu, serta pembatasan ketat terhadap makanan cepat saji maupun minuman tinggi gula.

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.